Tularkan hal-hal seru kala bermain basket. Bagi anak-anak di bawah umur 12 tahun, bermain basket semestinya tidak mengejar siapa yang paling banyak mencetak angka.

Bukan juga soal tim mana yang menang. Pada level tersebut, anak-anak diajarkan untuk menikmati melantun. Bersorak ketika teman-temannya bisa mencetak angka atau sekadar memberi semangat kala tembakan rekan satu tim meleset.

FIBA membuat modifikasi permainan basket yang bisa diterapkan untuk kebutuhan anak-anak. FIBA Mini Basketball namanya.

Tujuan dari permainan ini adalah memberikan kesempatan sekaligus memastikan bahwa anak-anak memainkan permainan yang cocok untuk perkembangan fisik dan mental. Plus mengajak anak-anak untuk turut berpartisipasi dalam memainkan bola basket.

Salah satu peraturan di FIBA Mini Basketball adalah tidak ada papan skor ketika dua tim sedang bermain.

“Salah satu yang digaungkan dari FIBA Mini Basketball ini kan memainkannya tanpa skor. Kenapa dihilangkan? Agar anak-anak bisa menikmati permainan basket ini,” ungkap Dimas Bayu, salah satu head coach di DBL Academy.

Yap, di DBL Academy, FIBA Mini Basketball menjadi panduan dalam membuat program kurikulum untuk usia di bawah 12 tahun. Bukti bahwa bukan hanya sekadar ketangkasan yang diasah di sana. Melainkan juga perihal pengembangan karakter tiap siswanya.

“Salah satunya ya sudah pasti meningkatkan kepercayaan diri siswa. Jangan sampai basket ini membuat mereka malas untuk berolahraga karena ada tekanan waktu mereka memainkannya,” terangnya.

Secara mudahnya, FIBA Mini Basketball bisa menjadi wadah untuk mengenalkan anak-anak kepada olahraga basket secara menyenangkan.

Di DBL Academy, FIBA Mini Basketball diterapkan pada usia 5 sampai 12 tahun (Stage Hoops Kids  sampai Rookie) dengan beberapa peraturan yang benar-benar dikurasi. Salah satunya adalah tidak boleh ada steal dan blok pada level siswa yang baru mengenal permainan basket.

“Kita memberikan kesempatan yang sama untuk semua siswa agar mereka percaya diri ketika bermain basket. Berani buat melewati lawan, berani buat menembak juga,” ceritanya.

Secara mudah, FIBA Mini Basketball juga membantu anak-anak bukan hanya menyukai permainan basket tanpa ada tekanan dan tuntutan. Melainkan juga belajar hal-hal fundamental sambil bersenang-senang.

“Karena kan di usia tersebut, siswa ini harus punya gambaran kalau bermain basket itu menyenangkan. Tanpa memerhatikan papan skor atau tanpa ada paksaan dari siapa saja,” tandasnya.

Oh iya, DBL Indonesia membuka DBL Academy di kawasan Asya, Jakarta Timur, sebagai bagian dari ekspansi pengembangan olahraga pelajar.

Fasilitas ini menjadi cabang pertama di ibu kota dan akademi keempat setelah sebelumnya hadir di Surabaya (timur dan barat) serta Yogyakarta. Pembukaan ini menandai perjalanan 10 tahun DBL Academy dalam pembinaan basket usia muda di Indonesia. 

DBL Academy Jakarta mulai dibuka pada 23 April, dengan rangkaian Open House yang berlangsung pada 24–26 April. Dalam kegiatan ini, peserta dapat mengikuti free trial class dan melihat langsung fasilitas yang tersedia.

Selama Open House, peserta free trial class akan mendapatkan tiga jenis pengalaman utama, yaitu latihan fundamental basket, edukasi nutrisi, serta pengembangan karakter melalui aktivitas team building dan games. Peserta juga diberi kesempatan untuk menggunakan lapangan yang berstandar FIBA.

Populer

5 Cara Menuju Indonesia Arena: Rute TransJakarta, MRT, dan KRL
Sempat Minder Bersaing di DBL Camp, Kini Matthew Ivander Buat Keluarga Bangga
Lepas Tawaran Tim Profesional, Rimbun Sidahuruk Justru Masuk DBL All-Star
Dari Pemain IBL ke Pelatih Juara, Transformasi Tak Terduga Hendra Thio
Misi Pelatih Imanudin Husnuzan: Dari Banyuwangi, Untuk Banyuwangi