ESG

DBL ACADEMY

JR DBL

MAINBASKET

SAC

HAPPY
WEDNESDAY

DISWAY

MAINSEPEDA

Potret dancer SMA Ciputra Surabaya, Queensha Aulia Tarwoto dengan sejumlah medali dan piagam.

Segudang prestasi bukan sekadar istilah untuk menggambarkan perjalanan Queensha Aulia Tarwoto. Jika seluruh pencapaiannya dituliskan, daftar tersebut bahkan bisa memenuhi empat halaman.

Hal tersebut juga dirasakan Queensha. Dancer yang kini menjadi bagian dari tim dance SMA Ciputra Surabaya di AQUA DBL Dance 2026 East Java-North itu justru memiliki cerita yang jauh lebih luas di luar panggung.

Jika seluruh prestasinya dituliskan, daftar tersebut bahkan bisa memenuhi empat halaman. Mulai dari kompetisi riset dan inovasi, softball, debat, olimpiade, World Scholar's Cup, robotik, hingga dance pernah menjadi bagian dari perjalanannya.

Namun, di antara begitu banyak aktivitas tersebut, ada satu bidang yang perlahan menemukan tempat khusus dalam dirinya yaitu research and innovation.

Sejak kecil, Queensha memang terbiasa mencoba berbagai hal.

“Aku dari kecil memang sering penasaran sama hal-hal baru dan aku juga sering ikut banyak kegiatan,” cerita Queensha.

Baca juga: Skenario DBL East Java-North 18 Agustus: Smamita Bisa Memicu Do or Die!

Kebiasaan tersebut terus terbawa hingga ia beranjak remaja. Sampai akhirnya muncul satu pertanyaan dalam dirinya.

“Kok aku banyak banget hal yang aku lakukan, ya, tapi aku belum punya satu kegiatan yang benar-benar aku tekuni dan bisa support aku di masa depan?”

Pertanyaan itu menjadi titik awal Queensha mulai mencari sesuatu yang benar-benar ingin ia tekuni. Jawabannya datang melalui research dan innovation.

Ketertarikannya bermula dari rasa penasaran sederhana terhadap teknologi. Salah satu yang paling membekas adalah ketika ia menemukan teknologi asal China berupa alat pendeteksi gelombang otak.

Queensha Aulia Tarwoto saat berhasil mendapatkan Gold Medal di I2ASPO 2025 (Foto: dokumentasi pribadi Queensha Aulia Tarwoto)

Queensha menemukan teknologi tersebut melalui internet. Ia tertarik bukan hanya karena bentuk alatnya, tetapi karena melihat bagaimana teknologi yang berkaitan dengan medis dapat dimanfaatkan untuk membantu persoalan lain.

“Awalnya aku tertarik karena konsepnya menurut aku keren banget. Dari situ aku mulai cari tahu cara kerjanya, komponen yang dibutuhkan, sampai akhirnya coba develop (mengembangkan) versiku sendiri,” ujarnya.

Rasa penasaran itu kemudian berubah menjadi sebuah proyek penelitian.

Queensha mengembangkan alat yang dapat mendeteksi gelombang otak siswa ketika sedang belajar. Data tersebut kemudian digunakan untuk melihat apakah seorang siswa sedang fokus atau tidak. Tidak berhenti pada perangkat, Queensha juga mengembangkan sistem pendukungnya.

Hasil pembacaan gelombang otak tersebut dapat dikirim ke aplikasi yang bisa diakses orang tua maupun siswa. Aplikasi itu juga dilengkapi artificial intelligence (AI) yang memberikan sejumlah saran mengenai cara belajar.

Proyek tersebut menjadi penelitian pertama yang benar-benar ia tekuni. Hasilnya pun langsung membuka pintu baru. Remaja berusia 16 tahun itu berhasil meraih Medali Emas sekaligus Special Innovation Award di ASEAN Innovative Science Environmental and Entrepreneur Fair (AISEEF) 2024.

Baca juga: Ultras Stemda Spill Rumus di DBL Arena!

“Itu project yang pertama kali aku seriusin dan akhirnya dapat Gold Medal dan Special Award di AISEEF 2024. Itu juga salah satu momen yang bikin aku sadar kalau research ternyata bisa jadi sesuatu yang benar-benar aku tekuni,” tuturnya.

Namun, perjalanan Queensha dalam dunia penelitian tidak selalu berjalan mulus. Salah satu proyek yang paling berkesan justru menjadi proyek yang paling banyak mengajarkan tentang kegagalan. Namanya Algae Carbon Capture.

Proyek tersebut menjadi tantangan besar bagi Queensha karena ia harus memadukan teknologi dengan ilmu biologi. Padahal, biologi bukan bidang yang ia ambil di sekolah.

“Jadi rasanya benar-benar dari nol sampai akhirnya bisa menghasilkan sesuatu,” katanya.

Prosesnya pun tidak sebentar. Queensha menghabiskan sekitar lima bulan untuk mengerjakan proyek tersebut.

Ia mengaku sempat berada di titik ingin menyerah. Pertumbuhan algae yang diharapkan tidak berjalan sesuai target. Setelah menghabiskan waktu dan tenaga, hasil eksperimennya justru jauh dari ekspektasi.

“Aku sempat kayak, aduh ini aku ganti aja kali ya untuk nelitinya,” kenangnya.

“Waktu itu aku cukup capek karena hasilnya nggak sesuai ekspektasi, ditambah aku harus belajar banyak hal yang sebelumnya bukan bidangku terutama biologi,” ujarnya.

