Menjadi guru seni di ujung timur Indonesia bukan perkara mudah. Bagi Dede Rahmat, keterbatasan bukan alasan untuk berhenti. Justru di situlah tantangan untuk terus mencari cara agar kreativitas anak didiknya tetap tumbuh.
Dede merupakan guru Seni Budaya di SMA YPK 2 Biak Papua. Berbekal latar belakang Pendidikan Seni Pertunjukan dari Universitas Tanjungpura Pontianak, ia mulai mengabdi di sekolah tersebut sejak awal 2023.
Fokus utamanya memang seni tari. Namun, perannya di sekolah jauh lebih luas. Di luar jam mengajar, Dede dipercaya menjadi Pembina OSIS sekaligus Pembina Ekstrakurikuler Tari.
Tiga peran tersebut ia jalankan beriringan. Baginya, mendampingi siswa tidak cukup hanya melalui pelajaran di kelas. Ada karakter, kepemimpinan, kreativitas, hingga kemampuan bekerja sama yang juga perlu dibentuk.
“Sebagai Guru Seni dan Prakarya, saya bertugas untuk menanamkan nilai estetika, kerja keras, dan gagasan kreatif. Sebagai Pembina OSIS, saya melatih kepemimpinan, manajemen organisasi, dan tanggung jawab anak-anak. Dan sebagai Pembina Ekskul Tari, saya mendampingi siswa mengolah kedisiplinan fisik, ekspresi budaya lokal Papua, serta kerja sama tim melalui gerakan. Tiga peran ini saling menguatkan,” ujar pria yang akrab disapa Dede tersebut.
Dede saat mengajar di kelas Seni Budaya di SMA YPK 2 Biak Papua.
Baca Juga: DBL Super Teacher: Sir Fiu, Guru Bahasa Inggris yang Juga Manager Basket Sekolah
Menjadi pembina ekstrakurikuler tari juga membuat Dede berhadapan langsung dengan berbagai tantangan. Salah satunya ketika harus mempersiapkan anak didiknya tampil di ajang besar seperti AQUA DBL Dance.
Kostum, tempat latihan yang memadai, hingga akses terhadap referensi menjadi beberapa kendala yang ia rasakan. Namun, keterbatasan fasilitas tidak membuat Dede kehabisan akal.
Ia dan tim memilih memadukan berbagai kebutuhan yang tersedia. Untuk beberapa perlengkapan, mereka memesannya secara daring. Bahkan, demi mempersiapkan penampilan perdana di AQUA DBL Dance Papua Series 2026, Dede mendatangkan pelatih dance dari Jayapura untuk berkolaborasi.
“Yang saya dan tim lakukan akhirnya kami mix. Barang yang akan kami gunakan kami pesan online. Dan di awal debut saya, kami datangkan pelatih dance yang berkolaborasi dengan kami dari Jayapura khusus untuk AQUA DBL Dance Papua Series 2026 ini,” ujarnya.
Dede (Kanan Belakang) saat mendampingi tim dance SMA YPK 2 Biak Papua pada DBL Dance musim lalu.
Tantangan Dede tidak berhenti pada persoalan fasilitas. Ia juga mengambil peran sebagai support system bagi anak didiknya. Terutama ketika jadwal latihan mulai berbenturan dengan kewajiban akademik.
Baginya, prestasi di atas panggung tidak boleh membuat siswa mengabaikan sekolah.
“Saat anak-anak jenuh atau tertekan kompetisi, saya bangun komunikasi dengan guru lain agar ada fleksibilitas tugas. Tugas saya adalah memastikan mental mereka tetap terjaga tanpa mengorbankan akademiknya,” ungkapnya.
Pendampingan Dede perlahan menunjukkan hasil.
Sejak 2023, tim dance SMA YPK 2 Biak Papua telah menjuarai sejumlah kompetisi lokal di Biak Numfor. Mereka juga mencetak sejarah dengan menjadi Grand Finalis 10 besar National Dance Competition regional Makassar pada Januari 2026.
