Bu Halimah mungkin tidak hafal seluruh aturan basket. Ia juga tidak pernah menjadi pemain basket. Namun, hampir setiap kali Muhammad Rizky Ibrahim berlatih atau bertanding, ia berusaha berada di dekat anak bungsunya itu.
Bukan sekadar untuk menonton.
Bu Halimah perlahan ikut mempelajari dunia basket yang dijalani Rizky. Dari yang awalnya tidak memahami istilah-istilah dalam permainan, kini ia mulai bisa mengenali beberapa hal yang terjadi di lapangan.
Semua berawal dari keinginannya untuk memahami sang anak.
“Dari Kiki (panggilan Rizky) saya belajar istilah-istilah basket. Saya jadi tahu kalau misalnya anak ini kurang lay-up-nya, kurang ini, kurang itu,” cerita Bu Halimah.
Baca juga: Ibu Dwi Hargiyani, Saksi Perjalanan Basket Cita Hati East
Rizky, yang akrab disapa Kiki, mulai mengenal basket sejak kelas V SD. Sebelumnya, ia lebih dulu menekuni renang sejak berusia lima tahun. Bahkan, Kiki sempat mengejar kesempatan untuk berlomba hingga tingkat provinsi.
Pandemi Covid-19 membuat aktivitas renangnya berhenti. Dari sana, Kiki mulai beralih ke basket melalui DBL Academy sejak tahun 2020 tepatnya saat ia duduk di kelas VI SD.
Pilihan tersebut sebenarnya tidak datang dari tuntutan keluarga. Mendiang sang ayah merupakan pemain bulu tangkis, kakaknya menekuni karate. Kiki diberi kebebasan untuk memilih olahraga yang ingin dijalani.
Ayahnya bahkan sempat berharap Kiki menekuni bela diri.
Namun, Kiki memilih basket.
Selama perjalanan basket Kiki, Bu Halimah tidak pernah benar-benar jauh.
Baca juga: Dari Ajakan Papa, Felix Temukan Rumah di Basket
Ia berusaha hadir ketika Kiki berlatih, baik bersama DBL Academy maupun saat menjalani latihan antarsekolah (sparing). Ketika pertandingan berlangsung, ia dan keluarga juga datang untuk melihat dan mendukung secara langsung.
Semakin lama mengikuti perjalanan Kiki, semakin banyak pula hal yang ingin dipahaminya.
Bu Halimah mengakui dirinya tidak mengerti basket secara teknis. Ia kemudian banyak belajar dari anggota keluarga yang lebih memahami olahraga tersebut. Dari sana, istilah-istilah yang sebelumnya asing perlahan menjadi bagian dari percakapannya ketika membahas permainan Kiki.
Bagi Bu Halimah, memahami basket bukan soal harus bisa memberikan instruksi layaknya seorang pelatih. Ia hanya ingin tahu apa yang sedang dijalani anaknya.
Keinginannya untuk selalu mendampingi Kiki semakin kuat setelah sang anak mengalami cedera saat duduk di kelas VIII SMP.
Saat itu, Kiki bermain dalam sebuah pertandingan di Kediri. Setelah pertandingan selesai, ia terdorong lawan dan mengalami cedera ankle. Cedera tersebut tidak sampai membutuhkan perawatan serius dan bisa ditangani melalui terapi.
Baca juga: Kemenangan Vita Jadi Penutup Raditya Ibrahim sebelum Rehat Panjang
Namun, bagi Bu Halimah, kejadian itu cukup menjadi pengingat bahwa basket juga memiliki risiko.
“Karena pernah dia cedera dan saya tidak mau lagi hal itu terjadi. Jadi saya selalu menemani dan mendukung dia,” ujarnya.
Sejak saat itu, kehadiran Bu Halimah bukan hanya soal datang ke pertandingan. Ia ingin memastikan Kiki tetap menjaga kondisi dan tidak menjalani prosesnya sendirian.
Ia juga memperhatikan hal-hal di luar lapangan. Makanan, kesehatan, hingga waktu tidur Kiki menjadi bagian yang ikut dijaga. Semua dilakukan agar sang anak bisa tetap menjalani aktivitas basket dengan kondisi yang baik.
Menariknya, Kiki sendiri bukan tipe anak yang banyak bercerita.
Di rumah, ia justru lebih banyak diam. Berbeda dengan ketika berada di lapangan yang terlihat lebih garang dan penuh energi.
Baca juga: Smanda Force Membuka Cerita Lama dan Menulis Langkah Baru Mereka
Bu Halimah pun terbiasa menunggu sampai Kiki sendiri yang bercerita ketika ada sesuatu yang ingin disampaikan.
Mungkin karena itu, cara Bu Halimah mendampingi Kiki tidak selalu hadir dalam bentuk nasihat panjang. Ia lebih sering memilih untuk berada di dekatnya dan memahami apa yang sedang dijalani anaknya.
Selama bertahun-tahun bermain basket, Kiki pun tidak pernah mengeluh ingin berhenti. Justru ia terus mencari cara untuk berkembang. Ia banyak bertanya kepada orang lain setiap kali merasa ada bagian dari permainannya yang masih kurang.
Bagi Bu Halimah, kemauan itu menjadi hal yang patut dijaga.
Kini, Kiki sudah berada di kelas XII dan menjalani tahun terakhirnya bersama SMAN 2 Sidoarjo. Setelah lulus, Kiki masih ingin berada di dunia basket. Sejumlah jalan untuk melanjutkan ke bidang tersebut pun sudah mulai terbuka.
Namun, Bu Halimah tidak menuntut anaknya harus menjadi atlet besar.
Baginya, ada hal yang lebih penting daripada sekadar pencapaian di lapangan, yakni ilmu yang didapat Kiki harus bisa dibagikan.
Baca juga: “Playoffs?” Pertanyaan Coach Yogi yang Terjawab
“Kamu harus mulai mandiri. Sekarang kamu sudah punya nama, dalam artian orang sudah mengenal kamu. Kamu harus menjaga nama itu dengan baik, menjaga nama orang tua, jangan terlalu sombong, jangan egois,” pesan Bu Halimah.
Ia juga ingin Kiki membantu adik-adik kelasnya yang masih menjalani perjalanan basket di SMAN 2 Sidoarjo. Menurutnya, ilmu yang sudah dikumpulkan Kiki selama bertahun-tahun akan menjadi lebih berarti jika tidak berhenti pada dirinya sendiri.
“Kalau kamu hanya menjadi atlet tetapi sombong, kamu tidak akan menjadi panutan orang. Tapi kalau ilmumu kamu berikan kepada orang lain, kamu bisa menjadi panutan,” tutup Bu Halimah.
Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 siap mengguncang 31 kota di 22 provinsi se-Indonesia. Seperti musim sebelumnya, DBL Indonesia akan menjaring para student-athlete terbaik dari setiap kota untuk memperebutkan tiket DBL Indonesia All-Star melalui program DBL Camp.
Tak kalah seru, Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 juga menghadirkan AZA 3X3 Competition serta AQUA DBL Dance 2026-2027 dengan mengusung tema "100% Indonesia". Seluruh keseruan pertandingan bisa disaksikan secara langsung di kanal YouTube DBL Play, serta di YouTube Good Day ID khusus untuk laga final. (*)
Profil pemain ini bisa dilihat pada halaman di bawah ini (pengguna Android bisa melakukan scroll dengan double tap)