Jauh sebelum mengenakan jersey Sixteen (julukan tim basket SMAN 16 Surabaya) dan tampil di panggung Honda DBL with Kopi Good Day 2026 East Java-North, Muhammad Alif Bima Prakoso hanyalah seorang anak kecil yang mengenal basket dari sang ayah.

Kini, olahraga yang dulu ia kenal melalui cerita dan tayangan basket bersama ayahnya itu membawa remaja yang akrab disapa Bima menjadi salah satu pemain penting bagi Sixteen. Pada laga melawan SMKN 7 Surabaya (Stemda), Bima tampil gemilang dengan torehan 18 poin, 6 rebound, dan 1 assist untuk membantu Sixteen meraih kemenangan telak dengan skor akhir 58-5.

Meski menjadi pencetak poin terbanyak dalam pertandingan tersebut, Bima mengaku tidak memiliki target pribadi untuk mengejar angka. Baginya, kemenangan tim tetap menjadi prioritas utama.

“Enggak nyangka juga sih. Soalnya tadi aku main buat tim, jadi enggak terpikir buat poin banyak. Aku cuma menjalankan sistem yang dikasih coach,” ujar Bima.

Bagi pemain kelas XII tersebut, momen ketika berhasil menyumbangkan poin menjadi salah satu hal yang paling berkesan. Bukan hanya karena catatan statistik pribadi, tetapi karena ia merasa bisa memberikan dampak untuk tim.

Baca Juga: Dari Uganda, Sang Ayah Saksikan Mimpi Lamanya Hidup Lewat Khalif di DBL

“Momen pas bisa nyumbang poin itu. Rasanya bisa kasih impact buat tim, bantu teman-teman, dan bikin supporter senang juga,” ungkapnya.

Meski Sixteen berhasil unggul jauh atas Stemda, Bima dan rekan-rekannya tetap menjaga fokus hingga akhir pertandingan. Menurutnya, setiap lawan harus tetap dihargai dengan memberikan permainan terbaik.

“Jangan remehkan lawan. Kalau kita enggak meremehkan lawan, kita pasti tetap fight dengan memberikan yang terbaik. Enggak peduli siapa lawannya, kita harus tetap kasih yang terbaik,” katanya.

Namun, perjalanan Bima hingga sampai di panggung DBL East Java-North tidak terjadi begitu saja. Kecintaannya terhadap basket sudah tumbuh sejak kecil, tepatnya saat ia masih duduk di bangku kelas VI SD.

Ada sosok sang ayah yang menjadi alasan terbesar Bima mulai mengenal olahraga tersebut. Sang ayah yang pernah bermain basket saat SMA di Jombang sering memperlihatkan berbagai tayangan basket kepada dirinya, termasuk cuplikan anime Slam Dunk yang menjadi favoritnya.

“Karena ayah saya juga kebetulan main basket. Dulu ayah sering kasih aku highlight-highlight basket, salah satunya dari Slam Dunk yang memang jadi favoritnya. Dari situ aku mulai terinspirasi,” cerita pemain bernomor punggung 17 itu.

Baca Juga: Bukan Cuma Dance, Cintya Ramadhani Juga Lihai Lempar Cakram!

Pengaruh sang ayah tak berhenti pada tayangan basket. Pada 2019, ketika Bima masih duduk di bangku SD, sang ayah pernah mengajaknya menyaksikan langsung pertandingan DBL.

Bima memang tak lagi mengingat secara lengkap pertandingan yang ia saksikan kala itu. Namun, satu hal yang masih melekat dalam ingatannya adalah penampilan tim SMAN 2 Surabaya (Smada) dan sosok Kevin Otniel yang kala itu mencuri perhatiannya.

Match-nya Smada, tapi aku lupa lawan siapa. Seingatku cuma Smadanya aja. Yang paling diingat saat itu atmosfernya sih. Kebetulan pas itu yang lagi enak Kevin Otniel,” kenangnya.

Bima bahkan masih mengingat alasan mengapa permainan Kevin begitu menarik perhatiannya. Meski tak mengenal sang pemain secara langsung, gaya bermain Kevin membuatnya terkesan.

“Suka sama gaya mainnya sih. Dia enggak terlalu ngoyoh kalau main, tapi kalau bolanya di dia mesti jadi poin atau assist,” ujar remaja yang mengidolakan Lebron James itu.

Bagi Bima, keputusan sang ayah mengajaknya menonton DBL juga bukan tanpa alasan. Dibandingkan pertandingan basket lainnya, DBL terasa lebih dekat dengan pengalaman sang ayah ketika masih duduk di bangku SMA.

“Karena DBL itu lebih seru dan dekat sama pengalaman ayah waktu SMA dulu. Jadi mungkin ayah pengin nostalgia sambil ngajak aku nonton dan menikmati pertandingan basket bareng,” tuturnya.

Momen sederhana pada 2019 itu pun menjadi bagian dari perjalanan Bima mengenal panggung DBL. Saat kecil, ia memiliki mimpi sederhana yaitu mengikuti jejak sang ayah yang lebih dulu mencintai basket.

“Waktu kecil aku cuma ingin jadi seperti ayah saya. Ingin mengikuti jejak ayah saya,” ucapnya.

Kini, mimpi itu membawanya ke salah satu panggung terbesar basket pelajar Indonesia. Musim ini menjadi tahun ketiga Bima tampil di DBL secara berturut-turut.

Tema DBL musim ini, “Home of the Dreamers”, pun terasa begitu dekat dengan perjalanan Bima. Baginya, DBL bukan hanya tempat bertanding, tetapi juga ruang bagi para pemain muda untuk mengejar mimpi.

“Iya, benar-benar jadi rumah buat mimpi. Soalnya anak-anak yang ikut DBL pasti punya harapan untuk bisa bersinar. DBL ini, alhamdulillah, jadi tempat buat anak-anak termasuk saya menunjukkan kemampuan dan bersinar,” tutup remaja berusia 17 tahun itu.

Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 siap mengguncang 31 kota di 22 provinsi se-Indonesia. Seperti musim sebelumnya, DBL Indonesia akan menjaring para student-athlete terbaik dari setiap kota untuk memperebutkan tiket DBL Indonesia All-Star melalui program DBL Camp.

Tak kalah seru, Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 juga menghadirkan AZA 3X3 Competition serta AQUA DBL Dance 2026-2027 dengan mengusung tema "100% Indonesia".  Seluruh keseruan pertandingan bisa disaksikan secara langsung di kanal YouTube DBL Play, serta di YouTube Good Day ID khusus untuk laga final. (*)

Profil pemain ini bisa dilihat pada halaman di bawah ini (pengguna Android bisa melakukan scroll dengan double tap)

 

Populer

Dari Uganda, Sang Ayah Saksikan Mimpi Lamanya Hidup Lewat Khalif di DBL
Dari Dangdut-Wayang, XIXD Crew dan Warrior DC Kemas AQUA DBL Dance dengan Epik
Hasil DBL East Java-North: Hari Kedua Sajikan Overtime Dramatis!
Siapa Andalanmu? Pilih Mereka untuk Jadi DBL Favorite 2026 South Kalimantan!
Bawakan Koreo Macan, Ultras Stemda Junjung Kreativitas dan Attitude di Tribun