Yang membuat pencapaian tersebut semakin istimewa, mereka menjadi satu-satunya wakil dari Tanah Papua.
Dede (Depan Kiri) selalu menemani perjalanan tim dance SMA YPK 2 Biak.
Baca Juga: Dari Lapangan Basket di Daerah 3T, Taufik Menemukan Makna Menjadi Super Teacher
Di panggung DBL Dance Competition Papua Series, perjalanan mereka memang belum berakhir dengan masuk Best Five. Namun, bagi Dede, capaian tersebut bukan satu-satunya ukuran keberhasilan.
Ia justru melihat perubahan yang terjadi pada anak didiknya. Mereka yang sebelumnya ragu, kini berani tampil dan membawa nama Papua ke panggung yang lebih besar.
“Momen saat melihat anak-anak yang dulunya ragu kini berdiri bangga membawa nama Papua di kancah nasional adalah kenangan tak ternilai. Saya bangga dengan semangat mereka dan berharap kami bisa masuk Best Five musim ini,” ungkapnya.
Harapan tersebut berjalan seiring dengan apresiasi Dede terhadap tema 100% Indonesia yang diusung AQUA DBL Dance musim ini.
Sebagai guru seni, ia melihat tema tersebut bukan sekadar konsep untuk penampilan. Ada kesempatan bagi siswa untuk mengenal kembali budaya sendiri dengan cara yang dekat dengan keseharian mereka.
“Tantangan terbesar guru seni adalah menjaga identitas budaya di tengah gempuran tren luar. Lewat tema ‘100% Indonesia’, DBL mengajak anak-anak belajar budaya secara alami dan menyenangkan.
“Apalagi tema ini bukan sekadar pemanis, melainkan sebuah jembatan yang sangat efektif untuk menghubungkan generasi muda, khususnya Gen Z, dengan akar budaya bangsanya sendiri melalui media yang sangat mereka gemari, yaitu dance,” ujarnya.
Dede saat Mendampingi Tim Dance SMA YPK 2 Biak Papua Latihan
Perjalanan mendampingi siswa membuat Dede sadar bahwa menjadi guru juga berarti terus belajar. Karena itu, ketika mendengar informasi mengenai program DBL Super Teacher, ia merasa program tersebut menjawab kegelisahan yang selama ini ia rasakan.
Bukan hanya tentang bagaimana menjadi guru yang lebih baik di dalam kelas. Dede ingin belajar bagaimana menjadi mentor yang bisa mendampingi anak didiknya secara lebih utuh.
“Saya merasa program ini menjawab kegelisahan saya selama ini. Bagaimana peran guru tidak sekadar mengajar di dalam kelas, tetapi menjadi mentor tumbuh kembang anak secara utuh.
Baca juga: Simak Cara Daftar dan Berkas Wajib DBL Super Teacher 2026 di DBL Play!
“Kemudian, saya ingin ilmu yang saya dapat bisa saya bawa ke sekolah demi kemajuan SMA YPK 2 Biak Papua,” tutupnya.
Bagi Dede, keterbatasan fasilitas bukan akhir dari cerita. Di tengah segala keterbatasan itu, ia justru menemukan ruang untuk berkreasi, belajar, dan mendampingi anak-anaknya berani bermimpi lebih jauh.
Dari Biak, seni terus bergerak. Dan Dede memilih untuk berada di belakangnya, memastikan anak-anak didiknya punya keberanian untuk terus melangkah.
DBL Super Teacher adalah program pelatihan, pengembangan kapasitas, dan apresiasi bagi guru pendamping yang digagas oleh DBL Indonesia bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).
Program ini ditujukan bagi tenaga pendidik yang berdedikasi tinggi dan meyakini bahwa proses belajar tidak hanya berhenti di dalam ruang kelas. Guru-guru terpilih juga akan mendapatkan kesempatan mengikuti pelatihan hingga belajar (short course) ke luar negeri.
Program yang didukung Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) ini gratis dan terbuka bagi seluruh guru di Indonesia. (*)