Menjelang Final DBL Jakarta 2026 yang akan berlangsung pada Sabtu, 21 November 2026, Indonesia Arena kembali menjadi panggung yang dinantikan para student-athlete. Namun, di balik antusiasme menyambut partai puncak, ada pula cerita tentang mereka yang harus mengakhiri perjuangan sebelum mencapai arena tersebut.
Salah satunya datang dari Rafa Yusuf Wijaya, penggawa SMA Labschool Ciracas yang harus menerima kenyataan pahit pada musim debutnya. Perjalanan Rafa bersama timnya terhenti di pertandingan pertama Honda DBL with Kopi Good Day 2026 East Jakarta setelah kalah di pertandingan pertama dari SMAN 91 Jakarta dengan skor 22-26.
Dalam pertandingan tersebut, Rafa menjadi salah satu sosok yang paling menonjol dengan torehan 10 poin, 8 rebound, dan 6 steal. Meski telah menunjukkan performa apik, student-athlete kelas X itu belum mampu membawa timnya melangkah ke babak berikutnya.
“Ngerasa sedih karena belum bisa mencapai target dan berharap bisa bermain lebih bagus dari itu,” ungkap Rafa.
Kekalahan dengan selisih empat poin tersebut menyisakan kekecewaan tersendiri bagi Rafa. Ia bahkan mengaku sempat merasa putus asa ketika pertandingan tidak berjalan sesuai harapan. Namun, dukungan yang terus ia terima membuatnya kembali bersemangat untuk bangkit.
“Pada awalnya, aku ngerasa sedikit putus asa. Tetapi, melihat teman-teman yang selalu mendukung, aku jadi lebih terdorong untuk bisa bangkit,” ceritanya.
Baca Juga: Tembok Keraguan yang Diruntuhkan Dirham dengan Tekad Baja
Selain rekan-rekan setim, Rafa memiliki motivasi lain yang membuatnya terus berusaha memberikan penampilan terbaik. Ia ingin membalas dukungan kedua orang tuanya yang telah mendampingi perjalanan basketnya sejak awal.
“Karena melihat perjuangan orang tua yang sudah men-support aku di basket, dari awal hingga sampai saat ini. Dan juga ingin memberikan yang terbaik untuk keluarga dan juga teman-teman aku,” ujarnya.

Aksi penggawa SMA Labschool Ciracas, Rafa Yusuf Wijaya saat berlaga di Honda DBL with Kopi Good Day 2026 East Jakarta
Kedekatan Rafa dengan basket rupanya juga tidak terlepas dari sang ayah, yang dahulu pernah bermain di sebuah klub. Meski sudah tidak aktif, ayahnya masih sesekali menyempatkan diri bermain basket.
Rafa sendiri baru mulai serius menekuni olahraga tersebut ketika duduk di bangku kelas VII SMP. Sebelumnya, ia hanya bermain basket untuk bersenang-senang tanpa memiliki keinginan khusus untuk mendalaminya.
Ketertarikannya mulai tumbuh setelah melihat seorang kakak kelas yang bermain basket. Dorongan dari pembina basket di sekolahnya semakin meyakinkan Rafa untuk mengembangkan kemampuan yang dimilikinya.
“Terus, pembina basket aku waktu itu bilang aku ada potensi, jadi aku kembangin basket aku,” kenangnya.
Perjalanan yang dimulai sejak SMP itu akhirnya membawa Rafa tampil bersama SMA Labschool Ciracas di DBL Jakarta 2026. Menariknya, musim ini juga menjadi musim pertama SMA Labschool Ciracas berkompetisi di DBL East Jakarta.
“Seneng banget, dapat banyak pengalaman,” tuturnya.
Meski baru menjalani debut, Rafa dan rekan-rekannya sudah memiliki target yang cukup tinggi. Mereka ingin menjuarai region Jakarta Timur, melaju ke Championship, dan membuka peluang untuk tampil di Indonesia Arena.
