Ada masa ketika Andreas Marcellino Bonfilio berdiri di sisi lapangan sebagai student-athlete SMA St. Louis 1 Surabaya. Di sana, ia mengenal sosok Ivan Widianto Tjahjono sebagai pelatih yang menuntut kedisiplinan dan perhatian pada detail.
Kini, posisi keduanya berubah.
Bonfil sudah menjadi Head Coach tim putri Sinlui. Sementara
Coach Ivan, yang kini masih menahkodai tim putra Sinlui, justru berada di sampingnya sebagai asisten pelatih untuk tim putri.
Hubungan yang dulu terbentuk di antara pelatih dan pemain kini berlanjut dalam bentuk yang berbeda. Bonfil membawa sejumlah pelajaran dari Ivan ke dalam caranya menangani tim, terutama soal disiplin.
Baca juga: Di Gloria 1, Lyly Bawa Mimpi dari Kediri
“Coach Ivan itu orangnya totalitas. Dia detail banget, beda sama coach-coach lain yang pernah saya temui. Beliau disiplin, keras, dan standarnya tinggi,” cerita Bonfil.
Potret pelatih tim putri SMA St Louis 1 Surabaya, Coach Bonfil, saat memberikan arahan untuk putri Sinlui di DBL East Java-North 2026
Salah satu kebiasaan yang masih diingat Bonfil adalah bagaimana Coach Ivan membentuk kedisiplinan student-athlete dari hal-hal kecil. Pemain harus sudah datang 15 menit sebelum latihan dimulai dan dalam kondisi siap. Bahkan ketika masuk ke urusan strategi, perpindahan posisi atau langkah kecil di lapangan pun harus dilakukan sesuai instruksi.
Bagi Bonfil, cara Coach Ivan melatih itu meninggalkan bekas yang cukup kuat. Ia kemudian membawa kebiasaan tersebut ketika mulai menjadi pelatih, meski tidak semuanya diterapkan dengan cara yang sama.
“Aku ambil kebiasaan dari coach yang saya suka, salah satunya Coach Ivan. Saya suka disiplinnya jadi coba saya terapkan. Tapi karena ini tim putri, saya juga menyesuaikan cara melatihnya,” ujarnya.
Ada satu hal lain yang membuat perjalanan mereka kembali bertemu.
Baca juga: Azzam Menemukan Cara Bertumbuh sebagai Student-Athlete Lewat Basket dan Baseball
Ketika mulai mempersiapkan tim putri Sinlui untuk Honda DBL with Kopi Good Day 2026 East Java-North, Bonfil awalnya mengerjakan semuanya sendiri. Namun, saat proses pendaftaran tim, ia meminta Coach Ivan untuk ikut membantu sebagai asisten pelatih.
Bonfil membutuhkan seseorang untuk diajak berdiskusi, bertukar pandangan, sekaligus menjadi teman berpikir ketika harus menentukan strategi. Coach Ivan pun bersedia.
Kehadiran Coach Ivan membuat Bonfil tidak lagi merasa menjalani musim ini sendirian.
“Senang sih, karena saya jadi nggak sendirian. Ada orang hebat di belakang saya,” kata Bonfil.
Meski pernah menjadi pelatihnya, Bonfil dan Coach Ivan kini punya pembagian peran yang jelas. Coach Ivan membantu memberikan masukan, mengurus statistik dan sejumlah pekerjaan di balik layar. Sementara keputusan akhir tetap berada di tangan Bonfil sebagai Head Coach.
Menurut Bonfil, komunikasi keduanya juga berjalan baik. Pengalaman masa lalu sebagai pemain yang pernah dilatih Ivan justru membuatnya memahami karakter sang pelatih dan cara berpikirnya.
Baca juga: Castle Mania Bawa Surtur, Simbol Amarah yang Menggema di Tribun
Kontribusi Coach Ivan pun terasa ketika pertandingan berjalan dalam situasi yang menuntut keputusan cepat. Bonfil menyebut mantan pelatihnya itu bisa memberikan sudut pandang berbeda, terutama ketika ia harus berpikir di bawah tekanan.
“Dia bantu kasih sudut pandang baru. Apalagi kalau lagi di bawah pressure, dia itu cepat mikir. Dari sisi teknik dan knowledge juga banyak membantu,” tutur Bonfil.
Kini, keduanya kembali berdiri di lapangan yang sama. Hanya saja, bukan lagi sebagai pelatih dan pemain seperti bertahun-tahun lalu.
Hal-hal yang dulu dipelajari Bonfil sebagai student-athlete kini ikut membentuk caranya memimpin tim. Dan di sisi lain, Coach Ivan yang pernah menanamkan standar tersebut kini menjadi orang yang membantu Bonfil menjalankan perannya sebagai kepala pelatih.
Peran mereka berubah, tetapi hubungan yang dibangun dari lapangan itu tetap berlanjut. Kali ini, Bonfil tidak lagi hanya menerima arahan dari Coach Ivan. Ia punya tanggung jawab untuk mengambil keputusan sendiri, dengan sang mantan pelatih tetap berada di sisinya.
Baca juga: Mentereng di 2 Olahraga, Lecika Iola Virjuanita Tekuni Basket dan Futsal
Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 siap mengguncang 31 kota di 22 provinsi se-Indonesia. Seperti musim sebelumnya, DBL Indonesia akan menjaring para student-athlete terbaik dari setiap kota untuk memperebutkan tiket DBL Indonesia All-Star melalui program DBL Camp.
Tak kalah seru, Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 juga menghadirkan AZA 3X3 Competition serta AQUA DBL Dance 2026-2027 dengan mengusung tema "100% Indonesia". Seluruh keseruan pertandingan bisa disaksikan secara langsung di kanal YouTube DBL Play, serta di YouTube Good Day ID khusus untuk laga final. (*)
Profil pelatih ini bisa dilihat pada halaman di bawah ini (pengguna Android bisa melakukan scroll dengan double tap)