Ada cerita menarik di balik perjalanan basket SMAN 10 Surabaya (Big Ten) di Honda DBL with Kopi Good Day 2026 East Java-North. Tim ini tidak hanya berjuang bersama para pemainnya, tetapi juga mendapat dukungan langsung dari orang-orang yang pernah merasakan atmosfer yang sama sebagai siswa Big Ten.

Mulai dari kepala pelatih, asisten pelatih, hingga tim medis, seluruhnya merupakan alumni SMAN 10 Surabaya. Mereka adalah Syahmi Rianta Aswayni sebagai head coach, Benedict Kresnadito Nugroho sebagai asisten pelatih, serta Irsyad Ramadan yang bertugas sebagai medical support. Ketiganya kini kembali ke sekolah dengan satu misi: membuat basket Big Ten terus berkembang dan memiliki masa depan yang lebih cerah.

Bagi Syahmi, perjalanan kembali ke Big Ten sebagai pelatih bahkan dimulai tak lama setelah ia lulus dari sekolah tersebut. Saat itu, ia belum melanjutkan kuliah dan masih menghabiskan masa libur setelah kelulusan. Sang pelatih yang sebelumnya mendampinginya kemudian menawarkan Syahmi untuk membantu melatih ketika dirinya berhalangan hadir.

Baca Juga: Lima Musim Dampingi Slekoors, Coach Ari Punya PR Besar soal Regenerasi

Semula hanya membantu sesekali, Syahmi justru semakin sering terlibat dalam sesi latihan. Dari sana, muncul tawaran untuk mengambil lisensi kepelatihan. Ia pun mengambil kesempatan tersebut hingga akhirnya dipercaya menjadi pelatih Big Ten sampai sekarang.

"Awalnya cuma disuruh bantu-bantu buat ngelatih pas waktu dia nggak bisa. Setelah udah sering ngelatih, pelatihku bilang, 'Oh yaudah, ambil lisensi sekalian.' Kebetulan dia juga kerja, jadi bentrok. Akhirnya aku ambil lisensi dan yaudah jadi ngelatih terus sampai sekarang," cerita Syahmi.

Menariknya, basket bukanlah sesuatu yang sejak awal menjadi fokus utama Syahmi. Ia justru baru bergabung dengan basket Big Ten ketika duduk di kelas XII, setelah diajak teman. Meski hanya sempat mengikuti beberapa turnamen saat SMA, olahraga tersebut terus ia tekuni hingga kuliah.

Kini, setelah tiga tahun menangani Big Ten, Syahmi mulai melihat pola yang selalu muncul dalam perjalanan sebuah tim sekolah. Setiap generasi memiliki cerita dan tantangannya sendiri. Ketika pemain kelas XII lulus, ia harus kembali membangun komposisi tim dari awal, mencari pemain yang tepat, sekaligus menyusun sistem agar bisa kembali kompetitif.

"Setiap angkatan punya ceritanya masing-masing. Tiap angkatan pasti punya ups and downs. Kalau ada yang kelas tiga lulus, kita harus minimal rombak dari awal lagi. Terus harus cari yang cocok, gimana sistemnya, dan begitu-begitu," ujarnya.

Meski begitu, Syahmi menilai perkembangan Big Ten selama beberapa musim terakhir cukup membanggakan. Hanya saja, ada satu catatan yang masih ingin mereka pecahkan. Dalam tiga musim terakhir, langkah Big Ten selalu terhenti di Round 2.

"Bisa dibilang cukup membanggakan. Walaupun kita juga stuck di Round 2 terus dari tiga tahun belakangan. Mungkin kurang hoki aja," katanya sambil berkelakar.

Pekerjaan rumah lainnya adalah membangun regenerasi. Sebagai sekolah negeri, Big Ten menghadapi tantangan tersendiri dalam mendapatkan pemain baru. Tidak seperti sekolah yang sejak awal sudah dikenal sebagai tujuan utama pemain basket usia SMP, Syahmi harus bekerja lebih keras untuk membuat Big Ten menjadi pilihan yang dilirik calon pemain.

