Dulu Harus Netral, Kini Damas Berpihak untuk Smansa

| Penulis : 

Delapan tahun lalu, Damas Adietama berdiri di tengah lapangan dengan peluit di tangan. Tatapannya tertuju pada dua tim yang sedang bertanding. Saat itu, ia tidak punya kepentingan untuk memenangkan salah satunya. Tugasnya hanya satu, memastikan pertandingan berjalan sesuai aturan.

Momen itu terjadi ketika Damas dipercaya memimpin final Junior Basketball League (JRBL) pada 2018 di Surabaya. Dengan lisensi wasit yang saat itu masih tergolong dasar di Jawa Timur, kesempatan meniup peluit di partai puncak menjadi salah satu pengalaman paling berkesan dalam perjalanan basketnya.

“Memimpin final JRBL antara NSA lawan SMPN 22 Surabaya itu yang paling berkesan buat saya. Waktu itu lisensi saya masih yang hitungannya dasar di Jawa Timur, tapi dapat kesempatan meniup sebagai wasit final. Itu prestasi buat saya,” tutur Damas.

Kala itu, Damas bahkan menuliskan pengalamannya tersebut di media sosial. Ia menyebut kesempatan bertugas di event pelajar terbesar se-Indonesia sebagai pengalaman yang amat berharga.

Namun, Damas tidak menyangka bahwa beberapa tahun setelahnya ia akan kembali ke panggung yang sama dengan identitas berbeda.

Baca juga: Bujang Ganong dalam Balutan Modern, Cara ONSPOTS Kenalkan Budaya ke Gen Z di DBL

Perjalanan Damas justru berbelok ke sisi lain lapangan. Ia meninggalkan dunia perwasitan dan menekuni kepelatihan. Sebelum belajar menjadi wasit pada 2015, ia lebih dulu mengambil lisensi pelatih pada 2012 ketika masih awal kuliah.

SMP Negeri 1 Cerme menjadi sekolah pertama yang ditanganinya. Setelah itu, ia melanjutkan perjalanan kepelatihan hingga akhirnya dipercaya menangani SMAN 1 Gresik sejak 2023.

Kini, Damas tidak lagi berdiri di tengah lapangan untuk menentukan kapan sebuah pelanggaran terjadi. Ia berada di pinggir lapangan, membawa kepentingan satu tim yang harus diperjuangkannya.

Perubahan itu membuat cara Damas melihat pertandingan ikut berubah.

“Yang pasti ada,” jawabnya ketika ditanya soal perbedaan emosi dari posisi wasit yang harus netral menjadi pelatih yang harus memihak.

Namun, identitasnya sebagai mantan wasit ternyata belum sepenuhnya hilang.

“Yang pasti suka latah. Tiba-tiba berdiri, tiba-tiba angkat tangan. Seperti signal-signal foul, masih terbawa,” katanya.

Baca juga: Dari Sekadar Main Basket, Coach Agung Bangun Mindset Baru di Libels

Kebiasaan tersebut sesekali muncul secara spontan ketika ia mengikuti jalannya pertandingan dari bench. Bedanya, kini ia tidak lagi memiliki peluit untuk menghentikan permainan.

Pengalaman sebagai wasit justru menjadi bekal bagi Damas ketika membaca permainan sebagai pelatih. Menurutnya, posisi wasit memberikan sudut pandang yang lebih dekat terhadap pemain dan kontak yang terjadi di lapangan.

“Kalau di bench pemain, kita terbatas sama garis. Jadi nggak bisa semakin dekat untuk lihat POV-nya seperti apa, level kontaknya seperti apa. Itu salah satu yang bisa kebawa sampai jadi pelatih sekarang,” ujarnya.

Pengalaman itu juga membuat Damas lebih peka terhadap keputusan wasit. Ia memahami bahwa perkembangan aturan membuat standar kontak dalam pertandingan juga terus berubah.

Meski begitu, kini Damas harus belajar menempatkan dirinya. Pengalaman sebagai wasit memberinya pemahaman tentang bagaimana pertandingan harus dikendalikan, sementara peran sebagai pelatih menuntutnya untuk menjaga emosi agar tetap menjadi contoh bagi pemain.

“Kalau saya mungkin agak menahan untuk sering teriak-teriak atau apa ke wasit. Jadi saya mencoba menanamkan disiplin saja ke anak-anak,” katanya.

Perubahan posisi itu menjadi bagian dari perjalanan Damas di basket. Dari seseorang yang dulu dituntut berdiri di tengah dan menjaga netralitas, kini ia berdiri di pinggir lapangan dengan satu tujuan yaitu membantu Smansa berkembang.

Namun, satu hal dari masa lalunya tetap ikut berjalan bersamanya.

Peluit memang sudah tidak lagi berada di tangannya. Tetapi cara seorang wasit melihat permainan masih melekat dalam diri Damas sebagai pelatih.

Baca juga: Dampingi Tim, Kepsek Smantass Sebut DBL Wadah Solidaritas Siswa

Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 siap mengguncang 31 kota di 22 provinsi se-Indonesia. Seperti musim sebelumnya, DBL Indonesia akan menjaring para student-athlete terbaik dari setiap kota untuk memperebutkan tiket DBL Indonesia All-Star melalui program DBL Camp.

Tak kalah seru, Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 juga menghadirkan AZA 3X3 Competition serta AQUA DBL Dance 2026-2027 dengan mengusung tema "100% Indonesia".  Seluruh keseruan pertandingan bisa disaksikan secara langsung di kanal YouTube DBL Play, serta di YouTube Good Day ID khusus untuk laga final. (*)

Profil pelatih ini bisa dilihat pada halaman di bawah ini (pengguna Android bisa melakukan scroll dengan double tap)

Populer

Jadwal dan Link Live Streaming DBL West Java-East, Senin 21 September 2026
Hasil DBL South Sulawesi: Runner-Up Musim Lalu Pulang, Putri Eleven Tolak Revans
Skenario DBL East Java-North: Tiket Menuju Playoffs Semakin Terbatas!
Hasil DBL East Java-North: Sinlui Tampil Dominan, Petra 4 Balikkan Keadaan
Hasil DBL Mataram 2026: Perebutan Tiket Playoffs Semakin Seru!