Koreo Sonic dan suara perkusi mengiringi perjuangan Ultras Madness saat mengawal tim putra SMA 17 Agustus 1945 di DBL Arena Surabaya, Minggu, 9 Agustus 2026.
Sejak sebelum pertandingan dimulai, energi Ultras Madness sudah terasa dari tribun. Massa suporter SMA 17 Agustus 1945 datang membawa suara, perkusi, hingga koreo berukuran besar yang disiapkan untuk menemani setiap langkah Smatag di lapangan.
“Yang pastinya pertama koreo dan juga massa yang rame. Terus mungkin perkusi yang asyik,” ujar Muhammad Dava, capo Ultras Madness.
Baca juga: T-One Mania Lawan Kemustahilan di DBL Arena, Surabaya!
Persiapan tersebut tidak muncul dalam waktu singkat. Sejak pertengahan Juli, Ultras Madness mulai mengerjakan koreo berukuran 15 x 10 meter. Prosesnya melibatkan divisi kreatif untuk membuat sketsa, sebelum pengecatan dilakukan bersama-sama.
“Kalau persiapan properti, koreo dari Juli, mungkin Juli tengah. Sudah mulai ngerjain pelan-pelan,” jelas Dava.
Koreo tersebut membawa karakter Sonic dengan tampilan negative filter. Bagi Ultras Madness, pemilihan Sonic tidak memiliki filosofi khusus. Karakter tersebut dipilih sebagai pemeran utama dalam visual yang mereka siapkan.
“Untuk maknanya bagi Smatag mungkin enggak ada, tapi memang pemeran utamanya aja,” kata Dava.
Ultras Madness mengawal tim putra SMA 17 Agustus 1945 dari tribun saat pertandingan Honda DBL with Kopi Good Day 2026 East Java-North di DBL Arena Surabaya.
Selain koreo, perkusi dan chant flag ikut dibawa ke tribun. Persiapan suara dilakukan di sekolah, terutama menjelang pertandingan. Dalam satu pekan sebelum DBL, latihan perkusi dilakukan secara penuh untuk menjaga kekompakan massa.
“Kalau seminggu menjelang DBL main, pasti seminggu itu full buat latihan perkusi,” tutur Dava.
Sekolah turut menjadi tempat Ultras Madness mempersiapkan diri. Seluruh proses tersebut dilakukan untuk membangun energi yang nantinya dibawa ke tribun. Bagi Dava, rasa lelah selama persiapan justru menjadi bagian dari cara mereka membakar semangat massa Smatag.
“Ini kayak membakar semangat anak-anak Smatag aja sih. Makanya dikuat-kuatin,” ujarnya.
Semangat tersebut kemudian dibawa ke tribun ketika pertandingan dimulai. Perkusi menjaga ritme, massa bernyanyi bersama, sementara koreo Sonic menjadi sajian visual untuk menemani perjuangan Smatag.
Dukungan terus diberikan hingga pertandingan berakhir.
Baca juga: Menunggu 20 Tahun, Horsamania Akhirnya Bisa Bilang “Hello DBL”
Kali ini, SMATAG belum berhasil membawa kemenangan. Mereka harus mengakui keunggulan SMAN 2 Lamongan dengan skor 18-21.
Namun, bagi Ultras Madness, hasil pertandingan bukan alasan untuk berhenti memberikan dukungan.
Dava menitipkan pesan sederhana kepada para pemain Smatag.
“Ojo loyo-loyo,” tegasnya.
Singkat, tetapi jelas. Ultras Madness ingin para pemain tetap bersemangat dan tidak menjadikan hasil pertandingan sebagai alasan untuk berhenti berjuang.
Sebab, sejak pertengahan Juli, mereka sudah menghabiskan waktu untuk satu tujuan menemani Smatag di lapangan.
Koreo boleh selesai dibentangkan. Perkusi boleh berhenti dimainkan.
Namun, semangat Ultras Madness belum selesai.
Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 siap mengguncang 31 kota di 22 provinsi se-Indonesia. Seperti musim sebelumnya, DBL Indonesia akan menjaring para student-athlete terbaik dari setiap kota untuk memperebutkan tiket DBL Indonesia All-Star melalui program DBL Camp.
Tak kalah seru, Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 juga menghadirkan AZA 3X3 Competition serta AQUA DBL Dance 2026-2027 dengan mengusung tema "100% Indonesia". Seluruh keseruan pertandingan bisa disaksikan secara langsung di kanal YouTube DBL Play, serta di YouTube Good Day ID khusus untuk laga final. (*)
Baca juga: Trzy Mania Ajak Stigabaya Lawan Keputusasaan Lewat Koreo
Profil sekolah ini bisa dilihat pada halaman di bawah ini (pengguna Android bisa melakukan scroll dengan double tap).