Bagaimana rasanya memasuki sebuah pertandingan ketika kamu sudah tahu bahwa peluang untuk menang begitu kecil?

Benawa Daniswan Estanto punya jawabannya.

Bagi student-athlete SMA Ecosociotech TB Simatupang itu, mengetahui kekuatan lawan bukan berarti harus kehilangan keberanian. Ia bahkan sudah memperkirakan bahwa timnya akan menghadapi pertandingan yang sulit pada Honda DBL with Kopi Good Day 2026 South Jakarta.

Namun, Benawa tidak datang untuk menyerah.

Ada sesuatu yang ingin ia perjuangkan. Sesuatu yang menurutnya jauh lebih berharga daripada sekadar kemenangan.

Terlebih, musim ini merupakan kesempatan terakhirnya mengenakan jersei Ecosociotech di panggung DBL. Setelah tiga musim berlaga, Benawa ingin memastikan bahwa kehadirannya meninggalkan sesuatu yang berarti bagi rekan-rekannya.

“Mau dibilang sedih, ya sedih. Tapi dari awal aku tahu kalau tim aku bakal kalah. Winning is not my only objective,” ungkap remaja yang akrab disapa Ben itu.

Benawa bukan sedang meremehkan kemampuan timnya sendiri. Ia hanya menyadari bahwa Ecosociotech masih memiliki sejumlah kekurangan yang harus dibenahi.

Baca Juga: Kilas Balik Keseruan Final DBL Jakarta di Indonesia Arena dari Tahun ke Tahun

“Kita dalam segi persiapan dan komposisi pemain memang sudah kalah, tapi itu bukan artinya kita menyerah,” tegasnya.

Jumat, 9 Oktober 2026, menjadi hari yang menandai berakhirnya perjalanan Benawa bersama Ecosociotech di DBL.

Pada laga perdana Honda DBL with Kopi Good Day 2026 South Jakarta, Ecosociotech harus berhadapan dengan SMA Muhammadiyah 3 Jakarta.

Pertandingan tersebut rupanya berjalan sesuai dengan kekhawatiran Benawa. Ecosociotech kesulitan mengimbangi permainan lawan hingga akhirnya harus menerima kekalahan dengan skor 22-65.

Di tengah situasi tersebut, Benawa tetap berusaha memberikan kontribusi terbaiknya. Ia menjadi penyumbang angka terbanyak bagi Ecosociotech dengan torehan 13 poin, 1 rebound, 2 steal, dan 2 blok.

Catatan itu memang belum cukup untuk mengubah hasil pertandingan. Namun, Benawa tidak pernah menganggap selisih angka yang semakin jauh sebagai alasan untuk berhenti mencoba.

“Justru pas ngeliat selisih poin makin jauh, bikin aku lebih semangat lagi untuk mengejar ketertinggalan,” ceritanya.

Bahkan, ada satu kalimat yang seolah menggambarkan seluruh perjuangannya pada pertandingan tersebut.

“If the clock hasn’t run out yet, I will never stop trying.”

Selama waktu pertandingan belum habis, Benawa akan terus berusaha.

Prinsip tersebut mungkin terdengar sederhana. Namun, mempertahankan semangat ketika tim tertinggal jauh tentu bukan perkara mudah. Apalagi, Benawa tahu bahwa pertandingan tersebut bisa menjadi penampilan terakhirnya di DBL.

Ia tidak lagi memiliki kesempatan untuk memperbaiki hasil bersama Ecosociotech pada musim berikutnya. Sebagai student-athlete kelas XII, perjalanan basketnya di tingkat SMA sudah mendekati akhir.

Lantas, apa yang sebenarnya ingin Benawa capai jika sejak awal ia tidak menjadikan kemenangan sebagai satu-satunya tujuan?

Baca Juga: Debut Belum Berbuah Manis, Rafa Yusuf Masih Simpan Mimpi ke Indonesia Arena

Jawabannya ternyata berkaitan dengan masa depan tim yang akan ia tinggalkan.

Potret student-athlete SMA Ecosociotech TB Simatupang, Benawa saat menghadapi SMA Muhammadiyah 3 Jakarta di DBL South Jakarta 2026

Tiga musim bukan waktu yang sebentar.

Selama itu pula Benawa menjadi bagian dari perjalanan Ecosociotech di DBL. Kini, ketika waktunya bersama tim sekolah hampir selesai, ia justru lebih memikirkan apa yang bisa dipelajari rekan-rekannya daripada jumlah kemenangan yang berhasil mereka kumpulkan.

“Aku ingin meninggalkan sesuatu yang bermakna untuk tim aku yang jauh lebih berharga daripada piala. Tujuan aku dari awal itu untuk mengembangkan tim sekolah aku,” tuturnya.

Benawa ingin rekan-rekannya memahami bahwa kekalahan bukan sesuatu yang harus membuat mereka berhenti.

