Bagaimana rasanya ketika sebuah panggung yang begitu istimewa sudah harus dilepaskan, bahkan sebelum perjalanan benar-benar dimulai?

Dieno Satriya Alejando Peea mungkin punya jawabannya.

Bagi student-athlete DBL Jakarta, Indonesia Arena adalah tempat yang ingin mereka tuju. Sebuah panggung megah yang menjadi bagian dari perjalanan panjang menuju puncak kompetisi.

Namun, bagi kapten SMA Cita Buana Jakarta itu, kesempatan untuk menjejakkan kaki di sana harus tertutup sejak pertandingan pertama.

Pada Rabu, 7 Oktober 2026, Cita Buana harus mengakui keunggulan SMAN 55 Jakarta dengan skor 16-23 dalam Honda DBL with Kopi Good Day 2026 South Jakarta.

Dieno sebenarnya tampil cukup menonjol dengan menyumbangkan 10 poin, 1 rebound, 1 assist, 2 steal, dan 1 blok. Sayangnya, kontribusi tersebut belum mampu membawa Cita Buana melanjutkan perjalanan.

Kekalahan itu sekaligus menjadi akhir dari kesempatan Dieno untuk mengejar Indonesia Arena bersama timnya. Terlebih, student-athlete kelas XII tersebut hanya memiliki satu musim untuk merasakan atmosfer DBL.

Baca Juga: Evelyn Papuana dan Ujian Bertubi di Penghujung Perjalanan Srikandi PSKD 1

“Saat kalah pada game pertama, saya tentu merasa sedikit kecewa. Namun, sebagai kapten, saya tetap merasa bangga dengan tim saya karena sudah berusaha dengan sangat keras dan menjalankan prosesnya dari awal hingga akhir,” ungkap Dieno.

Ada alasan mengapa kesempatan tersebut begitu berarti baginya.

Dieno sudah ingin bermain di DBL sejak duduk di bangku kelas X. Akan tetapi, Cita Buana terakhir kali mengikuti kompetisi tersebut pada musim 2023. Mereka baru kembali pada 2026, tepat ketika Dieno memasuki tahun terakhirnya di bangku SMA.

Kesempatan yang datang setelah penantian panjang itu rupanya hanya berlangsung satu pertandingan.

“Hal yang paling membuat saya sedih adalah kenyataan bahwa saya hanya bisa merasakan keseruan dan intensitas turnamen ini satu kali saja. Saya sudah bermimpi untuk bermain di DBL sejak kelas 10,” ceritanya.

Meski demikian, ada hal menarik dari cara Dieno memandang Indonesia Arena.

Ia tidak pernah menganggap panggung tersebut sebagai sesuatu yang biasa. Justru sebaliknya, Dieno melihat Indonesia Arena sebagai tempat yang begitu istimewa bagi para student-athlete terbaik tingkat SMA.

“Indonesia Arena sungguh istimewa karena menyediakan stage bagi para sudent-athlete untuk menunjukkan apakah mereka mampu memenangkan gamenya saat momen yang paling menentukan,” jelasnya.

Bagi Dieno, kesempatan tampil di sana bukan sekadar tentang bermain di arena berkapasitas besar. Ada pembuktian kemampuan yang harus dilakukan ketika sebuah tim berhasil mencapai pertandingan paling menentukan.

Namun, di balik kekagumannya terhadap Indonesia Arena, Dieno ternyata menyimpan tujuan lain yang sejak awal menjadi prioritas Cita Buana.

Baca Juga: Cara Benawa Daniswa Memaknai Arti Kemenangan yang Sesungguhnya

Sebelum berbicara tentang panggung final, mereka ingin terlebih dahulu membuktikan bahwa timnya pantas kembali bersaing di DBL.

“Target utama kami sebetulnya tidak langsung di Indonesia Arena, melainkan membuktikan bahwa Cita Buana layak untuk berlaga di DBL,” tegasnya.

Keinginan itu bukan tanpa alasan.

Setelah terakhir kali tampil pada 2023, Cita Buana datang dengan harapan bisa memutus rentetan kekalahan yang pernah mereka alami. Apalagi, Dieno mengaku ada sejumlah pihak yang meragukan kemampuan timnya.

“Banyak orang dan tim meragukan kemampuan kami untuk bersaing di DBL. Namun, meskipun anggapan mereka benar, kami tetap berjuang dengan penuh kebanggaan,” ujarnya.

Dieno tidak berusaha menutupi kekurangan Cita Buana. Ia menyadari bahwa timnya masih memiliki banyak hal yang perlu diperbaiki.

Namun, baginya, keraguan tersebut tidak seharusnya menjadi alasan untuk berhenti mencoba.

Bersama rekan-rekannya, Dieno menjalani persiapan selama berbulan-bulan. Sebagai seorang student-athlete, ia harus membagi waktu antara latihan bersama tim sekolah, latihan di klub basket, dan tanggung jawab akademik.