Baca Juga: Seluruh Tiket Final DBL Jakarta 2026 Sold Out, Sampai Jumpa di Indonesia Arena!
Namun, sebagai tim debutan, Rafa menyadari bahwa Labschool Ciracas masih memiliki sejumlah kekurangan, terutama dalam hal persiapan. Ia pun mengungkapkan bahwa timnya sempat memasang target awal untuk mencapai Fantastic Four.
“Aku dan tim sudah memiliki harapan untuk dapat bermain di Indonesia Arena. Tetapi, karena kita tim debut dan persiapan kita kurang matang, target awal kita adalah Fantastic Four. Dan kita terus bekerja keras untuk tahun depan,” jelasnya.
Keinginan Rafa untuk tampil di Indonesia Arena bukan tanpa alasan. Baginya, arena tersebut menawarkan pengalaman berbeda karena besarnya antusiasme penonton terhadap kompetisi DBL.
“Yang membuat Indonesia Arena begitu istimewa karena hype basket di Indonesia melalui DBL begitu besar. Euforianya berbeda dari biasanya, dan juga ditonton satu Indonesia,” ungkapnya.
Sayangnya, Rafa harus menunda keinginannya untuk merasakan atmosfer tersebut setelah Labschool Ciracas tersingkir lebih awal. Meski kecewa, ia berusaha melihat pengalaman ini sebagai awal dari perjalanan yang masih panjang.
Terlebih, Rafa masih duduk di bangku kelas X dan memiliki kesempatan untuk kembali mengikuti DBL dalam dua musim mendatang. Ia berharap pengalaman pertamanya bisa menjadi bekal untuk membawa Labschool Ciracas meraih hasil lebih baik.

Potret kebersamaan Rafa (tengah) bersama sang ibu (kiri) dan sang ayah (kanan) (Foto: Dokumentasi pribadi Rafa Yusuf Wijaya)
“Sedikit sedih, tetapi aku mengingat ini adalah permulaan. Dan juga ini first year aku, jadi aku berharap bisa mencapai target di dua tahun ke depan,” ucapnya.
Di luar ambisinya untuk membawa Labschool Ciracas ke Indonesia Arena, Rafa ternyata menyimpan cita-cita yang lebih besar. Ia ingin suatu hari menjadi bagian dari Tim Nasional Basket Indonesia dan mendapat kesempatan bertanding di level internasional.
“Mimpi terbesar aku di basket yaitu bisa menjadi bagian dari Timnas. Dan aku terus bekerja keras agar bisa membawa nama Indonesia di pertandingan internasional,” tegasnya.
Baca Juga: Syahazlina Ayu, Sang Peredam Serangan Pemain Kunci Lawan
Musim debut Rafa memang belum berakhir seperti yang ia bayangkan. Namun, pengalaman menghadapi kekalahan, dukungan orang-orang terdekat, dan kesempatan untuk terus berkembang menjadi bekal penting bagi perjalanan basketnya.
Ketika Final DBL Jakarta Championship semakin dekat, Rafa masih harus menyaksikan panggung impiannya dari luar lapangan. Meski begitu, ia punya dua musim untuk kembali memperjuangkan kesempatan itu.
Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 siap mengguncang 31 kota di 22 provinsi se-Indonesia. Seperti musim sebelumnya, DBL Indonesia akan menjaring para student-athlete terbaik dari setiap kota untuk memperebutkan tiket DBL Indonesia All-Star melalui program DBL Camp.
Tak kalah seru, Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 juga menghadirkan AZA 3X3 Competition serta AQUA DBL Dance 2026-2027 dengan mengusung tema "100% Indonesia". Seluruh keseruan pertandingan bisa disaksikan secara langsung di kanal YouTube DBL Play, serta di YouTube Good Day ID khusus untuk laga final. (*)
Profil pemain ini bisa dilihat pada halaman di bawah ini (pengguna Android bisa melakukan scroll dengan double tap)