Perkembangan zaman yang masif membuat semua orang harus adaptif, tak terkecuali bagi seorang guru. Jika dahulu ekstrakurikuler kuat kaitannya dengan sesuatu yang berbau akademik dan olahraga fisik, kini minat siswa mulai bergerak ke arah yang lebih luas. Salah satunya adalah Esports, permainan yang telah menjelma menjadi salah satu cabang olahraga yang digandrungi para siswa.
Menjawab tantangan tersebut, Prima Embe guru Pendidikan Jasmani dan Olahraga (PJOK) asal SMAN 85 Jakarta akhirnya memfasilitasi Esports sebagai kegiatan ekstrakurikuler (ekskul). Ia ingin mengubah persepsi bahwa bermain gim lebih dari sekadar pengisi waktu luang, tetapi juga menjadi wadah pembinaan karakter, strategi, hingga akhirnya bermuara pada prestasi.
Embe, sapaan karibnya di sekolah, mengungkapkan bahwa niat membangun ekskul ini tak serta merta dari dirinya. Melainkan juga dari keresahan para murid yang ingin sekali menjadikan Esports sebagai ekskul tapi terkendala ketiadaan penanggung jawab.
“Waktu itu anak-anak kebingungan karena tidak ada penanggung jawab, karena membuat ekskul baru harus ada penanggung jawabnya. Kebetulan saya juga bermain salah satu gim moba, jadi saya tahu bagaimana ekosistem dan progres ke depannya,” ujar Embe.
Baca Juga: DBL Super Teacher: Debi Pranata Mengubah Keterbatasan Anak Mesuji Jadi Potensi
Embe pun serius menggarap ekstrakurikuler baru ini. Tim Esports yang diberi nama “Delima Esports” singkatan dari Delapan Lima -nama sekolah mereka- telah resmi di bawah naungan Pengurus Besar Esports Indonesia (PB ESI). Ia bahkan pro aktif menghubungi, menanyakan prosedur, dan mengundang PB ESI ke sekolah untuk berdiskusi jadwal berlatih. Akhirnya ditentukan bahwa setiap kamis adalah hari latihan mereka.
Hal menarik selama proses perjalanan sebagai pembina ekskul Delima Esports ini justru hadir ketika Embe memberikan pemahaman kepada anak didiknya bahwa ekskul ini adalah ekskul yang serius. Ia ingin bukan hanya sekadar bermain atau ikut-ikutan. Lebih dari itu, ekskul ini adalah wadah resmi mengukir prestasi.
“Saya bilang sama murid-murid saya kalau harus serius, bukan sekadar bermain atau mengisi waktu luang saja. Ini wadah resmi kalian untuk mengukir prestasi sama seperti halnya dengan cabang olahraga konvensional yang lain,” ungkapnya.
Baca Juga: DBL Super Teacher: Bangun Komunitas Sosial, Raihan Kuatkan Empati Anak Didik
Berkat visi misi yang sudah diselaraskan itu, tim Delima Esports berhasil menjuarai turnamen-turnamen Liga Esports antar SMA yang diadakan PB ESI. Walaupun terbilang ekstrakurikuler yang baru dan cukup berbeda dengan sekolah-sekolah lainnya, Embe punya harapan positif terhadap anak didiknya untuk bisa berprestasi di ranah nonakademik ini.
Komitmen Prima Embe dalam memfasilitasi minat anak didiknya hingga meraih juara menjadi alasan kuat dirinya tergerak mendaftar DBL Super Teacher. Langkah ini sekaligus memantapkan peran Embe sebagai pendidik yang adaptif. Sosok guru yang percaya bahwa ketika minat siswa diwadahi dengan tepat dan serius, hal itu mampu melahirkan prestasi yang membanggakan.
“Saya siap menambah wawasan dengan berbagai kegiatan yang bermanfaat supaya nanti bisa saya tularkan ke anak didik saya,” pungkasnya.
DBL Super Teacher adalah program pelatihan, pengembangan kapasitas, dan apresiasi bagi guru pendamping yang digagas oleh DBL Indonesia bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).
Baca Juga: DBL Super Teacher: Arno Johan Seimbangkan Akademik dan Taekwondo di Pekalongan
Program ini ditujukan bagi tenaga pendidik yang berdedikasi tinggi dan meyakini bahwa proses belajar tidak hanya berhenti di dalam ruang kelas. Guru-guru terpilih juga akan mendapatkan kesempatan mengikuti pelatihan hingga belajar (short course) ke luar negeri.
Program yang didukung Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) ini gratis dan terbuka bagi seluruh guru di Indonesia. (*)