Alumnus Trisila 2004-2006, Uni Riza Kangen Bertanding di Panggung DBL!

| Penulis : 

Bermain basket di lapangan DBL sudah menjadi mimpi bagi banyak student-athlete di Indonesia. Mereka tidak pernah berhenti untuk memberikan perjuangan keras dalam cara apa pun agar bisa mengukir cerita dan merasakan meriahnya atmosfer di sini.

Hal tersebut pun tidak hanya menjadi mimpi untuk para pelajar zaman sekarang. Mereka yang menikmati masa SMA pada era 2000-an juga memiliki antusiasme yang sama untuk bermain di DBL saat itu.

Salah satunya adalah Riza Novera Yunis. Wanita yang kerap disapa Uni Riza itu turut merasakan euforia kompetisi DBL saat liga ini pertama kali diselenggarakan pada 2004 silam.

Uni Riza lahir dan menghabiskan masa kecilnya di Kota Padang. Namun, setelah itu, tempat tinggalnya selalu berpindah-pindah karena mengikuti orangtuanya.

“Orangtua kan emang pedagang. Dari Padang merantau ke Palembang terus ke Banjaran. Akhirnya tahun 1996 Uni pindah ke Surabaya,” cerita wanita kelahiran tahun 1987 itu,

Baca juga: Asa yang Terus Membara di Tribun Pitoe Mania

Saat pertama kali tinggal di Surabaya, Uni Riza masih duduk di bangku kelas III SD. Seiring berjalannya waktu, ia akhirnya menemukan satu hal yang paling ia cintai: olahraga bola basket.

Kecintaannya terhadap basket itu menuntunnya untuk menimba ilmu dan pengalaman di klub Sahabat Surabaya saat SMP. Ia juga dipercaya untuk mengenakan seragam tim basket sekolahnya.

Uni Riza bahkan sering menyaksikan para pemain profesional saling adu kekuatan di lapangan pada saat itu. Basket sudah seperti menjadi identitas dan jati dirinya.

“Gila basket saya dulu. Zaman SMP belain naik angkot (angkutan kota) sendiri nonton IBL (Indonesian Basketball League) sampai kenal semua pemain Aspac Jakarta. Hahaha. Anak kecil sendirian nonton basket,” ingat Uni Riza.

Setelah lulus SMP, Uni Riza memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya di SMA Trisila Surabaya. Pada saat yang bersamaan, kompetisi DBL akhirnya digelar untuk pertama kalinya. Informasi tersebut langsung terdengar oleh Uni Riza dan tim basket sekolahnya.

Baca juga: DeadSquad Jadi Simbol Kebangkitan Rolas Fighters di Musim Terakhir

“Dari pelatih kita dan tentunya dari DetEksi Jawa Pos juga. Dulu semua info tentang DBL pasti ada di sana,” sebut Uni Riza.

Namun, di gelaran 2004, Uni Riza masih belum berstatus sebagai pemain di DBL. Saat itu, Trisila hanya menurunkan tim putra untuk bertanding, sehingga ia hanya bertugas sebagai pendamping mereka. Baru pada musim berikutnya ia dan tim putri bisa melantai di panggung DBL. 

Dalam perjalanannya, Uni Riza dan Trisila memang kesulitan untuk meraih kemenangan yang berarti di DBL. Namun, mereka melihat ajang DBL dalam kacamata yang berbeda. 

Saat itu, Uni Riza dan Trisila memaknai DBL sebagai tempat yang mempertemukan para student-athlete untuk berpesta bersama. Tiap detik di lapangan menyimpan kenangan yang tidak akan mereka lupakan. 

“Sekolah Trisila kalah di babak awal. Dulu sih pokoknya nekat ikut aja karena sekolah lain kan bagus-bagus semua basketnya,” tutur Uni Riza.

Kemudian, keseruan tidak hanya berhenti di lapangan. Pamor DBL yang semakin meningkat membuat Uni Riza dan Trisila merasa semakin bangga karena pernah bertanding di ajang ini.

Baca juga: Tetramania Usung Urban Street Culture, 4 Sosok Jadi Simbol Perjuangan

“Zaman dulu kalau udah denger DetEksi dan ikut DBL berasa keren, kalau kompetisi sekolah kan kurang hits. Setiap hari beritanya juga masuk media cetak,” jelas Uni Riza.

