Pelukan Mama Jadi Tempat Pulang Yael pada Musim Terakhirnya

| Penulis : 

Tangis Yeirah Yael Laksa pecah setelah kekalahan SMAN 13 Surabaya dari SMAN 6 Surabaya di Round 1 Honda DBL with Kopi Good Day 2026 East Java-North pada 27 Agustus 2026 lalu. Di tengah rasa kecewa yang masih tersisa, ada satu tempat yang kemudian ia tuju: pelukan sang Mama.

Bagi remaja yang akrab disapa Yael itu, pelukan itu bukan sekadar cara untuk menenangkan diri setelah pertandingan. Mama adalah orang yang menyaksikan perjalanan basketnya sejak awal, ketika Yael bahkan belum tahu sejauh apa olahraga itu akan membawanya.

“Pelukan Mama itu yang paling nyaman di kehidupan ini. Mama yang paling paham aku,” ucap Yael.

Mama memang selalu menjadi sosok yang hadir di perjalanan basketnya. Hampir setiap kali Yael bertanding, sang Mama berusaha datang dan menyaksikan langsung dari tribun.

Bahkan ketika pertandingan tidak berakhir sesuai harapan, Mama tetap menjadi orang pertama yang memberikan ketenangan. Setelah pertandingan, ia biasanya menyambut Yael dengan kalimat sederhana.

Baca juga: Hasil DBL East Java-North: Thirteen dan Twenty Bertanding Sampai Overtime!

“Kamu mainnya bagus hari ini.”

Jika Yael merasa penampilannya belum maksimal, Mama punya cara sendiri untuk membuatnya kembali tenang.

“Sudah enggak apa-apa. Masa depanmu juga masih panjang. Enggak di situ doang, enggak hanya satu match. Match selanjutnya pasti lebih baik,” kata Yael, mengingat pesan dari sang Mama.

Ibunda Yeirah Yael Laksa saat menyaksikan anaknya bermain melawan SMAN 20 Surabaya di Honda DBL with Kopi Good Day 2026 East Java-North

Kalimat-kalimat sederhana itu punya arti besar bagi student-athlete berusia 17 tahun itu. Sebab, di lapangan ia terbiasa menuntut dirinya sendiri untuk memberikan lebih.

Latihan bersama tim pun tidak ringan. Mereka memiliki target 1.500 free throw, dengan masing-masing student-athlete menyelesaikan 200 tembakan. Selain itu, ada lari hingga 15 kilometer, bahkan tugas tambahan berlari 10 kilometer. Di luar latihan bersama tim, Yael juga masih menyempatkan diri berlatih di rumah.

Semua itu ia jalani karena basket sudah menjadi bagian penting dalam hidupnya.

Baca juga: Dari Voli ke Basket, Sasha Teruskan Jejak Sang Ayah

“Basket itu passion hidupku,” katanya.

Kecintaannya pada basket bahkan membuat olahraga tersebut menjadi cara Yael untuk sejenak melepaskan diri dari tekanan. Di sekolah, ketika memiliki waktu luang, ia kerap mencari lapangan dan bermain basket. Baginya, aktivitas itu bisa membuat pikirannya lebih segar ketika sedang dipenuhi banyak hal.

Kini, tantangannya semakin besar. Yael sudah duduk di kelas XII dan sedang menjalani musim ketiganya sekaligus musim terakhir bersama Thirteen, julukan tim basket SMAN 13 Surabaya.

Di sela persiapan Penilaian Tengah Semester (PTS) dan Tes Kemampuan Akademik (TKA), rutinitasnya nyaris tidak pernah jauh dari latihan dan belajar. Pagi diisi conditioning, kemudian sekolah, latihan setelah pulang, belajar, makan, lalu beristirahat.

Ia bahkan mulai mengurangi waktu untuk sekadar scrolling media sosial. Waktu yang biasanya bisa habis di depan layar ia pilih untuk belajar, jogging, atau melakukan conditioning tambahan.

