Bagi Leonardo Nuburay, bola basket adalah bagian dari kesehariannya sejak kecil. Rumah keluarganya di Jayapura persis menghadap sebuah lapangan basket kompleks. Setiap kali membuka pintu rumah di pagi hari, pandangannya langsung tertuju pada ring.
"Bangun tidur, buka pintu, langsung ke lapangan. Main basket saja di kompleks," kenang pemain yang kini membela SMA Satya Wacana tersebut.
Darah olahraga mengalir deras di nadinya, diturunkan dari sang ibu yang juga aktif berolahraga dan membina klub di Papua.
Dari sekadar bermain tanpa tekanan sejak kelas 3 SD, Leo -sapaan karibnya- membentuk kemampuan dasarnya secara otodidak.
Tanpa latihan formal yang ketat, bakat alamiahnya terasah lewat pertarungan-pertarungan kecil bersama sang kakak, Steven Reinhard Petrus Nuburai. Namun, keduanya merasa bahwa bakat tak pernah cukup jika tidak diimbangi dengan panggung persaingan yang tepat.
Keinginan untuk berkembang dan mengejar cita-cita jangka panjang, termasuk melanjutkan pendidikan tinggi di Pulau Jawa, mendorong Leo dan Steven mengambil keputusan besar, yakni merantau ke Jawa dan bergabung dengan SMA Satya Wacana.
Mereka ingin merasakan langsung atmosfer serta ketatnya persaingan basket di Jawa, sesuatu yang sulit mereka dapatkan di tanah kelahiran.
"Kalau di sana, basketnya beda. Biasanya kalau mau ada event, baru latihan tiga bulan sebelumnya. Tapi kalau di sini, semua tim latihan terus. Ada atau tidak ada pertandingan, tetap latihan," tutur Leo.
Baca Juga: Coach Tirza Bawa Nusaputera Redam Kekalahan Beruntun & Sejarah Playoffs Pedana!
Perubahan budaya latihan ini sempat mengejutkannya. Berpindah ke jenjang SMA di Salatiga langsung memaksanya beradaptasi dengan ritme pembinaan yang disiplin.
"Awal-awal kaget sekali, sempat baru datang seminggu rasanya sudah mau pulang ke rumah. Bahkan saya sudah bilang ke orang tua, mau pulang saja," akunya jujur sembari tertawa.
"Capek sekali. Biasanya kalau pulang sekolah di Jayapura kan tidur, kalau di sini cuma istirahat 30 menit, makan, langsung balik ke sekolah untuk latihan pagi dan sore. Tapi dari situ saya sadar, persaingan di Jawa memang kompetitif sekali."
Cerita keluarga Nuburay makin menarik jika melihat jejak sang kakak, Steven Reinhard Petrus Nuburai.
Sebelum pindah ke Jawa, Steven diakui Leo sebagai sosok yang menginspirasinya. Pada panggung DBL Papua 2024-2025, Steven mengukir sejarah luar biasa bersama SMAN 1 Jayapura.
Steven memutus dahaga gelar SMAN 1 Jayapura yang terakhir kali menyandang trofi pada 2018. Di partai final, ia tampil fenomenal dengan mencatatkan double-double fantastis, 37 poin dan 13 rebound dalam durasi tampil 39 menit untuk membawa sekolahnya kembali menjadi raja DBL Papua.
"Saya bangga sekali sama kakak waktu itu. Sekolahnya itu sudah dari 2018 tidak pernah juara. Begitu kakak masuk, dia cetak 37 poin dan bawa sekolahnya juara lagi," ungkap Leo, kagum.
Baca Juga: Kisah Tim Independen, Gorgeous Fourteen Alami Drama Ban Meletus Jelang Tampil
Kepindahan Steven ke SMA Satya Wacana sebagai siswa pindahan membuatnya harus absen dari kategori lima lawan lima dan terdaftar di AZA 3X3 Competition 2026 Central Java-North.
Namun, darah juara tak bisa dibohongi. Steven langsung membawa timnya merengkuh gelar juara di AZA 3X3 Competition 2025 Central Java-North.
Dan di musim 2026 ini, Steven kembali mengawal Satya Wacana di panggung AZA 3X3 Competition 2026 Central Java-North.
Sementara itu, karena pindah sebelum memasuki jenjang SMA, Leo bisa langsung melangkah ke tim utama lima lawan lima Satya Wacana sejak kelas X.
Perjalanan SMA Satya Wacana musim ini memang harus kembali terhenti di fase grup usai berhadapan dengan tim kuat SMAN 11 Semarang.
Padahal di laga keduanya, mereka berhasil menang atas SMAN 1 Salatiga (46-8). Pencapaian yang mirip dengan musim lalu saat mereka tertahan ke babak playoff usai menelan kekalahan atas SMA Semesta Bilingual School Semarang.
Baca Juga: Juarai Asian Cheerleading Championship, Nayma Tak Ingin Lewatkan AQUA DBL Dance
Meski begitu, pengalaman berlaga di Jawa memberikan impresi yang tak terlupakan bagi Leo.
Satu hal yang paling membekas di benak pemain kelas XI ini adalah hangatnya atmosfer tribun Sahabat Arena Semarang.
"Paling berkesan itu saat ditonton suporter. Semangatnya luar biasa. Kemarin waktu tanding, sampai ada suporter lawan yang memberi semangat ke saya waktu keluar lapangan. Itu hal yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Rasanya senang sekali."
Di luar lapangan, hubungan Leo dan Steven berjalan layaknya abang-adik pada umumnya. Meski tinggal satu penginapan, mereka bukan tipe saudara yang sering bertukar curhat emosional.
Keakraban mereka terjalin lewat momen-momen sederhana, makan bersama atau berkumpul bersama rekan-rekan sekolah di kantin.
Namun, di atas lapangan, keduanya disatukan oleh mimpi yang sama. Leo tak menampik bahwa target panjangnya di dunia basket adalah melangkah hingga ke tingkat profesional, sebuah jalan yang juga ingin ditempuh oleh sang kakak.
Baca Juga: Luka Masa Muda dan Ambisi Coach Bingan Kejar Mimpi DBL yang Tertunda
Rencana mereka pun selaras untuk terus melanjutkan studi dan karier basket di jenjang perguruan tinggi di Jawa setelah lulus SMA nanti.
Dari sebuah lapangan kecil di depan rumah di Jayapura menuju sengitnya persaingan Honda DBL with Kopi Good Day 2026 Central Java-North mungkin baru babak awal.
Namun dengan kerja keras dan bakat yang dimiliki, mimpi menuju panggung profesional akan semakin dekat untuk diraih.
Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 siap mengguncang 31 kota di 22 provinsi se-Indonesia. Seperti musim sebelumnya, DBL Indonesia akan menjaring para student-athlete terbaik dari setiap kota untuk memperebutkan tiket DBL Indonesia All-Star melalui program DBL Camp.
Tak kalah seru, Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 juga menghadirkan AZA 3X3 Competition serta AQUA DBL Dance 2026-2027 dengan mengusung tema "100% Indonesia".
Seluruh keseruan pertandingan bisa disaksikan secara langsung di kanal YouTube DBL Play, serta di YouTube Good Day ID khusus untuk laga final. (*)
Profil sekolah ini bisa dilihat pada halaman di bawah ini (pengguna Android bisa melakukan scroll dengan double tap)