DBL ACADEMY

Junior DBL

MAINBASKET

SAC

HAPPY
WEDNESDAY

DISWAY

MAINSEPEDA

Momen Haryanti saat menjadi pembina Science Club Fisika (Foto: dokumentasi pribadi Haryanti)

Fisika merupakan pelajaran yang menyeramkan mungkin bukan hal yang asing di telinga kita semua. Haryanti, guru Fisika di SMA Tirtamarta–BPK Penabur Jakarta Selatan, punya cara sendiri untuk membuat fisika menjadi lebih menyenangkan.

Ia mengembangkan Science Club Fisika sebagai ruang bagi siswa untuk belajar melalui eksperimen dan proyek nyata dengan memadukan pelajaran Fisika dan Teknik dengan strategi yang menarik bagi siswa SMA.

Gagasan tersebut berawal dari pengalamannya mengajarkan materi seperti Hukum Newton, gaya, dan tegangan. Selama ini, keberhasilan pembelajaran kerap diukur dari kemampuan siswa menjawab soal dengan benar. 

Namun, ketika mereka diminta menerapkan konsep tersebut untuk membuat produk, misalnya jembatan dari spaghetti yang mampu menahan beban, tantangan baru justru muncul.

"Saya sadar ada jarak yang lebar antara mengetahui fisika dan menggunakan fisika," ungkap Haryanti, Senin, 2 November 2026.

Melalui Science Club fisika, ia ingin menjembatani jarak tersebut sekaligus mengubah anggapan bahwa fisika adalah pelajaran yang sulit. Siswa diajak mencoba berbagai proyek, mulai dari membuat jembatan spaghetti dan stik es krim, merancang bangunan tahan gempa, membuat roket air, hingga memecahkan kasus melalui kegiatan science detective.

Potret Haryanti saat mengajar di kelas (Foto: dokumentasi pribadi Haryanti)

Baca Juga: DBL Super Teacher: Solekah dan Misi Mentransformasi PJOK Lewat Strength Training

Dalam prosesnya, Haryanti tidak hanya mengandalkan latar belakang pendidikan Fisika dan Manajemen. Ia juga mempelajari rekayasa struktur secara mandiri, mulai dari rangka batang, gaya tarik dan tekan, distribusi beban, hingga resonansi bangunan saat gempa. 

"Saya tidak langsung mengajarkannya ke siswa. Saya membuat prototipenya sendiri dulu. Saya sengaja menggagalkan banyak rancangan saya sendiri, supaya ketika siswa gagal, saya tahu harus menjawab apa," beber Haryanti.

Sejak Juli 2026, pengalaman tersebut dikembangkan menjadi Program Kokurikuler STEAM yang melibatkan seluruh siswa dan guru lintas mata pelajaran. Program yang dirancang selama lima semester ini menggunakan tahapan design thinking sebagai dasar pembelajaran.

Perjalanan mengembangkan klub dan program STEAM tentu tidak selalu mudah. Haryanti menghadapi keterbatasan waktu, alat, dan anggaran. Karena tidak memiliki fasilitas pengujian standar, ia harus mencari referensi, merancang alat sederhana, serta memanfaatkan bahan-bahan yang mudah ditemukan.

Baca Juga: DBL Super Teacher: Luthfi Ridzki Tanamkan Kepemimpinan Lewat Pendidikan

Namun, tantangan terbesarnya justru datang dari cara siswa memandang kegagalan. Terbiasa mencari satu jawaban benar, sebagian siswa merasa malu ketika prototipe yang mereka buat patah atau tidak berfungsi.

Untuk mengubah pola pikir tersebut, Haryanti menerapkan aturan bahwa setiap prototipe wajib diuji hingga runtuh. "Yang dievaluasi adalah hasil rancangannya, bukan orangnya. Jadi, dalam satu tim tidak boleh saling menyalahkan, tetapi sama-sama mencari tahu kelemahan rancangannya," jelasnya.

