Tribun DBL Arena Surabaya kembali menjadi ruang bagi Sixteenagers untuk bercerita lewat koreografi.
Selasa, 22 September 2026, suporter SMAN 16 Surabaya itu menyiapkan dua koreografi untuk mendampingi tim putra dan putri Sixteen pada Round 2 Honda DBL with Kopi Good Day 2026 East Java North.
Koreografi pertama hadir ketika tim putra Sixteen berhadapan dengan SMA Nation Star Academy Surabaya (NSA).
Baca juga: Apa Pun Hasilnya, Para Orangtua Basket Sixteen Akan Selalu Beri Apresiasi
Tribun Sixteenagers dipenuhi lembaran koran bekas. Potongan koran yang sudah tidak terpakai itu disusun dan disambungkan hingga membentuk satu bidang besar yang menutupi bagian tribun.
Bagi Sixteenagers, koran bukan sekadar bahan koreografi. Mereka memanfaatkan koran lama yang sudah tidak digunakan untuk diubah menjadi karya visual di tribun.
Potret tribun DBL Arena Surabaya yang dipenuhi oleh lembaran koran bekas tersusun rapi membentuk koreografi visual khas Sixteenagers.
Cara tersebut juga menjadi bagian dari tradisi Sixteenagers. Koreografi koran sudah mulai digunakan sejak sekitar 2014 dan terus dipertahankan hingga sekarang.
Muhammad Azzam Ardiansyah, anggota kreatif Sixteenagers, menyebut penggunaan koran sudah menjadi salah satu cara mereka menunjukkan dukungan kepada sekolah ketika bertanding di DBL.
"Di koran sendiri memang ibaratnya tradisi dari SMAN 16 kalau kita men-support sekolah pas match di DBL. Sudah bisa dibilang konsep tahunan. Dari tahun ke tahun pasti ada," ujar Azzam.
Baca juga: Keterpurukan Kratos Jadi Awal dari Kebangkitan untuk Sixteenagers
Untuk membentuk satu koreografi besar, jumlah koran yang dibutuhkan tidak sedikit. Azzam dan Muhammad Ravaka, anggota kreatif Sixteenagers lainnya, memperkirakan ada sekitar 3.000 koran yang dikumpulkan.
Setelah semua koran terkumpul, lembaran tersebut harus disambungkan satu per satu dengan teliti agar dapat terbentang sesuai ukuran dan bentuk yang sudah direncanakan.
Aksi Sixteenagers kompak mengangkat dan membentangkan koreografi lembaran koran di dalam DBL Arena Surabaya.
Proses itu tidak bisa dilakukan terburu buru. Selain harus menyambungkan setiap lembar, koran yang digunakan juga mudah sobek sehingga membutuhkan ketelatenan dari seluruh anggota yang mengerjakannya.
"Kalau ukurannya sebesar itu, kita butuh ketelatenan. Koran yang disambung satu-satu itu cukup susah, belum lagi gampang sobek juga. Jadi memang harus telaten supaya bisa kebuka dan terbentang rata," kata Rava.
Baca juga: Terjang Takdirmu, Cara Sixteenagers Kawal Sixteen
Penggunaan koran bekas tersebut berawal dari kreativitas generasi alumni. Koran yang sudah tidak terpakai dikumpulkan dan dimanfaatkan kembali menjadi bagian dari koreografi.
Tradisi itu kemudian terus diwariskan. Benda sederhana yang sebelumnya hanya menjadi barang lama kini kembali hadir sebagai bagian dari dukungan Sixteenagers di tribun.
Setelah mendampingi tim putra, Sixteenagers membawa konsep berbeda ketika tim putri Sixteen menghadapi SMAN 5 Surabaya (Smala).
Koreografi kelelawar berukuran raksasa menyelimuti tribun saat suporter SMAN 16 Surabaya menyaksikan laga tim putri mereka.
Kali ini, mereka menghadirkan koreografi 4D berbentuk kelelawar berukuran besar. Konsep tersebut masih menjadi bagian dari cerita Kratos yang sebelumnya mereka angkat melalui koreografi.
Sebelumnya, Sixteenagers menyoroti Kratos ketika mengingat masa kecilnya dan saat mendapatkan kekuatan dari ayahnya. Pada koreografi kali ini, mereka membawa cerita tersebut kembali ke masa kini.
