Malang adalah kota yang akrab dengan rivalitas. Kultur suporternya tumbuh panjang bersama gemuruh tribun, identitas kelompok, dan fanatisme yang diwariskan lintas generasi.
Namun, beberapa tahun terakhir juga membuat wajah suporter Malang tak lepas dari stigma. Tragedi Kanjuruhan menjadi titik pahit yang mengubah cara publik memandang kultur tribun di kota ini.
Di tengah ingatan dan stigma itu, ada pemandangan lain yang tumbuh di basket. Di liga basket pelajar: DBL.
Di liga DBL, generasi pelajar Malang sukses menunjukkan bahwa rivalitas tidak harus berujung pada permusuhan.
Lewat tribun Honda DBL with Kopi Good Day 2026 East Java-South (DBL Malang), fanatisme menemukan bentuk yang berbeda: tetap riuh, tetap penuh gengsi, tetapi hadir melalui kreativitas, sportivitas, dan rasa saling menghormati.
Ada drum yang bertalu, chant yang bersahutan, bendera raksasa yang berkibar, hingga koreografi yang memenuhi tribun. Semuanya menjadi bagian dari perayaan rivalitas. Bukan untuk menjatuhkan lawan, melainkan untuk menunjukkan kebanggaan terhadap sekolah masing-masing.
Panggung DBL East Java-South membuktikan satu hal. Rivalitas basket pelajar di wilayah Malang tak pernah menanggalkan nilai-nilai kemanusiaan dan rasa saling menghargai.
Sejak digelar di GOR Bimasakti, hingga kini berpindah ke GOR Ken Arok, venue-venue itu bukan lagi sekadar arena adu gengsi, melainkan ruang inklusif yang ramah bagi siapa saja.
Baca Juga: Luna Armata: Kiper Hockey Andalan Kota Malang, Juga Personel Mouster Moiselle
Tak peduli tua, muda, datang mendukung kawan atau sekadar menonton lawan, atmosfer kompetisi ini menjadi panggung yang aman dan terbuka.
Kehangatan ini bahkan meluas hingga ke luar daerah. Rombongan suporter yang menempuh perjalanan jauh dari luar kota seperti Pasuruan hingga Blitar selalu disambut dengan tangan terbuka oleh tuan rumah.
Di sini, batas-batas persaingan runtuh begitu peluit tanda berakhirnya pertandingan dibunyikan!
Padahal, sepanjang pertandingan berlangsung, keseruan di tribun menyuguhkan atraksi yang memanjakan mata dan telinga.
Ada adu kehebatan perkusi antarkubu suporter. Tapi itu bukan hadir sebagai ajang provokasi, melainkan adu kreativitas yang menghidupkan suasana.
Aksi perkusi dari salah satu suporter SMAN 5 Malang
Ada adu gemuruh tabuhan drum, lambaian bendera raksasa, dan alunan chant yang bersahut-sahutan. Semua itu menciptakan perpaduan indah yang khas.
Kreativitas tersebut kian lengkap dengan sajian koreo yang hampir dimiliki oleh setiap kelompok suporter.
Lembaran koreo raksasa yang dibentangkan di sudut tribun murni dihadirkan sebagai pameran seni dari masing-masing sekolah. Tanpa ada sedikit pun intensi sindiran atau provokasi!
Baca Juga: Saat Tribun Jadi Ruang Belajar Terbuka, Guru Sabhatansa Merapat di GOR Ken Arok
Puncak dari semua itu sebenarnya terjadi begitu peluit panjang berbunyi. Gestur-gestur para suporter langsung berubah menjadi sportivitas. Tak ada jarak antara kubu menang maupun kalah.
Mereka saling melempar chant. Bertukar apresiasi lewat tepuk tangan hingga aksi melambaikan tangan setelah semua rangkaian pertandingan selesai.
Suporter SMAN 8 Malang sedang menyanyikan chant
Tidak berhenti sampai di situ. Ketika lagu anthem kebanggaan salah satu sekolah dikumandangkan, kubu lawan dengan penuh kesadaran memberikan ruang khidmat.
Mereka ikut berdiri tegak, menghentikan chant, dan menyimak lagu almamater rival dengan rasa hormat. Sebuah tradisi tidak tertulis yang menegaskan bahwa di atas skor pertandingan, ada nilai sportivitas dan rasa saling menghormati yang perlu dijunjung tinggi.
Itulah pemandangan khas yang selalu menghangatkan tribun DBL East Java-South. Pemandangan yang terasa semakin bermakna di tengah semarak perayaan kemerdekaan Indonesia, ketika menjaga persatuan menjadi semakin penting di tengah masyarakat yang belakangan begitu mudah terbelah oleh perbedaan dan berbagai kepentingan.
Baca Juga: Rayakan Ultah Sekolah ke-20, Smabulboys Rawat Mimpi Bisa Away Days ke Surabaya
Atmosfer suporter DBL East Java-South memberi pelajaran berharga tentang bagaimana merawat rivalitas secara sehat. Bahwa merayakan kemenangan tak perlu dengan menjatuhkan, dan menerima kekalahan bisa dilakukan dengan kepala tegak.
Semangat itulah yang terus dilestarikan para suporter sekolah di DBL East Java-South musim ini. Salah satu wujudnya terlihat lewat sederet koreografi kreatif yang menghiasi tribun GOR Ken Arok. Berikut beberapa karya mereka:
Koreo SMAN 6 Malang
SMK Telkom Malang
Koreo MAN 2 Malang
Koreo SMAN 3 Malang
Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 siap mengguncang 31 kota di 22 provinsi se-Indonesia. Seperti musim sebelumnya, DBL Indonesia akan menjaring para student-athlete terbaik dari setiap kota untuk memperebutkan tiket DBL Indonesia All-Star melalui program DBL Camp.
Tak kalah seru, Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 juga menghadirkan AZA 3X3 Competition serta AQUA DBL Dance 2026-2027 dengan mengusung tema "100% Indonesia".
Seluruh keseruan pertandingan bisa disaksikan secara langsung di kanal YouTube DBL Play, serta di YouTube Good Day ID khusus untuk laga final. (*)