Akademik dan nonakademik adalah dua hal yang tak mudah diselaraskan, terutama bagi siswa-siswa sekolah menengah. Rasa lelah pascalatihan fisik kerap membuat motivasi belajar di kelas menjadi menurun. Namun, pandangan bahwa olahraga dan nilai akademik tidak bisa berjalan berdampingan dipatahkan oleh Arno Johan, guru Matematika sekaligus pengajar ekstrakurikuler Taekwondo SMAN 1 Pekalongan.
Selama kurang lebih enam tahun mengabdi di SMAN 1 Pekalongan, Arno Johan justru membuktikan bahwa menjadi atlet justru bisa menjadi fondasi menuju kesuksesan akademik dan menyongsong masa depan yang cerah.
“Saya sendiri pernah menjadi atlet taekwondo, jadi saya memahami bahwa anak-anak yang aktif di bidang olahraga juga membutuhkan dukungan dan pendampingan yang baik. Menurut saya, prestasi akademik dan nonakademik tidak seharusnya berjalan sendiri-sendiri, tetapi harus saling mendukung,” ujar guru yang disapa Arno ini.
Sebagai guru yang pernah mengalami asam garam saat menjadi pelajar sekaligus atlet taekwondo, Arno ingin anak didiknya berkembang lebih baik daripada dirinya. Arno ingin anak-anak berkembang secara utuh.
Arno Johan (Kiri) saat Mendampingi Anak Didiknya Bertanding
”Mereka tetap harus bertanggung jawab terhadap belajar, tetapi juga perlu diberi ruang untuk mengembangkan minat dan bakat melalui olahraga. Lagipula, menjadi atlet bukan hanya soal kemampuan fisik, melainkan tentang disiplin, konsistensi, mental, dan bagaimana bangkit dari
Baca Juga: DBL Super Teacher: Kedekatan Asniwaty Kunci Sukses Drumband SMAN 2 Merauke
Kegagalan, nilai-nilai yang sangat relevan dengan pendidikan,” tambahnya.
Walaupun berkecimpung di dunia Matematika yang notabene sangat akademik, Arno tahu rasanya jadi atlet dan mengilhami nilai-nilai yang membantunya hingga titik ini. Pada murid-muridnya, Arno mengajarkan bagaimana prestasi olahraga dan akademiknya bisa tumbuh seimbang.
Berkat dukungan darinya yang tak pernah putus, anak-anak di bawah didikannya mampu menjuarai berbagai perlombaan. Lebih dari itu, mereka juga bisa diterima di PTN favorit.
“Untuk prestasi taekwondo SMAN 1 Pekalongan selalu menjadi juara umum POPDA Tingkat Kota Pekalongan. Dan beberapa dari atlet tersebut juga ada yang masuk ke UGM melalui jalur prestasi karena mereka bisa menjuarai POPDA hingga tingkat provinsi,” ujarnya.
Arno juga memiliki cerita unik saat mendampingi anak didiknya di tahun 2025 lalu. Dia pernah menjadi pembina SMAN 1 Pekalongan saat bertanding di POPDA Taekwondo. ”Tim kami mendatkan emas terbanyak dari semua cabor olahraga dan hanya satu siswa yang belum mendapatkan medali pada saat itu,” kenangnya.
Potret Arno (Kiri) saat Berhasil Mengantarkan Anak Didiknya Meraih Juara
Menurut Arno, bentuk apresiasinya dari sekolah tidak hanya berupa penghargaan, tetapi juga dukungan nyata seperti uang pembinaan dan fasilitas untuk latihan. Menurut dia, hal seperti itu sangat berarti karena anak-anak merasa bahwa kerja keras mereka diperhatikan dan dihargai oleh sekolah. ”Saya melihat apresiasi tersebut justru menjadi motivasi tambahan bagi mereka untuk terus berlatih, berprestasi, dan membawa nama baik sekolah,” tuturnya.
Baca Juga: DBL Super Teacher: Dede Rahmat Hidupkan Seni dan Kreativitas di Biak
Dengan mengikuti DBL Super Teacher, Arno ingin terus mengkampanyekan bahwa akademik dan nonakademik ini bisa jalan beriringan. Dia ingin berkontribusi dengan dimulai dengan hal-hal yang sederhana. Misalnya, sebagai guru Matematika bisa mengambil konteks dari kegiatan olahraga anak-anak sebagai bagian dari pembelajaran. Data hasil latihan bisa digunakan untuk belajar statistik atau membuat grafik perkembangan.
“Kemudian dari sisi pendampingan, saya ingin berkoordinasi dengan wali kelas dan guru supaya anak-anak yang aktif di ekstrakurikuler tetap bisa mengatur waktu antara latihan dan belajar. Jadi mereka tidak merasa harus memilih antara berprestasi di akademik atau nonakademik,” pungkasnya.
Arno saat Mengajar Taekwondo
Arno ingin perubahan sedikit demi sedikit kemudian menjadi besar. Baginya, yang terpenting bukan program yang terlihat besar, tetapi bagaimana hal sederhana itu dapat konsisten dilakukan dan benar-benar dirasakan oleh siswa.
Baca Juga: Dari Lapangan Basket di Daerah 3T, Taufik Menemukan Makna Menjadi Super Teacher
DBL Super Teacher adalah program pelatihan, pengembangan kapasitas, dan apresiasi bagi guru pendamping yang digagas oleh DBL Indonesia bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).
Program ini ditujukan bagi tenaga pendidik yang berdedikasi tinggi dan meyakini bahwa proses belajar tidak hanya berhenti di dalam ruang kelas. Guru-guru terpilih juga akan mendapatkan kesempatan mengikuti pelatihan hingga belajar (short course) ke luar negeri.
Program yang didukung Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) ini gratis dan terbuka bagi seluruh guru di Indonesia. (*)