Perubahan besar sedang terjadi di tubuh SMAN 13 Surabaya (Thirteen) dalam beberapa musim terakhir. Sekolah yang sebelumnya identik sebagai penghuni first round Honda DBL with Kopi Good Day East Java-North itu kini mulai berani memasang target lebih tinggi.
Musim lalu menjadi salah satu titik balik. Thirteen berhasil menembus Round 2 Honda DBL with Kopi Good Day 2025 East Java-North. Pencapaian tersebut terasa spesial mengingat perjalanan mereka pada musim-musim sebelumnya yang selalu berakhir di Round 1.
Kini, Thirteen kembali menunjukkan perkembangan tersebut. Pada Honda DBL with Kopi Good Day 2026 East Java-North, mereka membuka perjalanan dengan dua kemenangan meyakinkan. SMAN 13 Surabaya mengalahkan SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo dengan skor 38-11, sebelum kembali menang telak atas SMA Santa Agnes Surabaya 52-5.
Di balik perkembangan tersebut, ada sosok Ricky Hendra Susanto.
Baca Juga: Thirteen Rangers, Merancang Koreo yang Berbeda dari Setiap Sudut Pandang
Coach Hendra, begitu ia biasa disapa, merupakan orang yang telah mendampingi Thirteen selama tiga tahun terakhir. Ia menjadi bagian dari proses panjang tim untuk perlahan mengubah kebiasaan lama mereka di DBL.
Coach Hendra tidak datang dengan target instan. Sejak awal, ia memilih membangun Thirteen dari fondasi paling dasar.
“Kalau saya melatih, saya membentuk basic-nya sebenarnya. Basic-nya dulu,” ujar Coach Hendra.
Salah satu hal yang menjadi perhatiannya adalah kemampuan fundamental para pemain. Bahkan, tangan kiri menjadi salah satu bagian yang ia prioritaskan sejak pemain bergabung.
“Awal anak-anak masuk itu yang saya lihat harus tangan kirinya dulu. Jadi layup kiri, dribble kiri saya matangkan dulu, bukan tangan kanannya dulu,” lanjutnya.
Proses tersebut tentu tidak selalu mudah. Coach Hendra harus berhadapan dengan berbagai aktivitas para pemain di luar basket. Para pemain Thirteen tetap dituntut untuk menjaga prestasi akademik, mengikuti les, hingga mempersiapkan berbagai kebutuhan sekolah.
Menurut Coach Hendra, mempertahankan pemain agar tetap konsisten berlatih justru menjadi salah satu tantangan terbesarnya.
“Latihan saya keras, dan anak-anak ini kegiatannya banyak sekali. Mereka les, mereka juga saya tuntut mengutamakan akademik. Untuk masuk tim, rapornya harus bagus,” jelasnya.
Baginya, basket tidak boleh mengorbankan pendidikan. Sama seperti semangat yang dibawa DBL: Student-Athlete. Tidak boleh ada pemain yang tidak naik kelas untuk ikut DBL. Karena itu, ia berusaha menyeimbangkan perkembangan non-akademik dengan akademik para pemain.
Kesabaran dalam proses itulah yang perlahan membuahkan hasil. Pada musim 2024, Thirteen masih harus mengakhiri perjalanan di babak pertama. Namun setahun berselang, mereka mampu melangkah lebih jauh hingga Round 2.
Coach Hendra menjadi salah satu saksi perkembangan tersebut selama tiga tahun berada di SMAN 13 Surabaya.
Menariknya, perjalanan Coach Hendra sebagai pelatih sendiri dimulai jauh sebelum ia bergabung dengan Thirteen. Ia mulai mengenal dunia kepelatihan ketika masih duduk di bangku SMA Santo Yoseph Denpasar (Sanjose), Bali.
“Sejak 2012, waktu saya masih SMA. Saya di Bali, sudah jadi asisten coach pada saat SMA,” ungkapnya.
Baca Juga: Kemenangan Thirteen Ditemani Sosok yang Selalu Hadir untuk Anak-anaknya
Di saat yang bersamaan, ia juga memperkuat Sanjose dan membawa timnya menembus Fantastic Four. Ia kemudian mengambil lisensi kepelatihan setelah lulus SMA pada 2015.
Meski menghabiskan masa SMA di Bali, Coach Hendra sebenarnya merupakan putra asli Surabaya. Ia memilih merantau ke Bali setelah tidak mendapatkan izin untuk bersekolah di Surabaya.
