Bunyi telepon dari Surabaya itu membawa kabar yang tidak pernah ingin didengar seorang ibu.

Di ujung sana, Viknes Waren Maha Putra menangis.

Tangis itu tak terbendung sesaat setelah tuntasnya perhelatan Honda DBL Camp 2018, yang diikuti pengumuman siapa yang masuk skuad Honda DBL Indonesia All-Star 2018 (kini bernama Kopi Good Day DBL Indonesia All-Star).

Viknes gagal karena sesuatu yang tak bisa dikontrolnya: cedera angkle. 

Cedera itu memaksanya tak bisa menunjukkan performa maksimalnya. Meskipun sudah ia paksa.

Cedera itu menghentikan langkahnya tepat ketika impian yang ia kejar selama bertahun-tahun tinggal selangkah lagi. Kesempatan terakhir di masa SMA-nya untuk meraih "tiket" masuk skuad Honda DBL Indonesia All-Star 2018 sekaligus pintu menuju Amerika Serikat.

Semuanya sirna begitu saja.

Baca Juga: Viknes Waren: Alumnus DBL yang Raih Mimpi di Pesisir Laut Mediterania!

Padahal di DBL Camp kala itu Viknes total membuktikan ia layak terpilih masuk skuad All-Star.

Viknes datang dengan status pemain terbaik (MVP) Honda DBL DI Yogyakarta 2018. Di DBL Jogja, Viknes juga mencatatkan sejarah membawa SMA Budi Mulia 2 Yogyakarta tampil di final party DBL Yogyakarta selama dua musim beruntun.

Di DBL Camp 2018, Viknes terhenti di seleksi Top 28. Kegagalan itu lebih disebabkan ia tak bisa tampil optimal karena cedera.

Tapi ia berhasil bangkit dan meraih kesempatan terakhirnya lewat jalur wild card. Tapi sayang, cedera itu benar-benar menjadi mimpi buruknya malam itu.

Sang ibunda, Nour Malasari yang ada di panggilan telp itu memang tidak sedang mendampingi putranya mengikuti DBL Camp di Surabaya. Nour sedang berada di Jakarta, mendampingi anak perempuannya (anak kedua, Shania Sree Maharani) mengikuti sebuah ajang modelling.

Namun jarak tidak menghalangi seorang ibu merasakan hancurnya hati lanangnya.

Viknes Waren (tiga dari kiri) bersama dengan First Team asal DI Yogyakarta Series yang mengikuti DBL Camp 2018

Bagi remaja yang sejak SMP menghabiskan hari-harinya di lapangan basket, kegagalan itu terasa seperti akhir dari segalanya. Apalagi malam itu adalah kesempatan terakhirnya mengejar mimpi menjadi bagian dari DBL All-Star. Sebab Viknes di tahun itu sudah kelas 12. Tak ada kesempatan lagi di tahun berikutnya.

Sebagai orang tua, Nour tentu sedih bukan main. Tapi ia tidak ikut larut. Ia justru mengucapkan kalimat yang kemudian terus diingat Viknes hingga hari ini.

"Kalau Allah memberi satu kesulitan, pasti ada dua kemudahan."

Kalimat itu terdengar sederhana. Namun bertahun-tahun kemudian, justru menjadi fondasi ketika Viknes kehilangan mimpi pertamanya, lalu menemukan mimpi yang jauh lebih besar.

Nour sebenarnya tidak pernah membesarkan seorang model. Ia membesarkan seorang anak yang tidak bisa diam.

Sejak kecil, Viknes termasuk anak yang sangat aktif. Duduk tenang justru membuatnya sulit belajar. Ketika menghafal pelajaran, ia harus berjalan ke sana kemari. Berlari kecil. Bergerak tanpa henti.

"Bisa dibilang hiperaktif," kenang wanita yang kerap disapa Mami Mehga itu, lantas tertawa.

Alih-alih melarang, ia mencari tempat agar energi itu tersalurkan.

Awalnya sepak bola. Tapi kemudian Viknes lebih tertarik pada basket.

Viknes Waren (tengah) bersama dengan First Team asal DI Yogyakarta Series yang mengikuti DBL Camp 2018

Baca Juga: Viknes Waren, dari Lapangan Basket Hingga Catwalk Milan Fashion Week 

Keputusan itu ternyata mengubah jalan hidup anak bungsunya.

Nour pun mulai melihat pola yang menarik dari kehidupan anak lelaki satu-satunya itu. Menurutnya, apa yang sedang disukai Viknes, selalu dikerjakan dengan sungguh-sungguh dan ada hasilnya. Dari belajar drum, robotik, melukis, hingga basket.

Viknes tidak pernah setengah-setengah. "Kalau dia sudah pegang sesuatu, seperti ada semangat harus jadi," katanya.

Jadilah basket kemudian menjadi pusat kehidupan Viknes dan ibunya.

