Setelah cukup lama tidak menari di hadapan penonton, Aymie Aizawa Kanginnadhi akhirnya kembali merasakan suasana panggung lewat AQUA DBL Dance 2026 Bali. Bersama tim dance SMA Dyatmika Denpasar, dancer kelas XI itu mendapat kesempatan untuk kembali melakukan hal yang sudah ia sukai sejak kecil.
Perjalanan Aymie di dunia dance dimulai ketika usianya baru 3 tahun. Sang ibu mengenalkannya pada balet, yang ia tekuni selama 5 hingga 6 tahun. Saat sekolah dasar, ia juga mengikuti kegiatan cheerleading sepulang sekolah.
“Aku mulai menari berkat ibuku yang memasukkanku ke kelas balet saat usiaku tiga tahun. Dari dulu, aku memang suka menari, belajar koreografi baru, dan mencoba hal-hal baru,” cerita Aymie.
Namun, ketertarikannya pada dance sempat terhenti setelah pandemi COVID-19. Aymie berhenti mengikuti kelas tari karena memiliki banyak kegiatan ekstrakurikuler lain. Meski begitu, keinginan untuk kembali menari tetap ada.
“Aku sebenarnya selalu ingin kembali menari, tetapi saat itu aku mengikuti banyak kegiatan ekstrakurikuler lain sehingga tidak punya waktu untuk mengikuti kelas dance secara rutin,” ungkapnya.
Baca Juga: Jadwal dan Link Live Streaming DBL Bali 2026, Selasa 20 Oktober 2026
Tanpa mengikuti kelas dance, Aymie tetap berusaha dekat dengan dance lewat latihan mandiri di rumah. Ia mempelajari berbagai koreografi K-pop dan tarian yang populer di media sosial bersama teman-temannya. Dari kebiasaan itu, ia mulai mengenal beragam gaya tari dan melihat dance dari sudut pandang yang berbeda.
“Meski begitu, aku tetap sering berlatih menari sendiri di rumah saat waktu luang. Aku belajar banyak koreografi K-pop dan tarian TikTok bersama teman-temanku. Dari situ, aku bisa melihat dance dari sudut pandang baru, mengenal berbagai gaya tari, dan memahami lagi alasan aku menyukainya sejak awal,” tuturnya.
Kesempatan untuk kembali tampil di atas panggung akhirnya datang melalui AQUA DBL Dance 2026 Bali. Bagi Aymie, pengalaman tersebut terasa istimewa karena ia sudah menunggu selama beberapa tahun untuk bisa merasakannya secara langsung.
“DBL menjadi pengalaman yang sangat menyenangkan dan akan selalu aku kenang karena aku sudah menunggu selama beberapa tahun untuk akhirnya bisa mengalaminya. Sudah lama sekali aku tidak menari di atas panggung di depan penonton. Jadi, aku sangat senang bisa kembali menari dan melakukan hal yang aku sukai bersama teman-temanku!” ceritanya.

Potret Aymie Aizawa Kanginnadhi saat mengikuti kegiatan Duke of Edinbrough dan meraih Silver Award 2026 (Foto: dokumentasi pribadi Aymie Aizawa)
SMA Dyatmika Denpasar memang harus terhenti pada laga pertama. Namun, hasil tersebut tidak menghapus kebanggaan Aymie terhadap perjuangan timnya selama persiapan hingga pertandingan.
“Sayangnya, Dyatmika kalah di babak pertama. Meski begitu, aku tetap bangga kepada semua anggota tim karena mereka sudah berusaha semaksimal mungkin dan bekerja keras. Semoga tahun depan kami bisa kembali dengan lebih kuat!” ungkapnya.
Baca Juga: Akhirnya! Mimpi Arya Debut di DBL Terwujud
Lebih dari kesempatan untuk kembali tampil, dance juga mempertemukan Aymie dengan teman-teman yang memiliki ketertarikan serupa. Ia merasa hubungan di dalam tim berkembang dengan cepat, meskipun mereka baru menjalani persiapan bersama selama sekitar dua bulan.
“Dance membentuk lingkungan pertemanan yang terasa berbeda dari kegiatan lainnya. Dalam waktu sekitar dua bulan saja, aku bisa semakin dekat dengan teman-teman satu tim dan membangun hubungan yang sangat berarti dalam waktu singkat,” jelas Aymie.
Bagi Aymie, pengalaman tersebut menjadi sesuatu yang berbeda dari kegiatan akademik maupun musik. Ia tidak hanya mempelajari koreografi, tetapi juga membangun kedekatan dengan orang-orang yang menjalani proses yang sama.
Di luar dance, keseharian Aymie memang dipenuhi berbagai aktivitas. Ia bermain drum dan tergabung dalam band sekolah. Sebelumnya, ia juga pernah belajar piano dan biola melalui les musik.