Namun, Queensha memilih tidak berhenti.

Ia teringat sebuah kalimat yang kemudian menjadi pegangan selama proses penelitian. “Quitters never win, winners never quit.”

Meski begitu, bagi Queensha, kalimat tersebut bukan berarti seseorang harus memaksakan diri ketika sudah kelelahan.

Baca juga: Lidya Kusuma, Satu-Satunya Perempuan di Bangku Tim Putra First

“Buat aku, ‘never quit’ lebih berarti ke jangan berhenti cuma karena sesuatu jadi susah atau hasilnya belum sesuai ekspektasi,” jelasnya.

Dalam penelitian, kegagalan justru menjadi bagian dari proses.

“Gagal itu normal banget. Yang penting bukan selalu berhasil di percobaan pertama, tapi kita mau belajar dari kegagalan itu dan coba lagi dengan cara yang lebih baik instead of quitting (daripada berhenti),” lanjut Queensha.

Perjuangan tersebut akhirnya terbayar. Algae Carbon Capture miliknya berhasil meraih Medali Emas sekaligus Semi-Grand Award dalam Indonesia International Applied Science Project Olympiad (I2ASPO) 2025.

Queensha sendiri sempat tidak terlalu berharap banyak ketika menunggu pengumuman.

“Jujur sebelum pengumuman aku malah sempat overthinking dan takut duluan jadi aku nggak terlalu berekspektasi tinggi,” katanya.

Karena itu, ketika namanya diumumkan sebagai peraih Medali Emas, ia sudah merasa sangat senang.

“Eh ternyata aku juga dapat Semi-Grand Award, dan itu benar-benar bikin aku shock banget. Aku kayak, ‘Hah, seriusan?!’” ujarnya.

Dari pengalaman itu pula Queensha belajar bahwa kegagalan tidak selalu berarti dirinya salah.

“Kadang itu justru cara buat tahu apa yang perlu di-improve agar lebih baik,” tuturnya.

Queensha DBL Dance

Menariknya, kehidupan Queensha tidak hanya berkutat dengan penelitian. Di tengah kesibukannya mengejar berbagai prestasi akademik, ia tetap memiliki ruang untuk seni.

Queensha merupakan salah satu dancer tim SMA Ciputra Surabaya yang tampil di AQUA DBL Dance 2026 East Java-North. Bahkan, ia turut mendesain kostum tim dance tersebut. Dengan tema besar 100% Indonesia, Queensha memadukan ornamen Garuda dan berbagai inspirasi batik ke dalam desain kostum. 

“Aku mix antara ornamen Garuda, batik dan lain-lain, tapi tetap memberi kesan modern. Aku suka banget sama seni, I really love it,” jelasnya.

Menjalani keduanya tentu tidak selalu mudah. Queensha pernah mengalami benturan antara jadwal latihan dance dan proses penelitian, terutama ketika keduanya sedang berada di tahap penting.

“Kadang habis latihan aku masih lanjut research atau sebaliknya dan itu cukup melelahkan buat aku,” katanya.

Ia kemudian belajar membagi waktu. Pada hari sekolah, Queensha biasanya menghabiskan sekitar satu jam untuk mengerjakan proyek. Sementara pada akhir pekan, waktunya bisa mencapai dua hingga empat jam.

Semua dilakukan agar keduanya tetap berjalan. Dukungan keluarga juga menjadi bagian penting dalam perjalanan tersebut. Sang ibu menjadi sosok yang paling sering mendampingi Queensha. Mulai dari mengantar, menemani lomba, hingga memberikan motivasi.

“Mama selalu nganter aku bolak-balik, kasih semangat dan motivasi kalau aku tuh bisa dan mampu buat ngerjain,” tuturnya.

Baca juga: Tak Hanya Ramaikan Tribun, Fratorian Bawa Cerita di Balik Koreografi

Sang ayah pun tetap memberikan dukungan meski kesibukan pekerjaan membuatnya tidak selalu bisa berada di samping Queensha.

Kini, berbagai pengalaman tersebut perlahan mengarahkan Queensha kepada satu tujuan. Ia ingin menjadi electrical engineer.

“Kita habis ini juga udah mau menuju Industry 4.0 which combines industrial environment with AI, IoT, Machine Learning,” jelasnya.

Ia juga tertarik pada pengembangan teknologi untuk energi terbarukan, seperti solar panel dan electric vehicle. Pada akhirnya, mimpi Queensha bukan sekadar memiliki gelar sebagai engineer.

“Aku suka banget kalau bisa membangun sesuatu yang benar-benar bisa membantu sekitar dan menyelesaikan masalah yang sekarang ada using technology,” tutupnya.

Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 siap mengguncang 31 kota di 22 provinsi se-Indonesia. Seperti musim sebelumnya, DBL Indonesia akan menjaring para student-athlete terbaik dari setiap kota untuk memperebutkan tiket DBL Indonesia All-Star melalui program DBL Camp.

Tak kalah seru, Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 juga menghadirkan AZA 3X3 Competition serta AQUA DBL Dance 2026-2027 dengan mengusung tema "100% Indonesia".  Seluruh keseruan pertandingan bisa disaksikan secara langsung di kanal YouTube DBL Play, serta di YouTube Good Day ID khusus untuk laga final. (*)

Profil dancer ini bisa dilihat pada halaman di bawah ini (pengguna Android bisa melakukan scroll dengan double tap)

Comments (0)
PRESENTED BY
OFFICIAL SUPPLIERS
SUPPORTING PARTNERS