Pengalaman sebagai pemain dan pelatih sejak usia muda tersebut kemudian ia bawa ke Thirteen. Tiga tahun terakhir menjadi perjalanan membangun sebuah tim dengan karakter yang ia inginkan.
Musim ini, targetnya pun mulai dinaikkan. Jika sebelumnya Round 2 sudah terasa sebagai pencapaian besar, kini Coach Hendra ingin membawa Thirteen melangkah hingga playoff.
“Saya ingin playoff,” tegasnya.
Target tersebut bukan tanpa tantangan. Salah satu laga yang ia soroti adalah pertemuan melawan SMAN 6 Surabaya. Dalam dua tahun terakhir, Thirteen memang kerap berhadapan dengan lawan tersebut dalam agenda sparring. Hasilnya, Thirteen selalu menelan kekalahan.
Kini, Coach Hendra ingin menjadikan pertemuan berikutnya sebagai kesempatan untuk memutus catatan tersebut.
“Selama dua tahun itu kita memang kalah. Laga besok ini kita mau memecahkan kekalahan itu,” ujarnya.
Bagi Coach Hendra, kemenangan atas tim yang lebih diunggulkan juga bisa menjadi momentum besar bagi para pemain Thirteen.
“Kalau kita bisa menang, otomatis namanya Thirteen yang punya image 'sekolah pinggiran' bisa ditinggalkan. Jadi anak-anak pun nama-namanya bisa didengar sama yang lain,” katanya.
Namun Coach Hendra tidak ingin dua kemenangan awal membuat timnya terlena. Ia masih melihat banyak hal yang harus diperbaiki dari permainan Thirteen, mulai dari free throw, three point, hingga turnover.
“Lawan hari ini memang kita anggap bisa kit lewati, tapi membayangkan lawan yang mudah kita lewati saja kita masih punya turnover tujuh. Menurut saya itu sangat fatal. Harusnya turnover kita di bawah lima,” jelasnya.
Di luar target musim ini, Coach Hendra juga telah memikirkan masa depan Thirteen. Regenerasi menjadi bagian dari rencana panjangnya.
Ia bahkan mengaku telah mempersiapkan pemain-pemain sejak jenjang SMP. Bagi Coach Hendra, proses membentuk pemain memang membutuhkan waktu dan kesabaran.
“Saya memang sudah membentuk, saya punya tujuan. Yang ikut saya dari SMP ini nanti akan punya target di kelas dua, kelas tiga. Targetmu itu akan terbayar,” tuturnya.
Target tersebut kini mulai terlihat hasilnya. Thirteen yang dulu selalu terhenti di babak pertama sudah berhasil menembus Round 2. Musim ini, mereka bahkan membuka perjalanan dengan dua kemenangan meyakinkan.
Namun perjalanan belum selesai.
Coach Hendra sadar, generasi Thirteen saat ini masih harus terus berkembang. Ia bahkan sudah menyiapkan proses pembangunan ulang untuk musim berikutnya, terutama karena komposisi pemain kelas 11 yang dimilikinya saat ini cukup terbatas.
“Kalau untuk tahun depan, jujur saya buang setahun. Saya fokuskan anak-anak yang sekarang kelas 10, basic dulu lagi,” ungkapnya.
Setelah fondasi kembali terbentuk, ia berencana memanggil lagi pemain-pemain dari jenjang SMP untuk disiapkan sebagai generasi berikutnya.
Karena bagi Coach Hendra, membangun Thirteen bukan tentang satu musim. Ini adalah proses panjang untuk menciptakan generasi demi generasi yang mampu membawa nama SMAN 13 Surabaya semakin jauh di panggung DBL.
Dan musim ini, proses panjang itu kembali mendapatkan ujian. Dua kemenangan sudah dikantongi. Target playoff telah dipasang.
Kini, tinggal melihat sejauh apa Thirteen mampu melangkah.
Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 siap mengguncang 31 kota di 22 provinsi se-Indonesia. Seperti musim sebelumnya, DBL Indonesia akan menjaring para student-athlete terbaik dari setiap kota untuk memperebutkan tiket DBL Indonesia All-Star melalui program DBL Camp.
Tak kalah seru, Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 juga menghadirkan AZA 3X3 Competition serta AQUA DBL Dance 2026-2027 dengan mengusung tema "100% Indonesia". Seluruh keseruan pertandingan bisa disaksikan secara langsung di kanal YouTube DBL Play, serta di YouTube Good Day ID khusus untuk laga final. (*)