Bukan karena basket selalu terasa mudah. Sebaliknya, Yael tahu betul bagaimana rasanya harus bertahan ketika tubuhnya sudah meminta berhenti.

Baca juga: Styfen Pedro Bawa Cinta Kasih Orangtua dari Palu ke DBL Arena!

Salah satu pengalaman itu terjadi ketika Thirteen menghadapi SMAN 6 Surabaya. Yael sempat mengalami kram parah hingga harus dibawa keluar lapangan. Setelah beristirahat, ia kembali bermain. Pertandingan selesai, tetapi perjuangannya belum benar-benar berakhir karena ia kembali harus dipapah setelah laga.

Semua itu menjadi bagian dari musim terakhir yang ingin ia jalani sebaik mungkin.

Yeirah Yael Laksa dibantu oleh para pemain SMAN 6 Surabaya saat mengalami kram kaki di Honda DBL with Kopi Good Day 2026 East Java-North

Bagi Yael, kesempatan bermain di DBL East Java-North saat remaja tidak akan datang dua kali. Karena itu, ia ingin memberikan seluruh kemampuannya sebelum benar-benar meninggalkan lapangan sebagai pemain SMAN 13 Surabaya.

“DBL itu kayak momen sekali seumur hidup. Jadi aku pengin all out, supaya nanti ke depannya kita bisa bahagia,” ujarnya.

Targetnya musim ini mampu meraih dua kemenangan di Round 2 DBL East Java-North mengingat musim lalu, Thirteen hanya meraih satu kemenangan saat di Round 2. Tahun ini, Yael ingin membantu timnya mencatatkan dua kemenangan.

Baca juga: Di Tengah Regenerasi, Coach Andri Jaga Tradisi Putri Smantaru

Namun, di balik target tersebut, ada alasan yang lebih personal mengapa Yael ingin memberikan yang terbaik.

Ia tahu perjalanan ini tidak pernah ia jalani sendirian. Ada keluarga yang terus mendukung, terutama Mama yang selalu hadir menyaksikan setiap langkahnya.

Sejak mengenal basket saat SMP kelas VII, mulai serius bermain di kelas VIII, hingga akhirnya menjalani musim ketiga di DBL, Mama melihat semuanya dari dekat. Dari ketika Yael masih belajar bermain sampai sekarang ketika basket telah menjadi bagian dari hidupnya.

Karena itu, ketika sebuah pertandingan berakhir dengan kekalahan dan air matanya jatuh, Yael tidak mencari jawaban yang rumit.

Ia hanya membutuhkan pelukan Mama.

Bang Acig, Penyumbang Kekuatan Smekda di Balik Layar

Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 siap mengguncang 31 kota di 22 provinsi se-Indonesia. Seperti musim sebelumnya, DBL Indonesia akan menjaring para student-athlete terbaik dari setiap kota untuk memperebutkan tiket DBL Indonesia All-Star melalui program DBL Camp.

Tak kalah seru, Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 juga menghadirkan AZA 3X3 Competition serta AQUA DBL Dance 2026-2027 dengan mengusung tema "100% Indonesia".  Seluruh keseruan pertandingan bisa disaksikan secara langsung di kanal YouTube DBL Play, serta di YouTube Good Day ID khusus untuk laga final. (*)

Profil pemain ini bisa dilihat pada halaman di bawah ini (pengguna Android bisa melakukan scroll dengan double tap)

Populer

Pelukan Mama Jadi Tempat Pulang Yael pada Musim Terakhirnya
Bang Acig si Penyemai Mimpi Anak-anak Smekda di Lapangan Sepat
Jordan Saragih Redam Gugup dengan Mengamati Permainan Rekan Setim
Styfen Pedro Bawa Cinta Kasih Orangtua dari Palu ke DBL Arena!
Tips Cepat Lihai Main Basket Untuk Pemula