Di lapangan basket, banyak hal bisa diukur. Poin, assist, rebound, hingga menit bermain—semuanya tercatat rapi dalam statistik. Namun di balik perjalanan seorang student-athlete, selalu ada peran yang tak pernah masuk lembar statistik, tetapi justru paling otentik. Peran itu dijalankan oleh seorang ibu.
Ada begitu banyak sosok ibu luar biasa di balik keberhasilan student-athlete di DBL. Mulai dari ibu yang memastikan anaknya tetap berangkat sekolah tepat waktu meski latihan berakhir larut malam. Ibu yang tak pernah lelah mengingatkan bahwa nilai akademik harus tetap terjaga. Hingga ibu yang menjadi penyemangat setia dari atas tribun saat anaknya bertanding.
Di tribun, sosok ibu biasanya hadir tanpa sorotan. Duduk tenang, sesekali berdiri, menahan napas di momen-momen krusial, sembari menyelipkan doa-doa dalam diam.
Mereka tak ikut selebrasi berlebihan, tak pula larut dalam kekecewaan. Namun bagi banyak pemain, keberadaan ibu sering menjadi jangkar emosional—pengingat bahwa apa pun hasil pertandingan, proses yang dijalani tetap lebih penting.
Selama bertahun-tahun, DBL menyaksikan pola yang sama terulang. Pemain boleh berganti. Kota boleh berbeda. Tetapi relasi antara student-athlete dan ibu hampir selalu serupa.
Dalam beberapa tahun terakhir, DBL mulai memberi ruang yang lebih sadar bagi peran-peran di balik layar ini. Terutama di momen-momen besar seperti partai final—baik di Jakarta maupun di kota-kota lain—kehadiran orang tua dan guru dihadirkan sebagai bagian dari cerita. Bukan sebagai simbol, melainkan sebagai pengakuan bahwa prestasi pelajar tidak pernah lahir sendirian.
Menariknya, di DBL, peran ibu tidak selalu berhenti di tribun. Ada pula ibu yang berdiri di sisi lapangan, menjalani peran sebagai pelatih. Memang bukan pelatih dari anak-anaknya sendiri, tetapi perhatian dan kepeduliannya kepada para pemain asuh tak ubahnya seperti peran seorang ibu di rumah.
Di peringatan Hari Ibu ini, DBL mengajak pembaca menengok kembali mereka yang selalu hadir sejak awal—jauh sebelum tip-off pertama dilakukan. Mereka yang perannya tak pernah tercatat di statistik, tetapi selalu otentik dalam setiap proses.
Cerita-cerita itu kami hadirkan lewat rubrik Spesial Hari Ibu. Rubrik yang mengangkat kisah ibu sebagai pendukung, penjaga keseimbangan, dan juga sebagai pelatih. Maka, mari sejenak berhenti memandang angka dan statistik, lalu ucapkan terima kasih kepada mereka yang selalu mendukung dengan cara paling otentik.
Terima kasih, Ibu. (*)
Ikuti Konten-Konten Hari Ibu lainnya:
Undika Zaka Reka dan Mantra Penenang Mama Ustianingsih
Ketika Sosok Bunda Menjadi Kekuatan Terbesar Nala Dwizira
Restu Mama Jadi Tambahan Bahan Bakar Semangat Matthew Jonathan Risky
Pesan Khusus Deswita Salma Bagi Sang Mama
Mantra Ajaib Bunda Ike Jadi Penopang Semangat Hidup Ivana Setiani
Peran Sentral Mama Agustina di Balik Perjalanan Tari Alexandra The Electra
Cinta Zaki Novran ke Ibu Nyimas Dewi Arimbi Seluas Samudra Tak Berujung