Indonesia Arena sudah di depan mata. Namun, Kolese Kanisius Jakarta harus mengubur mimpinya tepat ketika garis akhir tinggal selangkah lagi.
Kekalahan 46-54 dari SMA Jubilee Jakarta pada Fantastic Four Honda DBL with Kopi Good Day 2026 Jakarta Championship, Rabu, 28 Oktober 2026, membuat Kanisius gagal melaju ke partai final.
Yang membuat kekalahan ini semakin menyesakkan, Kanisius sebenarnya sempat memimpin pertandingan. Mereka unggul 27-21 pada akhir paruh pertama dan masih berada di depan dengan skor 42-38 pada awal kuarter keempat. Sayangnya, Jubilee berhasil membalikkan keadaan dan merebut tiket menuju Indonesia Arena.
Bagi Kanisius, keberhasilan mencapai Fantastic Four musim ini bukan pencapaian biasa. Terakhir kali mereka menembus babak tersebut adalah pada 2022. Kala itu, Jubilee juga menjadi tim yang menghentikan langkah mereka.
Empat tahun berselang, kedua sekolah kembali dipertemukan dalam perebutan tiket final. Hasilnya memang belum berubah, tetapi Kanisius datang dengan perkembangan yang membuat Coach Givson, sang pelatih, menyimpan kebanggaan tersendiri.
Menghadapi tim dengan catatan tersebut, Kanisius nyatanya mampu memberikan perlawanan sengit.
Bagi Coach Givson, Pelatih Kanisius, hasil itu memang mengecewakan. Namun, di balik kegagalan tersebut, ada perjuangan anak-anak asuhnya yang jauh lebih besar daripada sekadar angka di papan skor.
“Tahun ini anak-anak menunjukkan kesungguhan yang luar biasa untuk bisa melangkah ke Indonesia Arena. Bukan hanya pada saat bertanding di lapangan, tapi juga saat latihan dan hal-hal lain di luar lapangan, seperti kekompakan dan hubungan antarpemain sampai ke coaching staff,” ungkap Coach Givson.
Baca Juga: Ketika Finalis DBL Jakarta 2026 Bertemu untuk Menyambut Mimpi di Indonesia Arena
Ia merasakan sendiri perubahan yang terjadi di dalam tim. Hubungan antarpemain semakin erat, komunikasi dengan jajaran pelatih semakin baik, dan semangat untuk mencapai tujuan yang sama terasa semakin kuat.
“Secara tim, kami jauh lebih solid tahun ini. Perkembangan tim sangat kami rasakan, bahkan pendukung-pendukung kami pun melihat perubahan yang cukup signifikan,” lanjutnya.
Perkembangan itu pula yang membuat Kanisius mampu memberikan perlawanan kepada Jubilee. Menariknya, Coach Givson mengaku tidak menyangka bahwa anak-anak asuhnya bisa mengimbangi permainan lawan hingga dua kali pertemuan.
“Jujur, kami juga kaget ternyata bisa mengimbangi permainan Jubilee di DBL Championship kemarin. Bahkan, sampai bertemu dua kali dengan permainan yang seimbang merupakan sebuah kebanggaan buat kami,” tuturnya.
Kebanggaan tersebut punya alasan tersendiri. Di balik pencapaian mereka hingga Fantastic Four, ada tuntutan lain yang harus dipenuhi para student-athlete Kanisius.
“Tantangan tim Kanisius sendiri adalah bagaimana anak-anak dituntut untuk bagus di akademik, di mana tidak ada perlakuan spesial dari pihak sekolah terhadap pemain DBL,” jelasnya.
Pelatih Kanisius, coach Givson saat mendampingi anak didiknya berlaga di Honda DBL with Kopi Good Day 2026 Jakarta Championship
Dengan beban pelajaran yang cukup berat, para student-athlete harus pandai membagi waktu antara belajar dan berlatih. Tidak ada keringanan khusus yang membuat mereka bisa mengesampingkan kewajiban akademik demi basket.
Tantangan tersebut semakin terasa ketika Kanisius harus kehilangan dua student-athlete intinya.
Baca Juga: Perjalanan Mimpi Finalis DBL Jakarta 2026 yang Diabadikan dalam Sesi Photoshoot
Jonathan Dharmawan dan Made Arka mengalami cedera saat mengikuti Kejuaraan Nasional di Semarang pada Juli lalu. Kehilangan keduanya tentu memengaruhi persiapan tim, terlebih ketika Kanisius sedang berusaha membangun kekuatan untuk menghadapi persaingan DBL.
“Saya dan coaching staff berusaha mencari solusi untuk mengisi kekosongan dari kehilangan dua pemain tersebut dan memaksimalkan pemain yang ada,” ujar Coach Givson.
Situasi itu menuntut tim kepelatihan untuk beradaptasi. Dengan komposisi yang tersedia, mereka harus mencari cara agar Kanisius tetap mampu bersaing.
Hasilnya, Kanisius berhasil melangkah hingga Fantastic Four dan hanya terpaut satu kemenangan dari Indonesia Arena.
Perjalanan tersebut terasa semakin berarti berkat dukungan besar yang terus mengiringi mereka.