"Kalau kemarin kita terakhir mengimplementasikan Kratos ketika mengingat masa lalunya, masa kecilnya saat diberi kekuatan sama ayahnya. Sekarang kita kembali ke masa saat ini. Kita highlight feeling dari Kratos lewat kelelawar ini," jelas Rava.
Baca juga: Sixteenagers Rangkai Kisah Perjuangan untuk Tegaskan Marwah Sixteen
Pilihan kelelawar kemudian disesuaikan dengan cerita yang ingin mereka bangun. Sixteenagers menghubungkan sosok tersebut dengan cerita Kratos dan Zeus yang menjadi bagian dari rangkaian karakter yang mereka angkat.
Mereka tidak ingin menggunakan bentuk manusia yang terasa terlalu umum. Kelelawar dipilih untuk menjadi karakter yang dapat mereka bentuk sendiri dan tetap membawa cerita yang ingin disampaikan melalui koreografi.
"Kita bikin karakter sendiri. Kalau bentuknya manusia terlalu umum. Jadi kita pilih kelelawar karena bisa menjadi karakter yang kita bangun sendiri," tutur Rava.
Persiapan dua koreografi tersebut dilakukan dalam waktu yang cukup panjang. Baik koreografi koran maupun kelelawar dikerjakan bersama oleh seluruh anggota Sixteenagers selama kurang lebih dua bulan.
Waktu tersebut digunakan untuk mengumpulkan bahan, menyusun konsep, hingga memastikan kedua koreografi siap dibawa ke tribun pada hari pertandingan.
Baca juga: Sixteenagers Lanjutkan Perjalanan Kratos, Cermin Kebangkitan Sixteen di DBL
Dua koreografi dengan konsep berbeda itu menjadi cara Sixteenagers mendampingi tim putra dan putri pada hari yang sama.
Musim ini, dukungan tersebut kembali diberikan ketika kedua tim Sixteen menjalani perjalanan mereka di Round 2. Tidak hanya melalui chants, Sixteenagers juga membawa karya visual yang telah mereka siapkan jauh sebelum pertandingan.
Barisan suporter Sixteenagers kompak bernyanyi bersama, merayakan kreativitas dan memberikan dukungan penuh dari atas tribun DBL Arena Surabaya.
Musim ini juga menjadi salah satu momen terakhir bagi Azzam dan Ravaka sebagai bagian dari Sixteenagers. Keduanya bersama anggota kelas XII lainnya akan segera meninggalkan bangku sekolah.
Setelah mereka pergi, tradisi dan kreativitas di tribun akan diteruskan oleh generasi berikutnya.
Bagi Azzam dan Rava, keberhasilan generasi mereka bukan tentang membuat sesuatu yang tidak bisa diulang. Justru, mereka ingin apa yang sudah dibangun sekarang menjadi pijakan bagi Sixteenagers berikutnya.
"Tolak ukur sukses kita ketika generasi yang meneruskan kita saat ini bisa lebih baik. Jadi generasi selanjutnya harus bisa lebih baik daripada generasi kita sekarang," ujar Azzam.
Baca juga: Sixteenagers Tampilkan Kratos dari God of War di DBL East Java-North 2026
Koran bekas dan kelelawar akhirnya hadir dengan cerita masing masing. Satu mempertahankan tradisi dengan memanfaatkan barang yang sudah tidak terpakai, sementara lainnya melanjutkan cerita Kratos melalui karakter yang dibangun sendiri.
Keduanya menjadi bagian dari cara Sixteenagers menjaga kreativitas di tribun sekaligus meneruskan cerita dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 siap mengguncang 31 kota di 22 provinsi se-Indonesia. Seperti musim sebelumnya, DBL Indonesia akan menjaring para student-athlete terbaik dari setiap kota untuk memperebutkan tiket DBL Indonesia All-Star melalui program DBL Camp.
Tak kalah seru, Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 juga menghadirkan AZA 3X3 Competition serta AQUA DBL Dance 2026-2027 dengan mengusung tema "100% Indonesia". Seluruh keseruan pertandingan bisa disaksikan secara langsung di kanal YouTube DBL Play, serta di YouTube Good Day ID khusus untuk laga final. (*)
Profil SMAN 16 Surabaya bisa kalian cek di bawah ini (pengguna Android bisa melakukan scroll dengan double tap).