“Pengorbanan terbesar pastinya adalah memforsir tubuh hingga ke batas maksimal setiap minggunya. Karena saya seorang pelajar sekaligus atlet, tentu saja saya harus fokus pada sisi akademik, dan itu sangat melelahkan,” tuturnya.

Seluruh usaha tersebut akhirnya diuji dalam pertandingan menghadapi SMAN 55 Jakarta.

Aksi penggawa SMA Cita Buana Jakarta, Dieno saat menghadapi SMAN 55 Jakarta di DBL South Jakarta 2026

Namun, Dieno merasa Cita Buana belum mampu memperlihatkan kemampuan terbaiknya. Menurutnya, faktor mental menjadi salah satu kendala yang membuat permainan tim tidak berjalan sesuai harapan.

“Menurut pendapat saya, mungkin kami tidak benar-benar tampil maksimal, tetapi saya yakin hal itu hanya karena masalah mental. Sebab, saya tahu kita sudah ada keunggulan secara skill,” ungkapnya.

Baca Juga: Roro Ayu Almira dan Mimpi yang Belum Usai Bersama Almode

Ketika pertandingan semakin sulit, Dieno berusaha menjaga semangat rekan-rekannya. Ia mencoba memberikan dorongan agar Cita Buana tetap memberikan perlawanan hingga akhir.

Sayangnya, usaha tersebut belum cukup untuk mengubah keadaan.

Harapan untuk melanjutkan perjalanan menuju Indonesia Arena pun harus berhenti di sana. Namun, ada satu hal yang menarik dari sikap Dieno setelah pertandingan.

Alih-alih menunjukkan kekecewaan kepada rekan-rekannya, ia justru memilih mengucapkan dua kata sederhana. “Kerja bagus.”

“Saya sampaikan kepada mereka bahwa tidak masalah. Saya mengerti mengapa kita kalah dan saya sama sekali tidak kecewa. Namun, saya juga berpesan agar mereka tetap bangga karena kita telah membawa nama sekolah ke ajang DBL,” kenangnya.

Bagi Dieno, perjalanan menuju Indonesia Arena memang telah berakhir. Namun, ia tidak ingin kekalahan tersebut membuat rekan-rekannya melupakan seluruh usaha yang sudah mereka lakukan.

Terlebih, ada banyak kenangan yang tercipta selama proses persiapan.

“Hal yang paling berkesan dari perjalanan ini tentu saja adalah bonding sama teman-teman saya. Sejujurnya, menurut saya mereka berperan besar dalam membuat perjalanan ini terasa sangat istimewa,” katanya.

Dieno mengenang berbagai momen yang mereka lalui bersama, mulai dari latihan yang melelahkan, saling menyemangati, hingga menghabiskan waktu di luar lapangan.

“Saya menyayangi mereka semua dan akan selalu merasa bangga,” lanjutnya.

Indonesia Arena memang menjadi panggung yang belum sempat ia pijak. Sebuah pengalaman yang untuk saat ini hanya bisa ia bayangkan dari cerita dan perjuangan student-athlete lain.

Namun, Dieno tidak memilih mengakhiri perjalanan DBL-nya dengan terus memikirkan apa yang gagal diraih.

Ia justru membawa pulang kenangan bersama rekan-rekannya, kebanggaan pernah memimpin Cita Buana, dan pengalaman bertanding yang sudah dinantikannya sejak kelas X.

Barangkali, itulah cara Dieno memandang sebuah mimpi.

Baca Juga: Kilas Balik Keseruan Final DBL Jakarta di Indonesia Arena dari Tahun ke Tahun

Tidak semua perjalanan berhasil mencapai panggung yang dituju. Namun, bagi Dieno, ada perjuangan yang tetap layak dikenang, bahkan ketika langkahnya terhenti jauh sebelum Indonesia Arena.

Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 siap mengguncang 31 kota di 22 provinsi se-Indonesia. Seperti musim sebelumnya, DBL Indonesia akan menjaring para student-athlete terbaik dari setiap kota untuk memperebutkan tiket DBL Indonesia All-Star melalui program DBL Camp.

Tak kalah seru, Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 juga menghadirkan AZA 3X3 Competition serta AQUA DBL Dance 2026-2027 dengan mengusung tema "100% Indonesia".  Seluruh keseruan pertandingan bisa disaksikan secara langsung di kanal YouTube DBL Play, serta di YouTube Good Day ID khusus untuk laga final. (*)

Profil pemain ini bisa dilihat pada halaman di bawah ini (pengguna Android bisa melakukan scroll dengan double tap)

Populer

Roro Ayu Almira dan Mimpi yang Belum Usai Bersama Almode
Bawa Pulang Gelar MVP, Doa Richelle Terjawab Lebih dari Harapannya
Ayasha-Aqylla, Dua Sahabat yang Bertemu Sebagai Rival di Final DBL South Jakarta
Cara Benawa Daniswa Memaknai Arti Kemenangan yang Sesungguhnya
Sempat Menyerah, Justin Sinambela Kini Berharap Bisa Tembus Indonesia Arena