Tumbuh di Keluarga Sepak Bola, Nadine Wijaya Memilih Basket

| Penulis : 

Nadine Wijaya tumbuh di keluarga yang dekat dengan sepak bola. Ayahnya, I Made Pasek Wijaya, merupakan mantan pemain sepak bola yang pernah memperkuat Timnas Indonesia. Made Pasek juga meraih medali perunggu SEA Games 1989 dan bergabung dalam skuad Garuda pada Pra-Piala Dunia 1990. Sementara itu, kakaknya juga menekuni sepak bola.

Namun, ketika mendapat kesempatan memilih olahraga sendiri, Nadine justru menemukan tempatnya di lapangan basket.

Ni Made Nadine Cista Praba Wijaya, yang akrab disapa Nadine, mulai mengenal basket saat duduk di kelas VII SMP. Saat itu, ia bersekolah di SMPN 8 Denpasar. Keputusannya mengikuti ekstrakurikuler basket bermula dari keinginan sederhana untuk mencoba kegiatan baru setelah pandemi.

“Awalnya iseng saja karena setelah pandemi, Nadine bosan terus-menerus di rumah. Jadi, Nadine ingin mencoba kegiatan di luar sekolah,” cerita Nadine.

Sebelum itu, sang ayah sempat mengarahkan Nadine untuk mencoba sepak bola sebagai penjaga gawang. Dengan postur tubuh yang tinggi, Pasek melihat putrinya punya potensi untuk bermain di posisi tersebut. Nadine bahkan sempat mencoba berlatih mengoper bola menggunakan kaki di rumah.

Namun, pengalaman itu justru membuat Nadine menyadari bahwa sepak bola bukan olahraga yang ingin ia tekuni.

Baca Juga: Dari Pasar Tradisional hingga Kisah Ramayana di AQUA DBL Dance 2026 Bali

“Dulu memang diminta belajar main bola untuk jadi kiper sama papa, tapi Nadine merasa passion Nadine bukan di sana. Jadi, sekarang cuma senang menonton dan mendukung papa sama kakak kalau ada pertandingan,” ungkapnya.

Made Pasek pun tidak memaksakan keinginannya. Ia menyadari bahwa minat putrinya berada di olahraga yang berbeda. Baginya, tugas orang tua adalah memberikan dukungan agar Nadine bisa berkembang di bidang yang dipilihnya.

“Karena anaknya sudah senang basket, kami sebagai orang tua hanya mendukung dan men-support dia. Kadang-kadang kami juga pergi ke luar kota untuk mendukungnya, termasuk ke Surabaya bersama mamanya,” ujar Pasek.

Dari yang awalnya hanya ingin mengisi waktu, Nadine mulai merasa ingin mengembangkan kemampuannya lebih jauh. Sekitar tiga bulan setelah mengenal basket, ia sudah mencoba mencari klub untuk mendapatkan latihan yang lebih serius.

Salah satu pengalaman yang membuatnya semakin bersemangat adalah ketika berhasil meraih penghargaan top rebound. Pencapaian itu menjadi dorongan baginya untuk terus belajar dan memperbaiki permainan.

“Nadine tidak menyangka prestasi pertama itu top rebound. Dari sana, Nadine jadi ingin mengasah kemampuan basket dengan lebih serius,” kata remaja berusia 16 tahun itu.

Potret kebersamaan Ni Made Nadine Cista Praba Wijaya bersama keluarga (Foto: dokumentasi pribadi  Ni Made Nadine Cista Praba Wijaya)

Memulai basket sejak SMP membuat Nadine harus mengejar kemampuan yang mungkin sudah lebih dulu diasah pemain lain sejak kecil. Keluarga kemudian membantu mencarikan pelatih privat agar ia bisa memperbaiki aspek-aspek permainan yang masih perlu dikembangkan.

Pasek mengakui bahwa dirinya tidak terlalu memahami teknik basket karena latar belakangnya berada di sepak bola. Namun, ia tetap bisa membantu putrinya dalam hal kebugaran, pola makan, dan kedisiplinan. Untuk urusan teknik, ia memilih mempercayakannya kepada pelatih yang lebih memahami basket.

Baca Juga: Sempat Tinggalkan Dance, Aymie Kembali Menari di Panggung AQUA DBL Dance!

“Kalau teknik, kami mencari pelatih privat. Nadine baru mulai basket di kelas VII SMP, jadi bisa dibilang agak terlambat. Setelah dia mengikuti seleksi nasional, kami sepakat mencarikan pelatih privat supaya footwork dan move-nya lebih bagus,” jelas Pasek.

Bagi Pasek, proses itu menjadi salah satu alasan ia bangga terhadap Nadine. Ia melihat putrinya bersedia menjalani latihan dengan sungguh-sungguh meski baru mengenal basket saat SMP. Nadine juga tidak berhenti ketika merasa kemampuannya belum sesuai harapan.

“Kalau dia merasa hari ini permainannya kurang, besok-besok dia akan meminta tambahan latihan kepada pelatih privatnya. Dia berusaha memperbaiki kekurangannya,” ungkap Pasek.

Kebiasaan sebagai atlet juga perlahan terbentuk di luar lapangan. Nadine semakin memahami pentingnya menjaga pola makan dan istirahat. Menurut Pasek, kini putrinya sudah bisa mengatur kebiasaan tersebut secara mandiri.

“Kalau mau menjadi atlet, ada tiga hal yang harus diikuti, yaitu disiplin, nutrisi, dan semangat berlatih. Sekarang kami tidak perlu terus-menerus mengingatkan soal makanan karena dia sudah tahu apa yang harus dijaga,” kata Pasek.

