“Dari aku main kelas 10. Aku sudah punya mimpi buat bisa bawa sekolah main di babak delapan besar,” kata Rasyid Aaqil, pemain SMAN 24 Bandung di ajang Honda DBL with Kopi Good Day 2026.

Tahun ini menjadi tahun ketiga sekaligus terakhir Rasyid melantai di Bandung Arena.

Seama tiga tahun itu pula, perjalanan musim ketiga menjadi paling berkesan menurutnya. Bukan, bukan sekadar putra Dua Empat sukses mengamankan satu tempat di babak Big Eight saja.

“Waktu aku kelas 10 itu aku nggak bisa main apa-apa. Shooting nggak bisa. dribble apalagi. Mungkin aku kepilih itu karena aku sedikit lebih baik dari yang lain,” ungkapnya.

Nah, karena hal itu pula yang membuat Rasyid berbenah. Ia mulai berlatih keras untuk mengasah ketangkasan. Apalagi, pada tahun pertamanya melantai, Dua Empat terhenti di laga kedua.

Semusim berselang, namanya kembali terpilih di skuad Dua Empat. Sayang, langkahnya terhenti di gim pertama.

“Kalah di DBL itu nggak enak banget. Kita mau nggak mau disuruh sabar buat nunggu tahun depan. Nah, buat aku yang kelas 12 sudah nggak ada kata tahun depan lagi. Harus all out setiap pertandingannya,” ujarnya.

Sebelum musim ini dimulai, Rasyid diam-diam menaruh mimpinya setinggi langit. Doi ingin menutup masa SMA dengan manis di DBL West Java-East. Bisa tampil di partai final jadi salah satu mimpi yang ia panjat. Tapi, membidik satu tempat di babak delapan besar jadi mimpi kecil yang akan ia perjuangkan betul.

Terakhir kali putra Dua Empat tampil di babak delapan besar ada pada musim 2019. Ia ingin mengulang sejarah tersebut pada tahun terakhirnya melantai.

“Pastinya senang banget ya. Rasanya pasti terharu dan bahagia banget bisa bawa sekolah aku sampai delapan besar. Buat aku ini pencapaian yang luar biasa sih mengingat setiap pertandingan di sini itu sudah kayak do or die,” ceritanya.

Putra Dua Empat melesat ke babak delapan besar setelah mengalahkan SMAN 23 Bandung dengan skor akhir 31-26. Putra SMAN 23 Bandung sempat unggul di kuarter pertama. Sayang, keunggulan tersebut gagal mereka jaga di sisa tiga kuarter.

Selain itu, sebaran poin para pemain Dua Empat sedikit jauh lebih merata. Tim putra SMAN 23 Bandung mengandalkan Kenzo Putra sebagai tumpuan untuk mencetak angka. Kenzo menjadi pencetak angka terbanyak dengan raihan 13 poin. Di skuad Dua Empat, ada Radith A P dan Rafi Purnama yang menyumbang masing-masing delapan poin. Kemenangan ini membuat Dua Empat akan bertemu SMAN 9 Bandung di babak delapan besar.

“Kalau dari aku sendiri, aku ingin bisa terpilih masuk jadi First Team dan berangkat ke DBL Camp. Kan kata orang mimpi itu nggak boleh nanggung. Kalau bisa yang tinggi sekalian. Nah, mimpi aku bisa berangkat ke DBL Camp dan belajar banyak hal di sana,” tandasnya.

Rasyid berhasil mewujudkan salah satu mimpinya. Mimpi membawa sekolah menembus babak delapan besar. Sederhana. Tapi, Rasyid percaya ini adalah buah dari kerja keras dan prosesnya selama ini. Semangat terus, Rasyid!

Profil Rasyid Aaqil bisa kalian cek di bawah ini.

Populer

5 Tips Membangun Kepercayaan dan Relasi Antara Pelatih dengan Pemain
MVP DBL 2021: Albert Richard Akhirnya Bisa Balas Ejekan Kakak
Bawakan Pesan Damai, Padmanaba Buat Seisi GOR UNY Trenyuh
Dari Ajakan Papa, Felix Temukan Rumah di Basket
Kemenangan Vita Jadi Penutup Raditya Ibrahim sebelum Rehat Panjang