Momen Haryanti saat memberikan contoh projek di Science Club Fisika

Salah satu pengalaman paling berkesan terjadi ketika siswa mengikuti lomba STRUKTURA dalam FaST Festival di Universitas Pelita Harapan. Persiapan yang dilakukan selama berminggu-minggu harus disesuaikan dengan kondisi lomba yang berbeda dari perkiraan. 

Peserta hanya mendapat sepuluh batang bahan dan waktu pengerjaan dua jam, sementara sebelumnya mereka berlatih dengan dua puluh batang bahan selama tiga jam. Dari luar ruangan, Haryanti hanya bisa mengamati siswa bekerja tanpa memberikan arahan. 

Baca Juga: DBL Super Teacher: Esdi Pangganti Ajak Siswa Belajar Kimia Lewat Proyek Kreatif

Ia sempat merasa belum mempersiapkan mereka menghadapi berbagai kemungkinan. Namun, para siswa justru mampu berdiskusi, menentukan bagian struktur yang perlu diperkuat, dan menyelesaikan rancangan secara mandiri.

Hasilnya, salah satu timnya berhasil meraih juara pertama, sementara tim lainnya memperoleh juara ketiga. Pencapaian itu terasa istimewa bagi Haryanti karena mereka sebelumnya pernah mengalami kegagalan dalam lomba jembatan.

"Ukuran keberhasilan saya sebagai pembina bukan tentang seberapa saya dibutuhkan di arena pertandingan, melainkan seberapa siap anak-anak saya bekerja tanpa diri saya," tuturnya.

Pengalaman tersebut semakin menguatkan keyakinan Haryanti bahwa pembelajaran akademik dan kegiatan nonakademik seharusnya berjalan beriringan. Ia ingin mengembangkan pembelajaran berbasis proyek dan pemecahan masalah nyata melalui pendekatan physics detective.

Dalam penerapannya, konsep fisika diperkenalkan melalui persoalan yang dekat dengan kehidupan siswa. Materi gaya, tegangan, dan kesetimbangan, misalnya, dipelajari lewat proyek jembatan dan bangunan tahan gempa. Sementara itu, gerak parabola dan momentum dapat dianalisis melalui roket air maupun permainan bola basket bersama guru PJOK.

Program Kokurikuler STEAM juga menjadi ruang kolaborasi lintas mata pelajaran. Guru Bahasa mendampingi penyusunan proposal dan presentasi, guru Ekonomi membantu menghitung kelayakan biaya, sedangkan guru BK mendampingi siswa dalam menghadapi kegagalan. Setiap bidang studi memiliki peran dalam satu proyek yang sama.

Haryanti juga ingin mengembangkan penilaian berbasis portofolio agar proses siswa dalam merancang, menguji, memperbaiki, dan bekerja sama mendapat pengakuan. Dengan begitu, perkembangan keterampilan dan sikap siswa tidak hanya dilihat dari angka ujian.

Baca Juga: DBL Super Teacher: Inilah Top 24 Guru yang Siap Ikuti Bootcamp di Jakarta!

Lewat DBL Super Teacher, ia berharap dapat terus belajar sekaligus membagikan praktik pembelajaran yang telah dikembangkan. Baginya, fisika akan terasa lebih dekat ketika siswa diberi kesempatan untuk mengalami dan membuktikan sendiri konsep yang mereka pelajari.

"Saya ingin menunjukkan bahwa belajar fisika lewat proyek dan kasus nyata bisa membuat siswa jatuh cinta pada fisika," tandasnya.

Haryanti adalah salah satu dari Top 24 DBL Super Teacher yang akan menjalankan bootcamp 18-21 November 2026 di Jakarta. Mari terus dukung perjuangan Ibu Haryanti dalam mendampingi bakat dan membentuk karakter masa depan generasi muda Indonesia.(*)

Comments (0)
PRESENTED BY
OFFICIAL SUPPLIERS
SUPPORTING PARTNERS