Baginya, keberhasilan seorang atlet tidak selalu terlihat dari banyaknya trofi yang tersimpan di lemari. Ada proses panjang yang juga patut dihargai, termasuk keberanian untuk kembali mencoba setelah mengalami kegagalan.

“I want them to learn that an athlete’s success isn’t measured by how many championships they won, but how many times they failed and still got back up again,” ujarnya.

Benawa ingin meninggalkan pemahaman bahwa kesuksesan seorang atlet tidak hanya diukur dari jumlah gelar juara, tetapi juga dari kemampuannya untuk bangkit setelah terjatuh.

Itulah alasan mengapa ia tetap bisa menemukan sesuatu yang berharga dari perjalanan terakhirnya bersama Ecosociotech.

“Harapan kita tak pernah untuk menang, tapi untuk berkembang dan terus berproses,” katanya.

Pernyataan tersebut bukan berarti Benawa tidak ingin merasakan kemenangan. Ia pun memiliki mimpi untuk bermain di panggung yang lebih besar, sama seperti student-athlete lainnya.

Salah satu tempat yang ingin ia datangi adalah Indonesia Arena.

Menjelang Final DBL Jakarta Championship, Indonesia Arena kembali menjadi panggung yang begitu dinantikan.

Baca Juga: Cek! Begini Cara Beli Tiket Presale Final DBL Jakarta 2026 di Aplikasi Gopay

Bagi sebagian student-athlete, kesempatan tampil di sana menjadi hasil dari perjuangan panjang bersama sekolah. Namun, bagi mereka yang sudah tersingkir, arena tersebut masih menjadi mimpi yang belum berhasil diwujudkan.

Benawa termasuk salah satunya.

Menurutnya, Indonesia Arena merupakan arena basket terbaik di Indonesia. Ia pun tidak menampik bahwa kesempatan tampil sebagai finalis Jakarta Championship di sana akan menghadirkan perasaan tersendiri.

“Tegang,” jawabnya singkat ketika diminta membayangkan pengalaman tersebut.

Meski jawabannya sederhana, Benawa ternyata menyimpan keinginan yang sama dengan banyak anak basket lainnya.

“Kayaknya semua mimpi anak basket di Indonesia untuk main di Indonesia Arena, and I’m proud to say I’m one of them,” ungkapnya.

Sayangnya, mimpi tersebut tidak berhasil ia wujudkan hingga musim terakhirnya bersama Ecosociotech.

Ia harus menerima kenyataan bahwa perjuangannya bersama Ecosociotech selesai lebih cepat daripada yang diharapkan. Tidak ada tiket menuju Championship Series, apalagi kesempatan tampil di Indonesia Arena.

Namun, Benawa sejak awal memang tidak ingin perjalanan terakhirnya hanya dinilai dari hasil pertandingan.

Ia ingin rekan-rekannya terus berkembang, belajar dari kekalahan, dan memiliki keberanian untuk kembali berjuang ketika kesempatan berikutnya datang.

Benawa mungkin belum berhasil membawa pulang piala pada musim terakhirnya. Namun, jika kelak rekan-rekannya mampu bangkit dan membawa Ecosociotech melangkah lebih jauh, ada bagian dari harapannya yang ikut terwujud.

Sebab, bagi Benawa, kemenangan yang sesungguhnya tidak selalu ditentukan oleh hasil akhir pertandingan.

Terkadang, kemenangan justru dimulai dari keberanian untuk terus mencoba, bahkan ketika kita sudah tahu bahwa jalan yang dihadapi tidak akan mudah.

Baca Juga: Manifesting Berhasil, Srikandi Al Maruf Resmi Melangkah ke Indonesia Arena!

Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 siap mengguncang 31 kota di 22 provinsi se-Indonesia. Seperti musim sebelumnya, DBL Indonesia akan menjaring para student-athlete terbaik dari setiap kota untuk memperebutkan tiket DBL Indonesia All-Star melalui program DBL Camp.

Tak kalah seru, Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 juga menghadirkan AZA 3X3 Competition serta AQUA DBL Dance 2026-2027 dengan mengusung tema "100% Indonesia".  Seluruh keseruan pertandingan bisa disaksikan secara langsung di kanal YouTube DBL Play, serta di YouTube Good Day ID khusus untuk laga final. (*)

Profil pemain ini bisa dilihat pada halaman di bawah ini (pengguna Android bisa melakukan scroll dengan double tap)

Populer

Cara Benawa Daniswan Memaknai Arti Kemenangan yang Sesungguhnya
Bawa Pulang Gelar MVP, Doa Richelle Terjawab Lebih dari Harapannya
Jadwal dan Link Live Streaming DBL Jakarta Championship, Selasa, 20 Oktober 2026
Ayasha-Aqylla, Dua Sahabat yang Bertemu Sebagai Rival di Final DBL South Jakarta
Sempat Menyerah, Justin Sinambela Kini Berharap Bisa Tembus Indonesia Arena