Sebagai support system, Nour total dalam mendukung Viknes menekuni basket. Ia bukan sekadar mengantar latihan. Nour ikut hidup di dalamnya.

Bersama para orang tua pemain lain, mereka membentuk kelompok pendukung yang selalu menemani anak-anak bertanding ke berbagai kota. Surabaya. Semarang. Dan kota-kota lainnya. Semua menggunakan biaya sendiri.

Mega bahkan seringkali menjalankan fungsi sebagai nutrisionis. Membawakan madu, susu, pisang, telur untuk disantap baik sebelum maupun sesudah pertandingan.

Bahkan pernah Nour dan para orang tua menyewa jasa psikolog dan hipnoterapis sebelum pertandingan agar anak-anak lebih siap secara mental.

Aksi Viknes Waren saat membela SMA Budi Mulia 2 Yogayakarta di DBL Yogyakarta Series 2018

Di mata Nour, semua waktu dan tenaga yang dicurahkan itu tidak pernah sia-sia. Saat banyak remaja seusia Viknes menghabiskan waktu di luar tanpa arah, putranya justru hampir setiap hari berada di lapangan basket. "Saya selalu tahu dia ada di mana. Ya di lapangan. Itu yang membuat saya tenang," ujarnya.

Bagi Nour, basket bukan sekadar olahraga. Basket adalah sekolah karakter. "Coach-coach di basket itu luar biasa membentuk mental mereka."

Pengalaman itulah yang, menurut Nour, masih terlihat jelas pada diri Viknes hingga sekarang. 

Ketika putranya mulai berkarier sebagai model profesional, banyak orang mengira modal utamanya hanyalah postur tinggi dan wajah yang khas. Padahal, menurut Nour, justru karakter yang dibentuk selama bertahun-tahun di basket menjadi pembeda.

Ia masih ingat ketika pihak agensi model menjelaskan alasan mereka tertarik kepada Viknes. Bukan semata karena penampilannya. "Mereka bilang, Viknes itu bukan cuma ganteng. Dia fighter. Dia disiplin. Dia sopan. Dan tidak pernah mengeluh," ujar pemilik katering itu.

Menurut Nour, empat karakter itu bukan muncul begitu saja. Ia melihat sendiri bagaimana kehidupan sebagai student-athlete, termasuk saat mengikuti rangkaian kompetisi dan pembinaan DBL, membentuk mental putranya. 

Aksi Viknes Waren di DBL Yogyakarta Series Tahun 2018

Latihan yang keras, tuntutan disiplin dari para pelatih, hingga kebiasaan untuk terus berjuang di bawah tekanan menjadi bekal yang akhirnya terbawa ke dunia mode internasional.

"Kalau sekarang dia bisa sekuat itu bertahan di Eropa, buat saya itu karena DBL, karena basket. Sebab di sanalah mentalnya benar-benar ditempa," katanya.

Tetapi hidup kadang tak selalu memberi hadiah kepada orang yang bekerja keras saat itu juga. 

Saat mengikuti seleksi menuju DBL All-Star, Viknes mengalami cedera engkel.

Nour masih mengingat bagaimana anaknya memaksa terus bermain. Padahal kakinya sudah membiru. Ia sudah meminta anaknya berhenti. Namun Viknes menolak.

"Mi, satu kali lagi."

"Aku masih kuat."

"Aku cuma butuh doa Mami."

Begitulah yang diucapkan Viknes ketika mengambari ibunya selama DBL Camp.

Viknes memilih terus bermain. Sampai akhirnya benar-benar tidak bisa melanjutkan. Impian yang dibangun bertahun-tahun berhenti di sana.

Nour tahu, tidak ada kalimat yang bisa menghapus rasa kecewa itu. Karena itu ia tidak mencoba menghibur dengan janji-janji kosong. Ia hanya mengajak anaknya melihat dari arah yang berbeda.

"Kalau Allah kasih ujian, berarti Allah tahu kamu mampu."

"Jangan lihat ujiannya."

"Lihat hadiah yang sedang Allah siapkan."

Waktu berjalan. Luka di engkel sembuh. Namun luka karena gagal berangkat ke Amerika tidak benar-benar hilang.

Sebagai orang tua, Nour mencoba mengajak Viknes mengalihkan fokus. Ia ingin mengantarkan mimpi Viknes berikutnya: kuliah di Prancis. Mengikuti kakak pertamanya (Chintia Jaya Malini) yang bersuamikan seorang dosen di Rennes.

Viknes Warren bersama sang Ibunda

Viknes lagi-lagi menunjukkan ketekunannya. Tak ingin setengah-setengah. Tawaran beasiswa basket dari beberapa kampus di kota tempatnya tinggal, Jogjakarta, ia tolak. Ia memilih mengambil kursus Bahasa Prancis selama satu tahun. Tujuannya jelas: kuliah di Prancis.

