Setiap 22 Desember merupakan hari yang begitu spesial. Hari yang menjadi pengingat tentang sosok yang mungkin jarang terlihat di tengah sorotan, tapi selalu hadir dalam setiap proses.
Sekali pun keberadaannya tidak selalu terlihat, doa yang tidak pernah terputus akan terus mengiringi. Bahkan pelukan selepas peluit panjang dibunyikan selalu membawa kehangatan.
Di setiap Final DBL Jakarta, Indonesia Arena bukan hanya saksi lahirnya para juara. Jjuga tersimpan kisah seorang ibu yang menyaksikan dua anaknya menorehkan sejarah pada panggung yang sama, dan di tahun yang berbeda.
Namanya Yanita Alamsyah. Dalam dua musim terakhir, Yanita selalu berada di momen paling krusial. Bukan sebagai pemain, bukan pula sebagai pelatih. Tapi sosok ibu yang mendampingi anaknya saat pemanggilan pemain di partai puncak DBL Jakarta.
Musim lalu, Yanita mendampingi sang sulung, Alexander Ralphael Kusnoatmaja. Kapten SMA Bukit Sion Jakarta (Buksi) itu menjalani laga terakhirnya di DBL Jakarta 2024 dengan status kelas XII.
Dihadapan belasan ribu pasang mata di Indonesia Arena, Ralph -sapaan akrabnya- menutup sebuah perjalanan dengan cara paling dramatis.
Final melawan SMA Jubilee Jakarta berjalan ketat. Hingga empat detik terakhir, Buksi masih harus memastikan nasibnya dari garis tembakan gratis. Ralph berdiri di sana. Tenang dan fokus.
Baca Juga: Rekor, Sejarah, dan Dominasi Baru di Indonesia Arena
Dua tembakan pun masuk. Skor 51-48. Buksi juara. Indonesia Arena bergemuruh. Dari tribun, sang ibu menyaksikan sendiri bagaimana kerja keras bertahun-tahun sang anak terbayar lunas.
Setahun berselang, giliran sang adik, Aloysius Reynold Kusnoatmaja, yang menorehkan ceritanya. Berstatus rookie, Reynold tampil di Final DBL Jakarta 2025 untuk pertama kalinya.

Reynold Kusnoatmaja saat membela SMA Bukit Sion Jakarta di Final DBL Jakarta 2025
Lawannya masih sama. Panggungnya juga sama. Indonesia Arena kembali jadi saksi. Dan Yanita kembali ada di sana.
Buksi kembali mengunci kemenangan atas Jubilee dengan skor 60-52. Gelar juara kembali jatuh ke sekolah yang sama.
Baca Juga: Kisah Kakak-Beradik Kusnoatmaja di Indonesia Arena: Estafet Gelar untuk Buksi
Bedanya, kini Yanita mendampingi anak keduanya. Sebuah momen langka. Bahkan istimewa. Yanita adalah satu-satunya orang tua yang mendampingi dua anak kandungnya juara DBL Jakarta di tahun berbeda.
“Senang banget. Tahun lalu itu juara yang benar-benar ditunggu-tunggu, bukan cuma buat Ralph tapi buat kami sekeluarga. Tahun ini bisa juara lagi, rasanya happy banget, karena Reynold bisa lanjutin legasi kakaknya,” tutur Yanita.
Perjalanan basket Ralph dan Reynold sendiri bermula dari hal yang sederhana. Dari sang ayah yang gemar bermain basket bersama komunitas lamanya.
.jpg)
Ralphael Kusnoatmaja (kiri) dan Reynold Kusnoatmaja (kanan) saat mengikuti salah satu kompetisi basket di Jakarta
Dari kebiasaan menonton pertandingan, akhirnya ikut turun ke lapangan. Meskipun sempat mencoba olahraga lain, ketertarikan itu akhirnya tumbuh perlahan.
“Papinya sempat hopeless karena anak-anak nggak ada interest ke basket. Tapi nggak nyerah, selalu diajak nonton pertandingan. Sampai akhirnya Ralph umur 10 tahun minta sendiri buat latihan di klub,” kenang Yanita.
Di balik sorak sorai kemenangan, ada fase lelah yang tak terlihat. Ada latihan yang mengorbankan waktu bermain. Ada momen capek, ketika performa tak sesuai harapan, atau target belum tercapai. Di situlah peran ibu hadir.
“Mereka suka curhat kalau lagi capek latihan atau nggak bisa pergi sama teman karena harus fokus latihan. Biasanya saya cuma bilang, trust the process, keep working hard and praying. Di waktu yang tepat, Tuhan pasti jawab.”
Baca Juga: Ralphael Menatap Indonesia Arena dan Warisan Buksi di Tangan Sang Adik!
Untuk urusan teknis, keduanya memang lebih sering berdiskusi dengan sang ayah. Bahkan selepas pertandingan, mereka kerap menyaksikan ulang rekaman pertandingan dan mengulas kesalahan bersama.
Lebih dari sekadar gelar juara, Yanita melihat basket sebagai miniatur kehidupan. Tentang proses. Tentang kegagalan. Tentang kerja sama. Dan tentang bertumbuh.
“Basket itu gambaran kecil dari kehidupan yang nanti akan mereka jalani ke depannya,” ujarnya.
Di Hari Ibu ini, kisah Yanita Alamsyah menjadi pengingat bahwa di balik setiap trofi, selalu ada doa ibu yang tidak pernah berhenti. Dan di balik dua nama yang bersinar di Indonesia Arena, ada satu sosok ibu yang setia mendampingi.
Honda DBL with Kopi Good Day 2025-2026 digelar di 31 kota dan 22 provinsi se-Indonesia. Setiap tahunnya, DBL Indonesia memilih student athlete terbaik dari masing-masing kota untuk diseleksi menjadi DBL Indonesia All-Star melalui program DBL Camp.
Honda DBL with Kopi Good Day 2025-2026 juga menampilkan AZA 3X3 Competition 2025-2026 dan Azarine DBL Dance Competition 2025-2026.
Semua pertandingan Honda DBL with Kopi Good Day 2025-2026 disiarkan live di channel YouTube DBL Play. Dua musim ini DBL didukung oleh produk kopi anak muda, Kopi Good Day. (*)
Baca Juga: Mengenal Kopi Good Day, Produk Kopi Anak Muda yang Banyak Rasa
Profil SMA Bukit Sion Jakarta ini bisa dilihat pada halaman di bawah ini (pengguna Android bisa lakukan scroll dengan double tap)