Ketika ditanya bagaimana menjaga semangat untuk tetap menari di tengah kesibukan tersebut, Aymie memberikan jawaban sederhana.
“Dance membuatku bahagia. Aku memang sangat suka dan menikmati kegiatan ini. Menari juga bisa menjadi olahraga, terutama saat aku tidak sedang aktif mengikuti kegiatan olahraga lainnya,” katanya.
Ia mengakui bahwa menjalani banyak kegiatan sekaligus tidak selalu mudah. Ada kalanya ia merasa kewalahan, tetapi kegiatan-kegiatan itu tetap menjadi bagian dari hal yang ia nikmati.
“Aku sudah sering merasa kewalahan. Namun, pada akhirnya, semua kegiatan yang aku jalani adalah hal-hal yang membuatku bahagia dan memang aku nikmati,” ungkapnya.
Dalam mengatur waktu, Aymie juga mendapat bantuan dari sang ibu, terutama ketika masih kecil. Ia berusaha menyelesaikan pekerjaan rumah lebih awal agar bisa membagi waktu untuk kegiatan lain tanpa mengabaikan tanggung jawab sekolah.
Baca Juga: Hasil DBL Bali: Putra Soverdi dan Smansa Kantongi Tiket Big Eight!
“Ibuku sangat membantu dalam mengatur berbagai kegiatan ekstrakurikuler, terutama saat aku masih kecil. Aku suka mengatur waktu dengan baik, tetapi aku juga ingin menikmati berbagai kegiatan dan bersenang-senang. Jadi, aku berusaha menyelesaikan banyak tugas sekolah lebih awal supaya punya waktu untuk melakukan semua hal yang aku inginkan dan sukai,” jelasnya.
Kesibukan tersebut berjalan beriringan dengan Aymie yang meraih Duke of Edinburgh's Award tingkat Bronze pada 2025 dan Silver pada 2026. Dari berbagai pengalaman yang ia jalani, penyelesaian tingkat Silver menjadi salah satu yang paling berkesan baginya.
“Belakangan ini, pengalaman yang paling berkesan bagiku adalah menyelesaikan Duke of Edinburgh's Award tingkat Silver,” ujarnya.
Program tersebut menggabungkan kegiatan kerelawanan, aktivitas fisik, pengembangan keterampilan, dan ekspedisi. Bagi Aymie, tantangan yang dijalani selama program itu mengajarkannya untuk tetap berusaha meski menghadapi situasi sulit.
“Program ini mengajarkanku untuk tekun dan terus berusaha, bahkan ketika sesuatu terasa sulit atau hampir mustahil dilakukan. Kegiatan mendakinya juga meningkatkan kemampuan kerja sama tim, komunikasi, dan kepemimpinanku. Aku belajar bahwa aku bisa melakukan apa pun selama benar-benar bertekad untuk mencapainya,” ceritanya.
Pengalaman itu menambah pelajaran yang ia dapatkan di luar kelas. Jika akademik melatihnya untuk mengejar target belajar, kegiatan seperti DofE dan dance memberinya kesempatan mengembangkan kemampuan lain melalui pengalaman langsung bersama orang-orang di sekitarnya.
Meski menikmati berbagai kegiatan tersebut, Aymie tetap menjadikan pendidikan sebagai prioritas. Ia memiliki rencana untuk melanjutkan kuliah di luar negeri, dengan minat pada bidang matematika atau engineering.
“Fokus utamaku adalah akademik karena tujuan utamaku adalah kuliah di luar negeri, khususnya di bidang matematika atau teknik,” jelasnya.
Namun, ia juga merasa kegiatan di luar akademik penting untuk menjaga keseimbangan kesehariannya.
“Aku juga merasa kegiatan di luar akademik itu menyenangkan karena bisa menjadi jeda dari rutinitas yang sama setiap hari. Dengan begitu, aku bisa melakukan banyak hal yang berbeda,” tutupnya.
Baca Juga: Budaya dan Nasionalisme dalam Empat Penampilan AQUA DBL Dance 2026 Bali
Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 siap mengguncang 31 kota di 22 provinsi se-Indonesia. Seperti musim sebelumnya, DBL Indonesia akan menjaring para student-athlete terbaik dari setiap kota untuk memperebutkan tiket DBL Indonesia All-Star melalui program DBL Camp.
Tak kalah seru, Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 juga menghadirkan AZA 3X3 Competition serta AQUA DBL Dance 2026-2027 dengan mengusung tema "100% Indonesia". Seluruh keseruan pertandingan bisa disaksikan secara langsung di kanal YouTube DBL Play, serta di YouTube Good Day ID khusus untuk laga final. (*)