Ibu Dwi Hargiyani, Saksi Perjalanan Basket Cita Hati East

| Penulis : 

Lapangan basket SMA Cita Hati East Surabaya telah melewati banyak pergantian generasi. Anak-anak yang dulu datang sebagai student-athlete kini sebagian sudah menyelesaikan pendidikan dan melanjutkan hidup di tempat lain. Namun, ada satu sosok yang masih berada di sekitar perjalanan itu, yakni Dwi Hargiyani.

Bagi anak-anak Cita Hati East, ia dikenal sebagai Miss Dwi. Sosok yang dipercaya mendampingi tim basket putri sebagai manajer itu telah menjadi bagian dari Cita Hati East sejak 1996.

Perjalanannya bersama basket Cita Hati East memang tidak dimulai sejak awal ia mengajar. Baru sekitar 2008, Ibu Dwi mulai lebih dekat dengan tim basket. Saat itu ia mendampingi tim putri SMP Cita Hati East di Junior DBL Surabaya.

Sejak saat itu, lapangan basket perlahan menjadi bagian dari cerita panjangnya di Cita Hati East.

Baca juga: Dari Ajakan Papa, Felix Temukan Rumah di Basket

Ia melewati berbagai generasi pemain. Salah satu yang paling membekas adalah ketika tim putra Cita Hati menjadi juara Junior DBL 2010. Lalu, 3 tahun berselang, ia kembali berada di tengah perjalanan tim Cita Hati East yang tampil di partai puncak DBL East Java 2013.

“Bersyukur akhirnya di tim itu sangat kompak sekali dan menghasilkan yang terbaik,” kenangnya saat mengingat salah satu generasi yang pernah ia dampingi.

Bukan hanya kemenangan yang tersimpan dalam ingatannya. Ada pula momen ketika hasil pertandingan justru terasa seperti sesuatu yang mustahil.

Saat mendampingi tim putri, Ibu Dwi pernah berada dalam situasi ketika Cita Hati East harus menghadapi lawan yang di atas kertas lebih kuat. Seorang student-athlete bahkan sempat bertanya kepadanya apakah mereka masih mungkin menang.

Jawaban Ibu Dwi sederhana.

Baca juga: Kemenangan Vita Jadi Penutup Raditya Ibrahim sebelum Rehat Panjang

“Bisa. Kalau kamu mengutamakan Tuhan dan kamu melakukan latihan dengan benar dan serius, kemenangan bisa diraih.”

Pertandingan itu berakhir dengan kemenangan Cita Hati East. Momen tersebut kemudian menjadi salah satu kenangan yang masih ia bawa hingga sekarang.

“Biasanya kita kalau kalah nangis. Tapi waktu itu kita nangis karena menang. Jadi kayak nothing is impossible,” ujarnya.

Bertahun-tahun berada di sekitar tim membuat Ibu Dwi tidak hanya menyaksikan perjalanan basket Cita Hati East. Ia juga ikut meninggalkan satu bagian dari identitas yang sampai sekarang masih digunakan.

Nama Cheetah.

Baca juga: Smanda Force Membuka Cerita Lama dan Menulis Langkah Baru Mereka

Ketika sekolah diwajibkan memiliki maskot yang merepresentasikan sekolah dan tim, berbagai ide sempat muncul dari para guru. Namun, belum ada yang benar-benar terasa pas bagi Ibu Dwi.

Ia kemudian memilih berhenti sejenak dan berdoa.

“Apa yang bisa membuat maskot ini merepresentasikan Cita Hati East,” pikirnya kala itu.

Dari situlah muncul ide tersebut. Cheetah berasal dari Cita Hati dan dikenal sebagai hewan yang berlari cepat dan hidup berkelompok.

“Rasanya kok cocok dan menggambarkan Cita Hati,” katanya.

Nama itu kemudian dibawa ke pihak sekolah dan diterima. Sejak saat itu, Cheetah tidak hanya menjadi nama. Bagi Ibu Dwi, ada nilai yang ingin terus dibawa bersama identitas tersebut.

Baca juga: Alvaro Xavindra Dedikasikan Kemenangan Putra Smantaru untuk Mama dan Papa

Bagi Ibu Dwi, Cheetah bukan sekadar julukan. Di dalamnya ada nilai Christ is the Head yang juga ingin ditanamkan kepada para student-athlete.

“Jadi kita membawa anak-anak enggak hanya untuk main basket saja, tapi karakter mereka juga,” jelas guru pengampu mata pelajaran olahraga itu.

Perjalanan itu sempat berhenti ketika Ibu Dwi beralih mendampingi cabang olahraga lain selama sekitar 5 tahun. Namun, 2 tahun lalu, ia kembali ke basket sebagai manajer tim putri.

Generasi pemain memang terus berganti. Sebagian bahkan sudah meninggalkan sekolah dan melanjutkan pendidikan ke berbagai tempat. Namun, komunikasi dengan beberapa alumni masih terjaga hingga sekarang.

“Makanya saya senangnya di lapangan di sini,” ucapnya.

Dan di antara perjalanan itu, ada satu nama yang pernah lahir dari sebuah doa sederhana.

Cheetah.

Sebuah nama yang kini terus berlari bersama Cita Hati, sementara Ibu Dwi masih memilih untuk berada di dekat lapangan dan menyaksikan ke mana generasi berikutnya akan membawanya.

Baca juga: “Playoffs?” Pertanyaan Coach Yogi yang Terjawab

Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 siap mengguncang 31 kota di 22 provinsi se-Indonesia. Seperti musim sebelumnya, DBL Indonesia akan menjaring para student-athlete terbaik dari setiap kota untuk memperebutkan tiket DBL Indonesia All-Star melalui program DBL Camp.

Tak kalah seru, Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 juga menghadirkan AZA 3X3 Competition serta AQUA DBL Dance 2026-2027 dengan mengusung tema "100% Indonesia".  Seluruh keseruan pertandingan bisa disaksikan secara langsung di kanal YouTube DBL Play, serta di YouTube Good Day ID khusus untuk laga final. (*)

Profil manager ini bisa dilihat pada halaman di bawah ini (pengguna Android bisa melakukan scroll dengan double tap)

Populer

Tepis Gemetar dari Tertinggal 13 Poin, Devon Bawa Smunel Comeback Fantastis!
Tiga Tahun Rasyid Aaqil Menanti, Mimpi Dua Empat ke Big Eight Akhirnya Terwujud
Banyu Tirtayasa, Mimpi Masa Kecil, Jersei Charets dan Main di DBL
Kisah Muhammad Zaqi, Lepas Paskibra Demi Kejar Mimpi dan Kawal Smaga Comeback!
Berawal dari TikTok, Zakyah Zahron Wujudkan Mimpi Masa Kecil di DBL