Bukan rahasia lagi bahwa Kanisius memiliki barisan pendukung yang begitu loyal. Antusiasme mereka menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari perjalanan tim basket sekolah tersebut.
Bahkan, banyak yang berharap Kanisius akhirnya bisa tampil di Indonesia Arena.
Coach Givson menyadari betul besarnya harapan tersebut. Ia pun mengaku bahwa dukungan para pendukung memiliki peran penting dalam membangkitkan semangat anak-anak asuhnya.
“Kami sangat senang dan mengapresiasi sekali semua pihak yang mendukung kami sampai saat ini. Kami pun merasa kalau kami bisa melangkah sampai titik ini, semua juga karena dukungan teman-teman yang mendukung Kanisius,” katanya.
Baginya, dukungan itu bukan sekadar suara dari tribun. Ada dorongan untuk terus berkembang dan memberikan sesuatu yang lebih baik bagi orang-orang yang selalu percaya kepada Kanisius.
“Dukungan itu seperti membakar semangat kami untuk bisa lebih baik setiap tahun dan semoga suatu saat nanti sampai ke Indonesia Arena,” lanjutnya.
Sayangnya, harapan tersebut belum berhasil diwujudkan pada musim ini.
Kekalahan dari Jubilee memang menyakitkan, apalagi ketika panggung impian tinggal selangkah lagi. Namun, Coach Givson memilih menjadikan perjalanan tersebut sebagai bahan evaluasi untuk mempersiapkan tim yang lebih matang.
Baca Juga: Double-Double di Laga Debut, Nadia Simpan Mimpi Bermain di Indonesia Arena
Ia menyadari bahwa persaingan DBL semakin ketat dari tahun ke tahun. Kemampuan teknis saja tidak cukup untuk menghadapi pertandingan besar, terutama ketika tekanan mulai meningkat pada fase-fase penentuan.
“Tahun ini saya belajar bahwa setiap tahunnya persaingan DBL menjadi semakin ketat. Kesiapan mental dan fisik anak-anak dituntut lebih, terutama pada saat game-game penting,” jelasnya.
Karena itu, salah satu hal yang ingin ia maksimalkan musim depan adalah pengalaman bertanding para student-athlete.
Coach Givson ingin anak-anak asuhnya memiliki lebih banyak jam terbang agar terbiasa menghadapi berbagai situasi di lapangan. Harapannya, mereka bisa tampil lebih siap ketika kembali berada dalam pertandingan penting.
“Di tahun depan kami akan memperbanyak jam terbang pemain untuk ikut pertandingan-pertandingan supaya mental dan fisik bisa lebih siap,” ungkapnya.
Persiapan tersebut juga akan dibarengi dengan perubahan komposisi tim.
Sejumlah student-athlete akan berganti, sementara wajah-wajah baru mulai dipersiapkan untuk menjadi bagian dari kekuatan Kanisius berikutnya.
Coach Givson pun melihat potensi menjanjikan dari para rookie yang akan bergabung.
“Kami juga kedatangan rookie-rookie yang potensial untuk bisa menjadi kekuatan kami untuk bersaing dan melangkah ke Indonesia Arena,” katanya.
Kini, perjalanan Kanisius di DBL Jakarta Championship 2026 memang sudah selesai.
Mereka belum berhasil membawa para pendukungnya merasakan atmosfer final di Indonesia Arena. Mimpi yang sempat terlihat begitu dekat itu harus kembali menunggu kesempatan berikutnya.
Namun, Coach Givson dan anak-anak asuhnya tidak pulang tanpa membawa apa-apa.
Ada pengalaman menghadapi persaingan ketat, kebanggaan karena mampu mengimbangi Jubilee, serta pelajaran tentang bagaimana sebuah tim bisa tetap melangkah meski harus menghadapi berbagai keterbatasan.
Terlebih, mereka kini tahu bahwa Indonesia Arena bukan tujuan yang mustahil untuk dikejar.
Musim ini, Kanisius sudah berhasil mendekatinya. Hanya saja, mereka belum berjodoh dengan panggung tersebut.
Dan selama semangat untuk kembali mencoba masih ada, Coach Givson punya alasan untuk terus percaya bahwa suatu hari nanti, Kanisius bisa menuntaskan satu langkah yang belum berhasil mereka lewati.
Baca Juga: Cerita Aira Debut Bersama Garuda Cendekia dan Pandangan Soal Final DBL Jakarta
Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 siap mengguncang 31 kota di 22 provinsi se-Indonesia. Seperti musim sebelumnya, DBL Indonesia akan menjaring para student-athlete terbaik dari setiap kota untuk memperebutkan tiket DBL Indonesia All-Star melalui program DBL Camp.
Tak kalah seru, Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 juga menghadirkan AZA 3X3 Competition serta AQUA DBL Dance 2026-2027 dengan mengusung tema "100% Indonesia". Seluruh keseruan pertandingan bisa disaksikan secara langsung di kanal YouTube DBL Play, serta di YouTube Good Day ID khusus untuk laga final. (*)
Profil pelatih ini bisa dilihat pada halaman di bawah ini (pengguna Android bisa melakukan scroll dengan double tap)