Sanjungan untuk Mey Putridiana, kepala pelatih SMAN 3 Malang yang terpilih menjadi peramu strategi skuad Kopi Good Day DBL Indonesia All-Star 2026. Pencapaian coach Mey -sapaan karibnya- bukan sekadar prestasi saja. 

Jauh sebelum terjun di dunia kepelatihan, Mey pernah tersaring menjadi penggawa DBL All-Star pada edisi 2008. Kini ia kembali lagi ke kamp dan terpilih menjadi pelatih DBL All-Star.

Sebelum Mey, hanya ada lima pelatih perempuan yang menjadi nakhoda skuad DBL All-Star. Koo Sri Padma mengawalinya pada edisi 2011. Dua tahun berselang giliran Marlina Hermawan yang terpilih sebagai pelatih tim putri DBL All-Star 2013.

Ada lagi pada edisi 2018, kala itu Yunita Sugiarto ditunjuk sebagai pelatih tim putri. Satu tahun setelahnya giliran Athini Mardlantika yang menjadi pelatih tim putri. Setelah pandemi, Sani Wulandari menjadi pelatih kelima yang terpilih.

Baca juga: Mey Putridiana: All-Star Pertama yang Pernah Terpilih Sebagai Pemain dan Pelatih

Kala itu Sani berduet dengan Kencana Wukir untuk menakhodai tim putri DBL All-Star 2023. Legasi tersebut diteruskan oleh Mey pada edisi 2026. Mey nantinya berkolaborasi dengan Daniel Tedjo kepala pelatih SMAN 11 Semarang.

Mey Putridiana dari SMAN 8 Malang push up bareng Danny Granger saat latihan di NBA Basketball Clinic 2008.

Perjalanan karier Mey menjadi pelatih dimulai dari ketiadaan liga basket profesional untuk para srikandi. Tercatat musim terakhir Mey di liga basket profesional adalah saat ia berseragam Merah Putih Predators Jakarta pada WNBL (liga profesional) 2014-2015. Terakhir kali WNBL diselenggarakan pada musim 2014-2015.

Hilangnya kolam yang menampung bakat untuk terus mengembangkan diri ini yang membuat Mey mulai menyalurkan kegiatan main basketnya dari pinggir lapangan.

“Awalnya nggak sengaja, cuman karena masih ingin main basket saja tapi kan sudah nggak ada liganya. Jadi saya disuruh bantu-bantu buat latih anak-anak kecil di Malang,” katanya.

Berawal dari sana Mey punya sudut pandang lain untuk melihat basket. Sudut pandang yang membawanya membuka banyak gerbang cakrawala baru, “Saya jadi tertarik lama-lama, mulai ambil lisensi dan keterusan melatih sampai sekarang,” imbuhnya.

Pemantiknya adalah Mey tak mau menyimpan sendiri ilmu dan pengalamannya selama melantai. Baginya membagikan setiap pengalaman ke generasi penerus adalah sebuah kewajiban. Fardhu ain.

“Biar ilmunya nggak habis untuk diri saya, Mas. Apalagi kan saya merasa kalau di daerah saya (Malang) ini masih tertinggal dari Surabaya. Biar nggak semkain tertinggal sama daerah-daerah lain juga,” ungkapnya.

Baca juga: Kartini Modern di Lapangan Basket: 10 Pelatih Wanita Bersaing di DBL Camp 2026

Kaget. Ekspresi Mey Putridiana yang tertangkap lensa fotografer tim DBL Indonesia

Nah, Mey masuk menjadi salah satu dari sekian banyak pelatih yang baru pertama kali berangkat ke Kopi Good Day DBL Camp 2026. Ia sadar bahwa ada perbedaan antara periode ketika dirinya berangkat sebagai pemain dan pengalaman barunya ini.

“Sempat langsung ngerasa flashback waktu lihat anak-anak all out di setiap drill. Keinginan mereka untuk belajar dan berkembang itu bikin saya ngerasa, wah ini saya dulu juga begini,” kenangnya.

Mey juga menambahkan, “Dulu itu saya nggak sampai seminggu deh. Ini kan seminggu, dengan semangat mereka buat fight yang nggak pernah habis sih saya salut banget,”

Tanpa mengecilkan materi-materi selama kamp kemarin, Mey punya tiga kelas favorit. Ketiga kelas ini membuatnya semakin mencintai pekerjaan untuk meramu strategi dan mencetak pemain-pemain hebat.

“Kelas psikologi olahraga, statistik, dan pencegahan cedera. Ketiganya ini bikin saya semakin sadar kalau jadi pelatih ini ada pov (point of view) yang nggak saya dapat waktu jadi pemain,” terangnya.

“Jika selama ini saya menganggap statistik itu cuman ya susunan angka-angka, ternyata engga. Dari sana (statistik), kita sebagai pelatih bisa menyusun sebuah program latihan loh. Mengasah keunggulan sebuah tim atau bahkan menambal kekurangan-kekurangannya,” sambung Mey.

Menurut Mey, ketiga elemen tersebut menjadi komponen yang tak terpisahkan. Ia bisa mengantisipasi pemainnya agar terhindar dari cedera lewat rumus-rumus statistik yang dibagikan oleh Bambang Asdianto, pemateri kelas statistik DBL Camp 2026.

Lewat pendekatan-pendekatan tertentu ia juga bisa meningkatkan performa para pemainnya. Performa bagus sedikit-banyak memengaruhi statistik tim yang dinakhodai oleh Mey. 

“Benar, sangat detail dan sangat kompleks. Semuanya itu seolah saling terhubung gitu. Materi pada hari pertama masih relevan waktu hari ketiga dan begitu sebaliknya,” ceritanya.

Baca juga: Mantan Pro Player, Mey Putridiana Kini Jadi Pelatih Putri Bhawikarsu

Melimpahnya pengetahuan yang ada di kamp membuat Mey berharap besar terhadap perkembangan bola basket putri Indonesia di masa mendatang.

“Menurut saya, liga basket profesional untuk putri harus ada lagi. Karena apa yang saya dapat, apa yang didapat anak-anak ini biar nggak berhenti di tingkat SMA. Wadah untuk potensi-potensi pemain dan pelatih ini harus dibikin lagi. Karena lewat sana kita bisa terus mengasah diri dan belajar. Nggak boleh berhenti cuman sampai SMA atau bahkan kuliah aja,” tandasnya.

Jika ditarik mundur ke belakang, pencapaian basket putri mulai berbicara banyak di kancah dunia. Tim basket putri Indonesia membawa pulang medali emas di SEA Games 2023 di Kamboja. Lalu ada emas di kategori 3X3 pada SEA Games 2025 Thailand.

Meski tak ada liga profesional, tim nasional basket putri Indonesia beberapa kali mendulang prestasi. Dalam skuad tersebut hampir selalu ada anak-anak DBL All-Star.

Ikannya selalu banyak, jaringnya juga pasti sudah siap, tinggal bagaimana ikan dan jaring ini ditempatkan di kolam yang tepat dan benar. Semoga mimpi Mey segera terwujud. Ada amin?(*)

Profil Mey Putridiana bisa kalian cek di bawah ini.

Populer

Sempat Minder Bersaing di DBL Camp, Kini Matthew Ivander Buat Keluarga Bangga
Lepas Tawaran Tim Profesional, Rimbun Sidahuruk Justru Masuk DBL All-Star
Mengenal Pola Pertahanan dalam Permainan Basket dan Teknik Melakukannya
Ukuran dan Tinggi Ring Basket Sesuai Aturan FIBA
Misi Pelatih Imanudin Husnuzan: Dari Banyuwangi, Untuk Banyuwangi