Suara suporter SMAN 1 Pacet menggema di DBL Arena Surabaya. Di tengah barisan siswa yang bernyanyi dan mengikuti arahan capo, seorang guru ikut berdiri. Tepuk tangan, nyanyian, hingga gerakan koreografi tak luput diikuti.

Sesekali, ia bahkan melompat ketika pemain SMAN 1 Pacet memasukkan bola. Usianya 56 tahun, tetapi semangatnya di tribun tak kalah dari anak-anak yang berdiri di sekelilingnya.

Guru tersebut adalah Rita Lestari, guru sejarah SMAN 1 Pacet. Pada permainan kedua Honda DBL with Kopi Good Day 2026 East Java-North, Jumat, 14 Agustus 2026, Bu Rita datang bukan sekadar untuk menyaksikan anak didiknya bertanding.

Baca juga: Nonton DBL East Java-North Pertama Kali, Winda Kagum dengan Atmosfernya

Ia ingin anak-anak tahu bahwa ada orang-orang di belakang mereka yang ikut percaya pada perjuangan yang sedang dijalani.

“Biar mengajak anak-anak tetap mencintai nama almamaternya,” ujar Bu Rita.

Karena itu, Bu Rita memilih berdiri bersama para siswa. Ia mengikuti arahan capo, bernyanyi, bertepuk tangan, hingga ikut bergerak dalam koreografi. Ketika pemain Smansapa masuk ke lapangan, perhatiannya pun ikut berpindah ke sana.

“Saya semakin tegang kalau lihat pemainnya masukin. Saya selalu loncat-loncat biar dilihat anak-anak,” tuturnya.

Bukan hanya Bu Rita yang datang. Puluhan guru SMAN 1 Pacet turut memenuhi tribun. Ada wali kelas dan pembina ekstrakurikuler yang berdiri bersama siswa, ikut memberikan suara sepanjang pertandingan.

Guru SMAN 1 Pacet bersorak bersama suporter saat mendukung tim basket SMAN 1 Pacet di DBL Arena Surabaya.

Bagi Bu Rita, kehadiran para guru menjadi bagian dari cara sekolah menunjukkan dukungannya. Anak-anak tidak hanya diminta membawa nama almamater ketika bertanding, tetapi juga diajak memahami bagaimana seharusnya membawa diri ketika berada di luar sekolah.

“Di manapun kita datang, kita harus tetap menjaga adab. Karena kita tamu. Harus jaga nama baik kita sebagai tamu,” katanya.

Baca juga: "Pemain Ketujuh" SMALA, Guru dan Kepsek Kawal Putra-Putri Menang

Dukungan tersebut bahkan telah dimulai sebelum mereka tiba di DBL Arena. Dari SMAN 1 Pacet yang berada di kawasan pegunungan, rombongan harus menempuh perjalanan sekitar dua jam menuju Surabaya.

Sesampainya di venue, anak-anak terlebih dahulu dikumpulkan dan mendapat briefing sebelum masuk ke area pertandingan. Perjalanan panjang itu kemudian berujung pada satu pemandangan barisan siswa dan guru memenuhi tribun untuk mengawal Smansapa.

Bagi Bu Rita, jarak tersebut justru menjadi bagian dari cerita perjuangan mereka. SMAN 1 Pacet mungkin berada jauh dari pusat kota, tetapi anak-anaknya tetap memiliki ruang untuk bermimpi dan menunjukkan kemampuan.

Semangat itu sejalan dengan tema Home of The Dreamers yang diusung Honda DBL with Kopi Good Day 2026 East Java-North. Bagi anak-anak Smansapa, panggung DBL menjadi kesempatan untuk membuktikan bahwa sekolah yang berada di kawasan pegunungan pun mampu mengejar prestasi.

“Yang pasti mereka itu menginginkan prestasi, pengakuan dari lingkungan sekitar bahwa SMAN 1 Pacet itu bisa meskipun lokasinya di pegunungan,” ujar Bu Rita.

Hari itu, perjuangan tersebut mendapatkan hasil. Tim putra Smansapa berhasil meraih kemenangan atas SMAN 1 Gedangan. Namun, bagi Bu Rita, kemenangan hanya menjadi satu bagian dari perjalanan yang masih panjang.

Sebagian pemain kelas XII mulai mengurangi aktivitas karena harus mempersiapkan ujian. Di saat yang sama, proses regenerasi mulai berjalan. Pemain yang lebih senior perlahan menyiapkan adik-adiknya untuk meneruskan perjuangan.

“Mereka mulai mengkader adik-adiknya. Dukungan itu tetap kita kasihkan ke mereka biar tetap semangat,” tutur Bu Rita.

Baca juga: Ahmad Musyafiq, Wakasek SMAN 6 Surabaya Tak Pernah Absen di DBL Arena

Dukungan itu pula yang membuat Bu Rita ingin terus hadir ketika kesempatan memungkinkan. Namun, pertandingan berikutnya berpotensi berlangsung pada jam belajar. Kali ini, ia mungkin tidak bisa kembali berdiri di tribun bersama anak-anak.

Bukan berarti doanya ikut berhenti.

“Maaf ya, tidak ikut, tapi doa ibu selalu bersama kalian,” ucapnya.

Kalimat itu menjadi gambaran sederhana tentang bagaimana Bu Rita memandang perannya sebagai guru. Ia tidak perlu berada di lapangan untuk ikut menjadi bagian dari perjuangan anak-anak.

Cukup dengan berdiri di tribun, menyanyikan anthem yang mereka hafal bersama, mengikuti arahan capo, lalu melompat ketika bola masuk ke ring.

Hari itu, Smansapa tidak datang sendirian ke DBL Arena. Ada siswa yang mengisi tribun dengan suara, ada guru yang ikut larut di dalamnya, dan ada mimpi yang mereka bawa bersama dari Pacet.

Sebab bagi anak-anak Smansapa, DBL Arena bukan sekadar tempat bertanding. Di sanalah mereka menunjukkan bahwa mimpi dari sekolah di kawasan pegunungan pun layak diperjuangkan.

Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 siap mengguncang 31 kota di 22 provinsi se-Indonesia. Seperti musim sebelumnya, DBL Indonesia akan menjaring para student-athlete terbaik dari setiap kota untuk memperebutkan tiket DBL Indonesia All-Star melalui program DBL Camp.

Tak kalah seru, Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 juga menghadirkan AZA 3X3 Competition serta AQUA DBL Dance 2026-2027 dengan mengusung tema "100% Indonesia". Seluruh keseruan pertandingan bisa disaksikan secara langsung di kanal YouTube DBL Play, serta di YouTube Good Day ID khusus untuk laga final. (*)

Profil sekolah ini bisa dilihat pada halaman di bawah ini (pengguna Android bisa melakukan scroll dengan double tap).

Populer

Hasil DBL North Jakarta: Semifinalis Baru Siap Ramaikan Fantastic Four!
Hasil DBL East Java-South: Smaga Masih Tangguh, Smanela Hampir Tumbang
Jadwal dan Link Live Streaming DBL East Java-South, Sabtu, 15 Agustus 2026
Jadwal dan Link Live Streaming DBL West Sumatra, Sabtu, 15 Agustus 2026
Gugup di Debut, Sekar Putri Antar Smanda Raih Kemenangan Perdana!