Berinteraksi dengan murid yang beragam di era digital mendorong pentingnya pengembangan diri secara berkelanjutan bagi seorang pendidik. Kesadaran inilah yang menjadi motivasi utama Nova Riama, guru Biologi sekaligus pembina PMR di SMAN 1 Sentani yang memutuskan mendaftar program DBL Super Teacher.

"Guru harus terus mengembangkan diri supaya apa yang kami lakukan benar-benar berdampak positif bagi murid. Apalagi di era digital ini, kebutuhan masyarakat terus berubah, sehingga guru pun harus menyesuaikan diri dalam mendidik dan mengajar," ungkapnya. Dengan keyakinan ini, Nova -sapaan akrabnya- berharap anak-anak tanah Papua bisa mengaktualisasikan pembelajaran di kelas dengan kehidupan sehari-harinya.

Latar belakang keilmuan sebagai guru Biologi ternyata mengantarkan Nova untuk terpilih menjadi pembina Palang Merah Remaja (PMR). Konsep-konsep struktur dan fungsi sistem organ manusia seperti peredaran darah, pernapasan, hingga reproduksi menjadi fondasi teoretis yang menguatkan praktik kepalangmerahan, termasuk donor darah dan pertolongan pertama. Dalam kegiatan donor darah rutin di SMAN 1 Sentani, para anggota PMR tidak hanya diarahkan untuk mengorganisir acara, tetapi juga terdorong untuk menjadi pendonor secara sukarela karena sudah memahami fungsi vital tubuh.

Baca Juga: DBL Super Teacher: Tsaniyah, Guru MAN 2 Kota Malang yang Mendidik lewat Riset

"Lewat peran saya sebagai pembina PMR ini, saya ingin menunjukkan bahwa materi yang dipelajari di kelas itu relevan dengan kehidupan nyata," tambahnya.

Nova Riama saat Mengajar Mata Pelajaran Biologi di Kelasnya (Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Menjalankan peran ganda sebagai pengajar, wali kelas, dan pembina PMR tentu menghadirkan tantangan tersendiri. Keberagaman latar belakang sosial-ekonomi murid kerap membuat teori psikologi pendidikan tidak selalu mudah diterapkan secara instan, terutama ketika menghadapi siswa yang tertutup atau orang tua yang memiliki keterbatasan waktu. Selain itu, tuntutan menyiapkan strategi dan media pembelajaran yang berdedikasi untuk setiap kelas serta menyelaraskan komunikasi antar-guru pendamping ekstrakurikuler menjadi tantangan harian. Meski begitu, komitmen untuk tetap mendampingi murid secara konsisten dan mengomunikasikan setiap kendala secara terbuka menjadi kunci utama dalam menjaga keberlangsungan kegiatan belajar.

Apabila ditanya terkait dengan langkah untuk menyatukan akademik dan nonakademik, Nova memilih pendekatan Problem-Based Learning berbasis isu sosio-saintifik dengan mengangkat topik malaria yang sangat relevan dengan kondisi daerah Papua. Pembelajaran tersebut dirancang dalam alur yang sistematis. Di awali di kelas dengan mempelajari keterkaitan kondisi lingkungan terhadap perkembangbiakan nyamuk Anopheles dan dampak malaria bagi organ tubuh, murid diajak berpikir kritis menentukan langkah pencegahan yang paling efektif.

Pemahaman tersebut kemudian dibawa ke dalam aksi nyata PMR melalui program "Kenali Malaria Lawan Nyamuk", di mana murid mendata serta membersihkan sarang nyamuk di area sekolah dan membuat kampanye edukatif. Seluruh data dan pengalaman dari aksi PMR ini kemudian dibawa kembali ke dalam kelas sebagai bahan refleksi, laporan, dan penilaian akademik. Melalui alur terpadu ini, teori di kelas memberi dasar ilmu untuk bertindak, sementara aksi nyata di PMR memberikan bukti ilmiah yang bermakna, membentuk murid menjadi individu yang kritis, kolaboratif, dan siap menjadi agen perubahan di tengah masyarakat.

Baca Juga: DBL Super Teacher: Ameliasari Kesuma, Guru Ekonomi yang Rawat Budaya Menulis

“Dari itu murid diharapkan tak hanya paham mengenai malaria, tetapi juga mereka dilatih untuk berpikir kritis, bekerja sama, dan mengantisipasi dampak perubahan iklim terhadap kesehatan. Jadi mereka dapat menjadi agen perubahan yang menyebarkan pengetahuan di keluarga maupun masyarakat di sekitar mereka,” tuturnya.

Jika ditanya terkait dengan inovasi atau pendekatan pembelajaran apa yang ingin nova kembangkan. Ia ingin menghubungkan antara pembelajaran di kelas dengan PMR dalam satu alur belajar dan isu nyata sebagai penghubungnya. Mengingat di Papua jumlah penderita malaria masih tergolong tinggi. Oleh karena itu, Nova ingin menerapkan socio-saintifik. Misalnya “mengapa malaria sulit dicegah di lingkungan kita?” Dari situ diberikan berbagai pilihan jawaban, menggunakan kelambu atau dengan pengelolaan genangan air. Setelah itu mereka akan mencari bukti-bukti ilmiah, berdiskusi, dan berpendapat.

“Karena persoalan ini tidak hanya soal sains tetapi juga soal kebiasaan dengan lingkungan dan ekonomi dari masyarakat,” tambahnya.

Nova Riama adalah satu dari Top 72 guru yang berhasil lolos DBL Super Teacher. Ia akan menjalani rangkaian selanjutnya untuk bisa masuk ke Top 24.

Baca Juga: DBL Super Teacher: Rusneni Husen, Hidupkan Talenta Bahasa Indonesia di Halmahera

DBL Super Teacher adalah program pelatihan, pengembangan kapasitas, dan apresiasi bagi guru pendamping yang digagas oleh DBL Indonesia bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).

Program ini ditujukan bagi tenaga pendidik yang berdedikasi tinggi dan meyakini bahwa proses belajar tidak hanya berhenti di dalam ruang kelas. Guru-guru terpilih juga akan mendapatkan kesempatan mengikuti pelatihan hingga belajar (short course) ke luar negeri.

Program yang didukung Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) ini gratis dan terbuka bagi seluruh guru di Indonesia. (*)

Populer

Tanamkan Disiplin, Coach Anton Bawa CHIS Tembus Final DBL untuk Pertama Kalinya!
Hasil DBL Jakarta Championship: Putra dan Putri Jubilee Mendominasi!
Hegemoni Terjaga, Benzar Kunci Gelar Keempat Beruntun DBL North Sulawesi
Puspa dan Rini, Saudara Kembar yang Belum Tuntas Mengejar Gelar Juara
Sempat Homesick, Evelyn Papuana Belajar Makna Tangguh di Perantauan