Menjadi satu-satunya perempuan di bangku pelatih tim putra bukan perkara mudah. Hal itu dirasakan Lidya Kusuma Ramadhani, pelatih yang dipercaya menangani skuad putra First, julukan tim basket SMAN 1 Mojokerto sejak 2024.
Tak hanya tim putra, Lidya juga dipercaya menangani tim putri First sejak 2025. Dua pengalaman tersebut membuatnya merasakan perbedaan dalam membangun kedekatan dengan pemain.
Menurut Lidya, komunikasi dengan pemain putri cenderung lebih mengalir karena mereka bisa membicarakan banyak hal sebagai sesama perempuan. Sementara bersama tim putra, ia sempat merasakan adanya jarak.
“Kalau cowok itu kebanyakan masih sungkan. Misalnya mau curhat atau membahas sesuatu untuk membangun tim, mereka masih segan karena saya perempuan,” ungkap pelatih yang akrab disapa coach Lidya itu.
Baca juga: Keterpurukan Kratos Jadi Awal dari Kebangkitan untuk Sixteenagers
Keraguan itu juga sempat muncul dari dalam dirinya sendiri. Lidya mengaku pernah mempertanyakan apakah dirinya mampu menangani tim putra. Apalagi, di lingkungan basket Mojokerto, pelatih laki-laki masih lebih umum menangani tim putra.
“Saya merasa tertantang. Saya harus menunjukkan bahwa perempuan juga bisa meng-handle tim putra,” ujarnya.
Namun, tantangan terbesarnya bukan soal memberikan materi basket. Lidya justru harus membangun trust (kepercayaan) dari para pemain.
Di awal kepemimpinannya, Lidya merasa pemain lebih banyak bercanda ketika dirinya memimpin latihan dibandingkan saat coach laki-laki yang menangani tim. Situasi itu sempat membuatnya bertanya-tanya apakah dirinya sudah cukup dipercaya sebagai pelatih.
Lidya kemudian memilih membuka ruang komunikasi dengan para pemain.
“Sampai akhirnya saya mengajak mereka bertemu. Saya bilang, ‘Kalau aku ada kurang, bilang. Kalau kalian ada sesuatu, aku juga bilang.’ Jadi kami saling mengoreksi,” ceritanya.
Baca juga: Ikut Pegang Kuas, Pak Fikri Bantu Roodwartz Mania Bikin Koreo
Dari percakapan tersebut, hubungan Lidya dengan para pemain perlahan berubah. Kepercayaan dibangun sedikit demi sedikit, bahkan dari hal sederhana seperti bercanda bersama.
“Mulai pelan-pelan membangun trust, dari satu individu ke individu yang lain,” tambahnya.
Perjalanan Lidya bersama tim putra First juga masih berlanjut hingga musim ini. Komposisi First kali ini didominasi pemain kelas X. Menurut Lidya, beberapa pemain masih membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan atmosfer pertandingan, khususnya di Honda DBL with Kopi Good Day 2026 East Java-North.
Ia melihat kemampuan para pemain sebenarnya cukup baik. Hanya saja, demam panggung terkadang membuat mereka belum mampu mengeluarkan kemampuan terbaik di lapangan.
Namun, di laga yang berlangsung pada hari Senin (17/8/2026), First mampu menunjukkan perkembangan tersebut. SMAN 1 Mojokerto berhasil mengalahkan SMKN 7 Surabaya dengan skor 23-16.
Di balik kemenangan itu, Lidya juga membawa perspektif berbeda tentang momentum kemerdekaan yang bertepatan dengan laga First.
Menurutnya, kemerdekaan bagi seorang pelatih basket perempuan bukan hanya soal kesempatan untuk berdiri di pinggir lapangan. Lebih dari itu, kemerdekaan berarti mendapatkan ruang yang sama untuk menunjukkan kemampuan.
“Mungkin salah satu bentuk kemerdekaan dari DBL adalah bisa membuat panggung yang besar untuk coach perempuan seperti saya. Dari Malang juga ada Coach Mey (Putridiana). Jadi mereka mendapatkan spotlight. Tidak melulu coach laki-laki,” jelas Lidya.
Baca juga: Kaos Kelas Lama Jadi Cara Teman-Teman Jovina Beri Dukungan
Bagi Lidya, kesetaraan menjadi bagian penting dari makna kemerdekaan. Ia ingin perempuan tidak dinilai dari gendernya, melainkan dari kemampuan yang dimiliki.
“Kalau definisi kemerdekaan sendiri, menurut saya adalah tidak memandang gender. Kita semua disamakan, saling respect satu sama lain, dan melihat seseorang dari kelebihannya, bukan kekurangannya,” tegasnya.
Kini, Lidya tak lagi hanya berusaha membuktikan bahwa dirinya mampu melatih tim putra. Ia ingin First tampil lebih berani, tegas, dan bertanggung jawab hingga detik terakhir pertandingan.
“Setiap menit sampai peluit kuarter empat berakhir mereka harus tanggung jawab. Harus hustle, harus keras. Karena kita dari Kota Mojokerto sudah jauh ke sini. Kalau tidak menunjukkan apa yang kita punya, buat apa?” pungkas Lidya.
Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 siap mengguncang 31 kota di 22 provinsi se-Indonesia. Seperti musim sebelumnya, DBL Indonesia akan menjaring para student-athlete terbaik dari setiap kota untuk memperebutkan tiket DBL Indonesia All-Star melalui program DBL Camp.
Tak kalah seru, Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 juga menghadirkan AZA 3X3 Competition serta AQUA DBL Dance 2026-2027 dengan mengusung tema "100% Indonesia". Seluruh keseruan pertandingan bisa disaksikan secara langsung di kanal YouTube DBL Play, serta di YouTube Good Day ID khusus untuk laga final. (*)
Profil pelatih ini bisa dilihat pada halaman di bawah ini (pengguna Android bisa melakukan scroll dengan double tap)