Pertandingan final AZA 3X3 Competition 2025–2026 East Kalimantan tidak menghasilkan banyak angka. Hanya satu poin yang memisahkan juara dan runner-up. Tapi justru di ruang sempit itulah, cerita besar lahir.

Di tengah skor ketat 6-5 saat SMAN 2 Bontang menumbangkan SMA Sunodia Samarinda, ada satu nama yang memiliki konsistensi bermain: Shangap Family Silalahi. Ia bukan hanya membawa pulang trofi. Tapi juga dinobatkan sebagai MVP.

Perjalanan Shangap bersama timnya bukan hanya momen di final. Ia bercerita bahwa proses mereka cukup panjang. Terbentuk dari hal-hal yang tidak selalu terlihat, latihan fisik, membangun chemistry, hingga komunikasi, yang jadi kunci di permainan 3x3 serba cepat.

Baca Juga: Cerita yang Sempat Terhenti, Kini Ditutup dengan Angkat Trofi

“Kami fokus banget di persiapan. Banyak sparing internal juga supaya makin nyatu,” ujarnya.

Menariknya, mereka datang ke kompetisi dengan mental nothing to lose. Tapi bukan berarti bermain tanpa struktur. Disiplin tetap dijaga. Ketika lelah karena harus membagi waktu antara sekolah dan latihan, tim ini sempat berada di titik goyah. Tapi di situ lah mereka menemukan kekuatan.

Bagi skuad SMAN 2 Bontang, musim ini bukan sekadar soal memenangkan pertandingan. Shangap dan timnya mengingat bagaimana pelatih mereka selalu menekankan satu hal: hasil hanyalah bonus, sementara proses adalah inti.

Mental bertanding dan kekompakan tim menjadi perkembangan terbesar yang mereka rasakan sepanjang musim. Kini, setelah membawa SMAN 2 Bontang ke puncak AZA 3X3 Competition 2025–2026 East Kalimantan, Shangap tidak berbicara tentang mempertahankan gelar, melainkan tentang keberlanjutan.

Ia berharap adik-adik kelasnya bisa melanjutkan tradisi ini, bukan hanya di 3x3, tetapi juga di 5on5. Tidak sekadar berkembang dari sisi skill, tetapi juga dari kekuatan mental.

Tak Hanya Aktif di Basket, Tapi juga Korfball

Di balik performanya di lapangan Shangap menyimpan cerita yang tidak biasa untuk seorang MVP basket pelajar: ia juga aktif di korfball.

Olahraga yang sering disebut sebagai “sepupu basket” ini memiliki kemiripan, tujuannya memasukkan bola ke ring. Namun tanpa dribble dan tanpa steal.

Shangap baru mengenal korfball belakangan. Tapi langkahnya langsung cepat.

Ia mendapat panggilan untuk tampil di BK Porprov, dan hasilnya tidak main-main: podium pertama, podium kedua, hingga juara umum.

Meski begitu, basket tetap menjadi akar awalnya. Ia mulai bermain sejak kelas 7 SMP, bukan karena kebetulan, tapi karena ajakan kakaknya. Dari sana, permainan ini tumbuh dari sekadar ikut-ikutan menjadi bagian dari identitasnya.

Populer

Smansa Balikpapan Kawin Gelar dan Raih Three-peat di DBL Samarinda 2025-2026
Mau Daftar DBL Play Road to Kopi Good Day DBL Camp 2026? Begini Caranya!
Misi Revans Tuntas, Methodist 2 Kembali Kawin Gelar!
Sudah Diumumkan! Yuk Cek Deretan Pemenang DBL Most Favorite East Kalimantan
Deretan Penerima Gelar Supporter Award DBL Samarinda 2025-2026