Semua berjalan sesuai rencana. Kursus Bahasa Prancis lancar. Segala proses administrasi sudah diurus. Visa sudah tinggal mengambil di kedutaan di Jakarta. Eh pas ngambil, petugas kedutaan bilang, Prancis lockdown.

Kala itu memang dunia lagi berduka. Virus korona melanda semua belahan dunia. Berbagai aktvitas dihentikan. Pergerakan manusia pun dibatasi.

"Waktu itu saya masih ingat, covid yang varian Delta lagi tinggi," kenang ibunda.

Rencana yang diimpikan pun kembali runtuh. Untuk kedua kalinya Viknes menangis lagi. 

Tapi ada tembok tangguh yang selalu membuat remaja kelahiran Bandar Lampung itu bisa bersandar dan kemudian merangkak kembali berdiri tegak. Ia adalah Nour Malasari.

Nour kembali mengulang kalimat yang sama saat putranya gagal menembus skuad DBL Indonesia All-Star: “Kalau tidak dapat (gagal) bukan berarti berhenti di situ. Allah sedang menyiapkan hadiah."

Saat itu, bahkan dirinya sendiri belum tahu hadiah seperti apa yang dimaksud. Hadiah itu ternyata datang dari tempat yang sama sekali tidak mereka bayangkan. Dari mata elang seseorang di agency model di Jakarta. Bukan dari mata elang seorang pelatih basket.

"Jadi hadiah dari Allah itu datang ketika Viknes dalam kondisi menunggu untuk bisa kembali berangkat ke Prancis. Saat itu ia banyak di Jakarta untuk mengantarjemput kakaknya yang berprofesi sebagai model," lanjut Nour.

Ceritanya, salah seorang di agency model melihat Viknes punya potensi luar biasa. "Orang itu menawari Viknes lewat kakaknya. Saat kakaknya menawari Viknes, ia langsung menolak," kenang sang ibu.

"Aku ini pemain basket. Tidak mungkin jadi model," begitu kira-kira ego Viknes. Baginya, berjalan di catwalk terasa sangat jauh dari identitas yang selama ini ia bangun. 

Nour pun tidak memaksa. Pun demikian dengan kakaknya. Ia hanya sempat bilang, "daripada menganggur, coba saja."

Viknes awalnya tak mau. Sang pencari bakat ini berupaya membujuk. Salah satu rayuannya adalah meminta Viknes sekadar foto. Jadi foto model. Tak perlu jadi peragawan.

Sesi foto pertama menghasilkan honor jutaan rupiah. "Bagi anak yang saat itu baru lulus SMA, uang sebesar ya bikin dia senang sekali," kata Nour.

Dari sana, Viknes mulai tertarik dengan dunia model. Ia lantas ikut Jakarta Fashion Week (JFW). Menang. Lalu datanglah kontrak dari agensi global.

Source: Instagram/Viknes_Waren

Viknes pun akhirnya berangkat ke luar negeri. 

Gagal lewat jalur DBL Indonesia All-Star karena cedera. 

Gagal lewat jalur kuliah karena pandemi.

Di titik itulah Nour dan anaknya akhirnya memahami hadiah yang telah disiapkan Sang Pencipta.

“Ternyata hadiah dari Allah lewat jalur itu,” kata Mega.

Manusia memang sering kali terlalu sibuk menangisi pintu yang tertutup, sehingga lupa masih ada pintu lain yang sedang dibuka.

Dalam waktu singkat, bisa dibilang karier Viknes sebagai model melejit. Ia beberapa kali mengikuti ajang internasional bergengsi, termasuk yang menyita perhatian saat berjalan di Milan Fashion Week pada 2024 silam.

"Kalau dulu misalnya tidak terkendala lockdown, mungkin hanya bisa kuliah. Itu pun hanya di Prancis. Tapi kini dia bisa keliling dunia,” ucap Nour bangga.

Namun bagi Nour, pencapaian terbesar anaknya bukanlah Milan, Paris, atau Barcelona. Yang paling ia syukuri adalah Viknes tetap membawa nilai-nilai yang ditanamkan sejak remaja: disiplin, pantang mengeluh, menghormati orang lain, dan bertanggung jawab. 

Nilai-nilai yang diamininya tumbuh selama bertahun-tahun menjalani kehidupan sebagai student-athlete di DBL.(*)

Populer

Viknes Waren, dari Lapangan Basket Hingga Catwalk Milan Fashion Week
22 Tahun DBL: Elang Dewanto dan Masa Depannya di Liga Basket Pro
TC Dimulai! Skuad DBL All-Star 2026 Asah Fisik dan Taktik di Hari Pertama
Menang Besar di Scrimmage Game, Tim Putri DBL All-Star Enggan Merasa Puas
Viknes Waren: Alumnus DBL yang Raih Mimpi di Pesisir Laut Mediterania!