Ia menambahkan, Nadine cukup ketat menjaga asupan makanan. Gorengan hanya dikonsumsi saat cheat day, sedangkan makanan sehari-harinya lebih banyak diolah dengan cara dikukus, direbus, atau dipanggang.

Meski tidak mengikuti jejak ayah dan kakaknya di sepak bola, Nadine tetap tumbuh dalam lingkungan keluarga yang terbiasa membicarakan olahraga. Percakapan di rumah kerap berkaitan dengan latihan, kondisi fisik, hingga cara memperbaiki kemampuan saat bertanding.

Baca Juga: Akhirnya! Mimpi Arya Debut di DBL Terwujud

Pasek juga sesekali memberikan masukan mengenai mental bertanding dan semangat juang. Sementara itu, kakak Nadine lebih sering memberikan komentar mengenai pertahanan atau defense. Dukungan tersebut menjadi bagian dari proses Nadine belajar melihat permainan dari berbagai sisi.

Namun, dukungan keluarga tidak berarti Nadine harus selalu memenuhi harapan orang lain. Pasek memahami bahwa perjalanan putrinya masih panjang, termasuk ketika menghadapi kekalahan. Baginya, hasil pertandingan bisa menjadi bahan evaluasi, bukan alasan untuk berhenti.

“Kalau kalah, berarti ada kekurangan yang harus diperbaiki, entah dari segi fisik atau teknik. Kalau teknik, kami mencari tahu kepada pelatih privatnya bagian mana yang perlu dilatih,” ujarnya.

Ia juga tidak ingin Nadine merasa harus selalu kuat setelah pertandingan yang tidak berjalan sesuai harapan. Menurutnya, putrinya tetap boleh merasa sedih sebelum kembali mengevaluasi apa yang bisa dilakukan selanjutnya.

“Kalau Nadine kalah, saya memberikan waktu untuknya bersedih terlebih dahulu. Setelah itu, baru kami berbicara lagi. DBL memang salah satu ajang untuk memperlihatkan kemampuan, tetapi masih ada kompetisi lain yang bisa menjadi kesempatan untuk berkembang,” jelas Pasek.

Sikap tersebut sejalan dengan cara keluarga memandang masa depan Nadine. Meski bangga melihat putrinya serius bermain basket, Pasek dan istrinya tidak ingin menentukan jalan yang harus diambil Nadine setelah lulus SMA.

“Kalau Nadine memang punya passion menjadi pemain profesional, kami sangat mendukung. Kalau dia ingin kuliah, kami juga akan mendukung. Kami tidak ingin memaksakan atau menekan anak,” katanya.

“Keputusan tetap ada di tangan Nadine. Yang penting, pilihannya baik dan dia bisa bertanggung jawab atas keputusan tersebut.”

Kini, Nadine punya target yang ingin diperjuangkan melalui basket. Pada Honda DBL with Kopi Good Day 2026 Bali, ia ingin terpilih sebagai First Team, melanjutkan perjuangan di DBL Camp, hingga mendapatkan kesempatan menjadi DBL All-Star.

Lebih jauh dari target musim ini, Nadine menyimpan mimpi untuk menjadi pemain basket nasional yang bisa membawa nama Indonesia ke panggung internasional.

“Mimpi Nadine adalah menjadi pemain basket nasional yang bisa membawa nama Indonesia berjaya di kancah internasional,” ungkapnya.

Dari seorang remaja yang awalnya hanya mencari kegiatan baru setelah pandemi, Nadine kini punya tujuan yang ingin dikejar dengan serius. Ia memilih olahraga yang berbeda dari ayah dan kakaknya, tetapi tetap membawa nilai yang tumbuh di keluarganya yakni disiplin, semangat berlatih, dan keberanian untuk terus memperbaiki diri.

Dengan dukungan keluarga yang memberinya ruang untuk memilih, Nadine kini menjalani jalannya sendiri di basket. Bukan untuk meneruskan cerita sepak bola keluarganya, melainkan untuk membangun cerita yang ingin ia capai melalui olahraga pilihannya.

Baca Juga: Jadwal dan Link Live Streaming DBL Bali 2026, Selasa 20 Oktober 2026

Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 siap mengguncang 31 kota di 22 provinsi se-Indonesia. Seperti musim sebelumnya, DBL Indonesia akan menjaring para student-athlete terbaik dari setiap kota untuk memperebutkan tiket DBL Indonesia All-Star melalui program DBL Camp.

Tak kalah seru, Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 juga menghadirkan AZA 3X3 Competition serta AQUA DBL Dance 2026-2027 dengan mengusung tema "100% Indonesia".  Seluruh keseruan pertandingan bisa disaksikan secara langsung di kanal YouTube DBL Play, serta di YouTube Good Day ID khusus untuk laga final. (*)

Profil pemain ini bisa dilihat pada halaman di bawah ini (pengguna Android bisa melakukan scroll dengan double tap)

Populer

Hasil DBL Bali: Putra Soverdi dan Smansa Kantongi Tiket Big Eight!
Abigail dan Lady, Kakak-beradik yang Kompak Antar Gonzaga hingga Championship
Jadwal dan Link Live Streaming DBL Jakarta Championship, Selasa, 20 Oktober 2026
Jadwal dan Link Live Streaming DBL Bali 2026, Selasa 20 Oktober 2026
DBL Super Teacher: Dede Rahmat Hidupkan Seni dan Kreativitas di Biak