Faries Vebriansyah menilai pelajaran PJOK bukan sebatas mengajarkan olahraga atau aktivitas fisik. Lebih dari itu, PJOK menjadi ruang bagi siswa untuk belajar tentang kedisiplinan, tanggung jawab, sportivitas, hingga kemampuan mengelola diri.
Pandangan tersebut ia terapkan dalam dua perannya di SMAN 4 Surabaya, yakni sebagai guru PJOK dan pembina tim basket sekolah. Sejak 2022, Faries dipercaya mendampingi tim basket SMAN 4 Surabaya untuk berkompetisi di DBL East Java-North.
Pengalaman tersebut membuatnya melihat bahwa perkembangan siswa sebagai student-athlete tidak bisa hanya diukur dari kemampuan mereka di lapangan. Tanggung jawab akademik dan sikap selama berada di lingkungan sekolah juga menjadi bagian penting dari proses pembinaan.
Hal tersebut yang membuatnya terdorong untuk mendaftar program DBL Super Teacher 2026. "Peran guru tidak boleh berhenti di dalam ruang kelas atau lapangan sekolah saja. Program Super Teacher ini saya pandang sebagai wadah strategis untuk menggerakkan komunitas pendidik yang lebih besar," ungkap Faries, Selasa, 3 November 2026.
Latar belakang pendidikannya di bidang Pendidikan Kepelatihan Fakultas Ilmu Olahraga Universitas Negeri Surabaya (UNESA), serta pendidikan pascasarjana di Universitas PGRI Adi Buana Surabaya, menjadi bekal dalam menjalankan peran tersebut. Ia juga merupakan Guru Penggerak Angkatan 9 dan Fasilitator PKG PJOK Jawa Timur 2024.
Baca Juga: DBL Super Teacher: Haryanti Ubah Fisika Jadi Pengalaman Belajar Menyenangkan
Menjalankan peran sebagai guru sekaligus pembina basket bukan tanpa tantangan. Salah satu hal yang kerap dihadapi Faries adalah mengatur waktu antara kegiatan belajar, latihan intensif, dan tanggung jawab siswa sebagai student-athlete.
Selain itu, masih ada anggapan bahwa kegiatan ekstrakurikuler dapat mengganggu pencapaian akademik. Padahal, menurut Faries, keduanya dapat berjalan beriringan selama siswa mendapatkan pendampingan dan mampu menjaga komitmen.
Pada 2024, ia mulai menerapkan program Peer-Tutoring & Athletic Contract setelah menemukan persoalan pada salah satu pemain yang mengalami penurunan nilai akademik akibat padatnya jadwal latihan.
"Program tersebut menggabungkan pendekatan Peer-Tutoring dan Athletic Contract," ungkapnya.
Peer-Tutoring sendiri adalah metode belajar kelompok dengan melibatkan siswa yang lebih memahami materi untuk membantu teman setimnya. Sementara, Athletic Contract adalah kesepakatan antara pembina, student-athlete, pelatih, dan asisten pelatih mengenai tanggung jawab selama menjadi bagian dari tim.
Kesepakatan tersebut mencakup standar minimal nilai akademik, kehadiran di kelas, serta perilaku yang harus dijaga. "Kesempatan membela tim atas nama sekolah bukanlah hal mutlak, tetapi hak istimewa yang harus diimbangi dengan kedisiplinan belajar," jelasnya.
Salah satu penerapan program tersebut terjadi ketika kapten tim basket SMAN 4 Surabaya, Meyer Sahat Yosua Manik, mengalami penurunan semangat dalam latihan dan pertandingan.
Baca Juga: DBL Super Teacher: Esdi Pangganti Ajak Siswa Belajar Kimia Lewat Proyek Kreatif
Setelah berdiskusi dengan pelatih dan asisten pelatih, Faries menemukan bahwa kesibukan Meyer, sapaan akrabnya, mengikuti les untuk persiapan ujian TKA turut memengaruhi aktivitasnya bersama tim.
Alih-alih langsung memberikan sanksi atau mengesampingkannya dari tim, Faries memilih mencari jalan tengah. Ia berkoordinasi dengan pelatih dan pihak sekolah untuk membantu Meyer mengatur kembali porsi belajar dan latihan.
Pendampingan tersebut menjadi pengingat bahwa setiap student-athlete memiliki kebutuhan dan tantangan yang berbeda. Tugas pembina bukan hanya menuntut siswa tampil maksimal, tetapi juga membantu mereka menemukan keseimbangan antara berbagai tanggung jawab.
"Ini menjadi bukti nyata bagi saya bahwa olahraga adalah sarana pembentukan karakter yang luar biasa," terang Faries.
Tidak ingin berhenti sampai Peer-Tutoring & Athletic Contract, Faries ingin mengembangkan pendekatan Quality Physical Education atau pendidikan jasmani berkualitas yang menghubungkan aktivitas fisik dengan keterampilan hidup.
Ia ingin konsep yang dipelajari dalam olahraga dapat diterapkan untuk membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir, memecahkan masalah, dan mengambil keputusan.
Baca Juga: DBL Super Teacher: Solekah dan Misi Mentransformasi PJOK Lewat Strength Training
Dalam permainan basket, misalnya, siswa belajar menyusun strategi, membaca situasi, serta mengambil keputusan di bawah tekanan. Keterampilan tersebut juga dapat digunakan dalam pembelajaran sains, matematika, maupun kehidupan sehari-hari.
Faries juga ingin mendorong penilaian berbasis portofolio yang tidak hanya melihat angka akademik, tetapi turut mencatat perkembangan kebugaran, regulasi emosi, keterlibatan sosial, dan kemampuan siswa bekerja sama.
Melalui pengalamannya sebagai Fasilitator PKG PJOK dan peserta program Nutrifood Physical Education Teacher (NPET) 2026, Faries berharap dapat memperluas kolaborasi antarguru dalam menciptakan pembelajaran lintas disiplin.
Menurutnya, lapangan olahraga bukan ruang yang terpisah dari proses pendidikan. Justru di sana siswa dapat mempraktikkan banyak hal yang telah dipelajari di kelas.
Melalui DBL Super Teacher, Faries ingin memperkuat pemahaman bahwa pendidikan jasmani bukan hanya tentang mencetak student-athlete berprestasi, melainkan juga membentuk siswa yang sehat, disiplin, bertanggung jawab, dan siap menghadapi berbagai tantangan.
Faries adalah salah satu dari Top 24 DBL Super Teacher yang akan menjalankan bootcamp 18-21 November 2026 di Jakarta. Mari terus dukung perjuangan Bapak Faries Vebriansyah dalam mendampingi bakat dan membentuk karakter masa depan generasi muda Indonesia.(*)