Karena itu, salah satu mimpi besarnya adalah menjadikan Big Ten sebagai first choice bagi pemain-pemain muda yang ingin melanjutkan pendidikan sekaligus mengembangkan kemampuan basket.

"Kalau rencananya, ya penginnya Big Ten jadi first choice," tegas Syahmi.

Perjalanan Syahmi sebagai pelatih juga tidak selalu mudah. Ketika pertama kali menangani Big Ten, jarak usia antara dirinya dan pemain hanya terpaut satu hingga dua tahun. Kondisi itu membuatnya harus berjuang mendapatkan kepercayaan dari pemain yang sebelumnya menganggapnya sebagai teman sebaya.

"Tantangannya mereka anggap saya selalu kayak temannya mereka. Jadi kayak nggak bisa diatur. Kadang susah juga mendapatkan kepercayaan mereka. Tapi makin lama, angkatan atas juga lulus, jadi keadaannya lumayan lebih gampang," tuturnya.

Meski kini berdiri di pinggir lapangan, jiwa pemain dalam diri Syahmi rupanya belum benar-benar hilang. Justru saat menyaksikan pertandingan DBL, ia masih merasakan adrenalin yang sama seperti ketika bermain. Pengalaman sebagai pemain di bangku kuliah bahkan membuatnya merasa masih ingin terus bermain basket.

"Kalau lihat match DBL kayak greget banget, pengen main. Soalnya pas SMA baru main basket, jadi belum puas. Sampai kuliah malah seru. Kalau disuruh seriusin ngelatih terus, kayaknya masih pengen main aja," ungkapnya.

Namun, pilihan untuk kembali ke Big Ten sebagai pelatih bukan semata-mata soal basket. Ada keinginan untuk memberikan sesuatu kepada sekolah yang pernah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya. Bersama Benedict dan Irsyad, Syahmi kini menjadi bagian dari lingkaran alumni yang kembali untuk membangun Big Ten dari dalam.

Mimpi mereka mungkin tidak langsung tentang gelar juara. Syahmi ingin para pemain Big Ten mendapatkan pengalaman yang bisa berguna untuk perjalanan mereka setelah lulus. Baginya, kemenangan di sekolah bukan satu-satunya ukuran keberhasilan sebuah tim.

"Yang penting kalau menurut saya, walaupun mereka nggak bisa dapat juara di sekolah, setidaknya mereka sehat dan bisa jadi bekal buat lanjut ke kuliahnya yang lebih bagus," pungkasnya.

Baca Juga: Hasil DBL East Java-North: Slekoors dan Sembilan Dominan!

Dari alumni, untuk alumni, dan terutama untuk generasi Big Ten berikutnya. Syahmi, Benedict, dan Irsyad kini membawa semangat yang sama: membuat basket SMAN 10 Surabaya tidak berhenti di satu generasi, tetapi terus tumbuh menjadi lebih keren dari sebelumnya.

DBL East Java-North 2026 termasuk dalam rangkaian Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 yang siap mengguncang 31 kota di 22 provinsi se-Indonesia. Seperti musim sebelumnya, DBL Indonesia akan menjaring para student-athlete terbaik dari setiap kota untuk memperebutkan tiket DBL Indonesia All-Star melalui program DBL Camp. 

Tak kalah seru, Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 juga menghadirkan AZA 3X3 Competition serta AQUA DBL Dance 2026-2027 dengan mengusung tema “100% Indonesia”. Seluruh keseruan pertandingan bisa disaksikan secara langsung di kanal YouTube DBL Play, serta di YouTube Good Day ID khusus untuk laga final. (*)

Populer

Setelah Berprestasi di Cheerleading, Michelle Aurellia Jajal Panggung DBL Dance
Dwayne Rafael Gosal, Sang Penerus Jejak Gosal di DBL West Jakarta
Berikut Best Five AQUA DBL Dance 2026 West Jakarta, Ada Sekolahmu?
Aksi Kapal Bajak Laut Magmatroopers Tutup Kisah Pirates of the Caribbean
Hasil DBL West Jakarta: Tunas Muda Menang Dramatis, Buksi Masih Mendominasi