Keluarga Devan yang Tak Pernah Berhenti Mengawal

| Penulis : 

Tahun kedua Devananda Arya Pradipta di Junior DBL Surabaya membawa cerita yang berbeda. Kali ini, ia tak lagi sekadar menjadi anak yang mengikuti jejak keluarganya di basket. Devan mulai menjalani perjalanannya sendiri sebagai student-athlete, dengan keluarga yang terus berada di belakangnya.

Pada laga Junior DBL 2026 Surabaya hari Kamis, 3 September 2026, tim putra SMPN 22 Surabaya harus mengakui keunggulan SMP Petra 3 Surabaya dalam pertandingan ketat. Devan menjadi salah satu pemain yang tampil paling lama untuk SMPN 22 Surabaya.

Mengenakan jersei nomor 17, Devan bermain selama hampir 32 menit. Ia menyumbangkan 10 poin, 3 rebound, dan 1 assist. Namun, kontribusi itu belum cukup membawa Dapuda, julukan tim basket SMPN 22 Surabaya keluar sebagai pemenang. Mereka kalah tipis 22-23.

Di tengah pertandingan yang hanya dipisahkan satu angka itu, ada sosok yang terus memperhatikan permainan Devan dari sisi lapangan yaitu sang kakak, Daffandhika Reza.

Reza bukan orang yang asing dengan dunia basket. Ia pernah merasakan dua musim Junior DBL Surabaya dan dua musim DBL East Java-North pada tahun 2015-2016 bersama SMAN 1 Sidoarjo. Kini, pengalamannya di lapangan berubah menjadi bekal untuk mengawal sang adik.

Selesai pertandingan, Reza biasanya akan mengevaluasi permainan Devan.

“Kalau habis tanding biasanya saya evaluasi. Sebelum tanding juga kadang saya kasih masukan,” ujar Reza.

Menurut Reza, ada beberapa karakter permainan Devan yang mengingatkannya pada dirinya sendiri. Devan bermain cepat dan cukup kuat ketika melakukan drive.

“Kalau mainnya memang agak mirip saya. Dia cepat, terus kalau drive juga kuat,” katanya.

Namun, pada laga tersebut Reza melihat sang adik sempat kelelahan dan kehilangan fokus. Ia juga memahami bahwa Devan menghadapi lawan yang kuat dalam pertandingan yang berjalan ketat hingga akhir.

Aksi Devan bersama Dapuda saat menghadapi SMP Petra 3 Surabaya di Junior DBL 2026 Surabaya

Evaluasi seperti itu bukan sesuatu yang hanya muncul ketika Junior DBL berlangsung. Basket sudah menjadi bagian dari keseharian keluarga mereka.

Devan saat ini berlatih empat sampai lima kali dalam seminggu melalui latihan sekolah dan klubnya. Jika ditambah latihan privat pada Minggu, frekuensinya bisa mencapai enam hingga tujuh sesi dalam sepekan.

Reza pun beberapa kali ikut masuk dalam rutinitas tersebut. Mereka bisa berlari bersama sejauh lima sampai 10 kilometer atau melakukan shooting bersama.

“Kadang kalau saya lagi capek, dia bisa lari sendiri,” tutur Reza.

Padahal, ketika pertama kali mengenal basket, Devan sebenarnya hanya mengikuti lingkungan yang sudah lebih dulu dibangun kedua kakaknya.

Saat pandemi Covid-19, keluarga mengarahkannya untuk mencoba basket. Ketika itu, kedua kakaknya sedang berada di luar kota sehingga keluarga ingin Devan memiliki kegiatan dan tidak sendirian di rumah.

Dua kakaknya memang sudah lebih dulu bermain basket. Dari sanalah Devan mengenal olahraga tersebut. Namun, Erinda Rakhmawati, sang ibu, menegaskan bahwa Devan akhirnya memilih basket atas kemauannya sendiri.

“Awalnya memang karena kakaknya. Tapi lama-lama dia sendiri yang pilih basket,” ungkap Erinda.

Sejak saat itu, keluarga tidak hanya menjadi pihak yang mengenalkan basket kepada Devan. Mereka ikut mengawal prosesnya, tanpa membandingkan perjalanan Devan dengan kedua kakaknya.

Erinda memilih tidak membandingkan permainan ketiga anaknya. Baginya, masing-masing memiliki perjalanan sendiri.

Saat Devan bertanding, ia lebih sering mengambil posisi sebagai pendukung dari tribun. Ia berusaha hadir ketika bisa, memberikan semangat, dan memastikan Deva tetap tenang.

Doanya pun sederhana.

Erinda hanya ingin Devan bisa bermain dengan fokus dan tidak mengalami cedera.

Dukungan keluarga juga hadir dalam bentuk-bentuk kecil di luar pertandingan. Devan terkadang meminta hadiah sebelum bertanding, mulai dari ponsel, sepatu, hingga mainan. Keluarga kemudian berdiskusi dan menjadikan hadiah tersebut sebagai bentuk apresiasi atas usahanya.

Di rumah, remaja berusia 14 tahun itu sebenarnya dikenal cukup pendiam sekaligus tetap punya sisi playful. Ia senang bermain game, sehingga Erinda biasanya mengingatkannya dengan cara yang perlahan ketika sudah terlalu lama bermain.

Semua itu menjadi bagian dari perjalanan Devan sebagai student-athlete yang kini memasuki tahun keduanya di Junior DBL.

Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 siap mengguncang 31 kota di 22 provinsi se-Indonesia. Seperti musim sebelumnya, DBL Indonesia akan menjaring para student-athlete terbaik dari setiap kota untuk memperebutkan tiket DBL Indonesia All-Star melalui program DBL Camp.

Tak kalah seru, Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 juga menghadirkan AZA 3X3 Competition serta AQUA DBL Dance 2026-2027 dengan mengusung tema "100% Indonesia".  Seluruh keseruan pertandingan bisa disaksikan secara langsung di kanal YouTube DBL Play, serta di YouTube Good Day ID khusus untuk laga final. (*)

Profil pemain ini bisa dilihat pada halaman di bawah ini (pengguna Android bisa melakukan scroll dengan double tap)

Populer

Ukir Sejarah Final Perdana, Kepsek Smabul Instruksikan Suporter Kawal Tim Basket
Preview dan Link Live Streaming Final Putra Junior DBL 2026 Malang
Hasil Drawing Honda DBL with Kopi Good Day 2026 Central, East, dan South Jakarta
Pengumuman Diskualifikasi Partisipan DBL West Nusa Tenggara 2026
Jadwal dan Link Live Streaming DBL East Java-South, Rabu, 2 September 2026