Di Honda DBL with Kopi Good Day 2025–2026 East Kalimantan, nama Chelsea Angelina Goey dari SMKN 1 Samarinda dan Ovando Julian Tang dari SMA W.R. Soepratman Samarinda mungkin sekilas terbaca sebagai bagian dari deretan student-athlete yang meramaikan kompetisi. Keduanya datang sebagai pelajar yang juga punya komitmen terhadap olahraga, membagi waktu antara latihan, sekolah, dan pertandingan seperti kebanyakan pemain lainnya.
Tapi ada cerita lain yang ikut terangkat ke permukaan. Bukan soal statistik atau peran di lapangan, melainkan identitas di luar basket yang tak kalah kuat.
DBL Samarinda secara tak langsung mempertemukan publik dengan sisi lain dari Chelsea dan Ovando, dua pelajar yang justru menaruh kecintaan besar pada barongsai. Sebuah seni pertunjukan tradisional Tionghoa dan kini diakui cabang olahraga prestasi, yang mungkin tak lagi dianggap dekat dengan keseharian anak muda.
Padahal, bagi mereka, barongsai bukan sekadar tontonan musiman yang hadir saat Imlek. Ia adalah ruang belajar, ruang disiplin, bahkan ruang kompetisi.
Ovando mulai mendalami barongsai sejak usia 12 tahun, saat duduk kelas 7 SMP. Ketertarikannya sebenarnya sudah muncul lebih awal, namun baru benar-benar terwujud setelah ia diajak oleh saudaranya sendiri untuk bergabung.
“Sejak kecil sudah ingin ikut, tapi waktu itu masih dianggap fisik saya belum cukup,” ceritanya.
Latihannya berlangsung di bawah naungan Vihara Muladharma, menggunakan lapangan basket SMA Budi Bakti sebagai markas. Jadwalnya teratur: Jumat malam dan Minggu siang, dengan tambahan sesi saat mendekati pertunjukan atau pertandingan.
Ovando bukan hanya memerankan satu sosok dalam tim.
Ia terbiasa memainkan simbal, bagian depan barongsai, hingga berbagai posisi dalam naga, kecuali kepala dan ekor yang membutuhkan tenaga ekstra. Namun ketika masuk kompetisi, ia punya spesialisasi.
“Kalau tanding, saya biasanya di badan naga nomor tujuh. Gerakannya banyak tantangan, dan saya suka itu," tuturnya.
Ovando, paling kanan barisan depan, bersama tim barongsainya.
Keahlian Ovando di berbagai peran barongsai menunjukkan kecintaannya pada olahraga ini. Baginya, barongsai bukan hanya soal tradisi. Ia melihatnya sebagai seni yang hidup, yang bisa hadir dalam banyak bentuk perayaan: pembukaan usaha, acara keagamaan, hingga ulang tahun. Menemani momen-momen tertentu bagi banyak orang.
Lebih dari itu, ia menekankan bahwa barongsai tidak eksklusif. Ia ingin anak muda lebih banyak mendalami kegiatan ini. “Barongsai itu universal. Semua orang bisa belajar, tidak harus dari etnis tertentu," tambahnya.
Ia juga melihat potensi prestasi yang kini semakin nyata, terutama setelah barongsai dipertandingkan sebagai cabang resmi di PON Aceh 2024. Meski demikian, ia mengakui bahwa jumlah anak muda di Samarinda yang menekuni barongsai masih terbatas.
Cerita Chelsea datang dari arah yang berbeda. Lebih musikal.
Ia pertama kali jatuh hati pada barongsai saat berusia sembilan tahun, ketika sering menyaksikan pertunjukan. Ia sempat berhenti di usia sebelas, sebelum akhirnya kembali pada usia 15 tahun dengan pendekatan yang lebih serius.
Jika Ovando banyak berperan dalam gerak, Chelsea justru menemukan perannya di balik irama.
Dalam tim, ia mengisi bagian musik, elemen yang menentukan ritme dan emosi pertunjukan. Ia memainkan berbagai instrumen: tambur, simbal, hingga kenong
“Barongsai itu keren dan asyik, apalagi sambil mengiringi musiknya,” katanya.
Chelsea, tiga dari kiri baris belakang, saat bersama tim barongsainya.
Awalnya butuh waktu tersendiri untuk mengenal olahraga ini. Sekitar tiga hingga empat bulan hingga benar-benar terbiasa. Kini, ia tampil di berbagai kesempatan, mulai dari pembukaan toko hingga pernikahan.
Chelsea juga melihat pentingnya regenerasi. Ia ingin banyak generasi muda Indonesia mengenal olahraga. Ia juga mengaku senang, ketika di tempat ia berlatih, banyak anak yang sudah mulai sejak SD berlatih barongsai. “Supaya tetap ada penerus dan budaya barongsai tidak tenggelam," katanya.
Keseriusannya terlihat dari deretan prestasi: Ia pernah menjuarai KHT Cup IV 2024, Kejuprov FOBI Kaltim 2025, Kejurnas Barongsai 2025.
Pilihan Chelsea dan Ovando untuk tetap menekuni barongsai terasa seperti pernyataan diam bahwa tradisi tidak harus bertentangan dengan modernitas. Mereka tetap bermain basket. Tetap menjadi bagian dari kompetisi yang identik dengan semangat generasi muda hari ini.
Namun di luar lapangan, mereka juga menjaga dentuman tambur, gemerincing simbal, dan gerak naga tetap hidup. Di momen Imlek seperti sekarang, kisah mereka menjadi pengingat sederhana: bahwa budaya tidak selalu bertahan karena diwariskan, kadang ia bertahan karena dipilih. (*)