Momen pertandingan Uni Riza dan Trisila juga sempat tertangkap kamera dan masuk ke dalam koran DetEksi. Itu membuatnya tergerak untuk membuat kliping DetEksi seputar bola basket. 

“Jadi bangga, tapi sayang dulu gak di laminating, hahaha, dimakan rayap jadinya,” sebutnya.

Kenangan indah Uni Riza di DBL tidak berhenti sampai situ. Kehadirannya di technical meeting juga menjadi salah satu favoritnya. “Waktu ambil nomor peserta lomba. Dulu itu ngambil nomor di bowl lalu kita tahu tuh bakal ketemu tim sekolah mana saja dalam grup untuk empat kali pertandingan,” jelasnya.

Bagaimana DBL mengelola turnamen ini juga menjadi salah satu hal yang paling Uni Riza ingat. Saat menduduki berstatus sebagai pemain kelas XII, ia mengapresiasi regulasi DBL yang semakin rapi dan terstruktur dalam waktu singkat.

“Kita harus punya pelatih, manager, tim kesehatan, dan harus pakai ID Card. Jadi benar-benar lebih prepare karena dari tahun ke tahun DBL makin banyak peminatnya,” terang Uni Riza.

Baca juga: Gavin Tangguh Menjalani Debutnya di DBL untuk Mendiang Sang Ayah

Setelah lulus SMA, Uni Riza meneruskan langkahnya ke Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Almamater Wartawan Surabaya (STIKOSA-AWS). Karena saat itu tidak ada tim basket di sana, Uni Riza akhirnya berhenti melakoni basket secara serius sebagai pemain.

Kini, Uni Riza telah memiliki dua anak. Setelah lebih dari dua dekade DBL berjalan, ia sangat gembira melihat semangat para pelajar untuk mengikuti ajang ini masih sama seperti masa-masanya. Bahkan bisa disebut semakin berkobar-kobar.

“Kalo sekarang anak-anaknya lebih kreatif apalagi tim dance. Anak basketnya juga pada keren-keren karena orangtua zaman sekarang lebih aware dan mendukung,” kata Uni Riza.

Ditanya tentang keinginan untuk bermain di DBL ini, jawaban Uni Riza sederhana dan kuat. “Jelas!” tegasnya.

Lebih lanjut, pada masa depan, Uni Riza memiliki kesempatan besar untuk kembali merasakan atmosfer. Bukan sebagai pemain, tetapi sebagai orangtua yang setia mendukung setiap langkah anaknya di lapangan.

Anak keduanya yang masih berusia 8 tahun, Arsyatama, memiliki minat yang sama dengan sang ibu. “Sudah gabung klub atas permintaan sendiri, ‘Ma, aku ikutin basket’. Karena emang awalnya Uni belikan bola basket dulu baru tumbuh minatnya,” tutur Uni Riza.

Jika kelak sang anak bisa berkompetisi di panggung DBL, maka ini akan menjadi full-circle moment untuk Uni Riza.

“Semoga ‘saset’ (anak kedua) Uni next time bisa jadi pemain basket di tim sekolah dan ikut DBL juga,” tutupnya.

Sungguh pengalaman yang sangat indah dan membekas, Uni Riza!

Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 siap mengguncang 31 kota di 22 provinsi se-Indonesia. Seperti musim sebelumnya, DBL Indonesia akan menjaring para student-athlete terbaik dari setiap kota untuk memperebutkan tiket DBL Indonesia All-Star melalui program DBL Camp.

Tak kalah seru, Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 juga menghadirkan AZA 3X3 Competition serta AQUA DBL Dance 2026-2027 dengan mengusung tema "100% Indonesia". Seluruh keseruan pertandingan bisa disaksikan secara langsung di kanal YouTube DBL Play, serta di YouTube Good Day ID khusus untuk laga final. (*)

Baca juga: Putra Smantaru Lolos Round 2, Kado Ulang Tahun Indah untuk UNO MANIA

Populer

Gavin Tangguh Menjalani Debutnya di DBL untuk Mendiang Sang Ayah
Tak Memenuhi Syarat Regulasi, SMAN 1 Blitar Menang WO Atas SMA Al-Izzah Batu
Hasil DBL East Java-South: Sweet Sixteen Tuntas, Kursi Big Eight Terisi Penuh!
Smantaru Menang, Ahza Wynniar Dedikasikan untuk Sang Ayah
Putra Smantaru Lolos Round 2, Kado Ulang Tahun Indah untuk UNO MANIA