Keterbatasan materi Pendidikan Jasmani dan Olahraga (PJOK) yang masih didominasi oleh teknik cabang olahraga dan aktivitas fisik umum membuat Solekah, guru PJOK SMAN 9 Malang tergerak. Ia memasukkan kurikulum Sport Science tentang cedera ACL dan angkle sprain lalu menerjemahkannya ke dalam pembelajaran PJOK sehari-hari.
Adanya materi tersebut bukanlah tanpa alasan. Alasan pertama yang kuat mendasari adalah perjalananan profesionalnya saat menjadi atlet bersama dengan SMAN 1 Boyolangu Tulungagung. Solekah bersama timnya berhasil meraih gelar Champions North Region dan Runner-Up East Java Series di Honda DBL 2012. Dari situ, akhirnya Solekah memahami betul dinamika mental, ketahanan fisik, dan tekanan di lapangan.
Solekah bersama dengan Tim Basket SMAN 1 Boyolangu Tulungagung saat Menjuarai Honda DBL East Java Series 2012 (Sumber: Dokumentasi Pribadi)
Nilai-nilai saat menjadi atlet tersebut kemudian dibawa sampai ia menjadi guru PJOK di SMAN 9 Malang sekaligus menjadi wasit lisensi FIBA. Kedua peran ini menciptakan sinergi yang saling menguatkan. Sebagai guru, Solekah melihat pengembangan karakter dan kesehatan siswa secara mendalam. Sedangkan pengalaman sebagai wasit membuatnya belajar membaca permainan dan kondisi pemain lebih cermat.
Baca Juga: DBL Super Teacher: Luthfi Ridzki Tanamkan Kepemimpinan Lewat Pendidikan
“Ketika mengamati langsung atlet muda yang mengalami cedera tanpa kontak fisik, dari situlah saya tergerak memperdalam keilmuan tentang cedera ACL dan ankle sprain, lalu menerjemahkannya ke dalam pembelajaran PJOK sehari-hari. Salah satunya melalui pembiasaan 10-15 menit dynamic stretching dan latihan proprioception,” ujarnya.
Melalui pendekatan yang reflektif dan adaptif, Solekah ingin tidak hanya mengajar olahraga, tetapi juga membangun budaya pencegahan cedera, ketahanan fisik, dan mentalitas yang kuat.
Apa yang Solekah tanamkan akhirnya bisa ia tuai. Salah satu pengalaman berkesan adalah saat mendampingi anak didiknya bernama Dinda. Ia sempat patah semangat karena sulit beradaptasi di ajang DBL. Melihat itu, Solekah tak tinggal diam. Ia langsung mengamati potensi lain yang dimiliki siswinya. Ternyata, Dinda punya refleks dan koordinasi tangan dan mata yang kuat. Dari situ, Solekah pun mengarahkannya pada cabang olahraga kriket dengan dibantu oleh Bapak/Ibu guru olahraga lainnya.
Hasilnya Dinda berhasil meraih juara 1 Porprov dan mendapatkan beasiswa penuh jalur prestasi di Universitas Negeri Malang dengan Golden Ticket.
Solekah (Kiri) saat Mendampingi Dinda, Siswanya yang Menjuarai Lomba Kriket (Sumber: Dokumentasi Pribadi)
Baca Juga: DBL Super Teacher: Esdi Pangganti Ajak Siswa Belajar Kimia Lewat Proyek Kreatif
“Yang paling berkesan bagi saya bukan medalinya, tetapi melihat Dinda kembali percaya diri dan tersenyum saat latihan. Ia juga memberikan semangat ke adik-adik kelasnya untuk mengikuti keberhasilannya,” tambahannya.
Keberhasilan Solekah dalam mengarahkan Dinda membuktikan bahwa tugas Solekah tidak hanya sebatas sebagai pendidik, tetapi juga memfasilitasi mereka menemukan ‘rumah’ dan potensi sejati mereka.
Tak berhenti di situ, Solekah ingin mengintegrasikan akademik dan nonakademik melalui pendekatan Kinesthetic Integrated Learning dan Fair-Play Character. Ia ingin menekankan bahwa olahraga bukan hanya aktivitas fisik, melainkan juga media belajar sekaligus sarana pembentukan karakter.
Tiga hal yang akan Solekah terapkan. Pertama, pembelajaran lintas mata pelajaran. Menghubungkan PJOK dengan Fisika dan Matematika. Misalnya, siswa mengukur sendiri sudut lemparan dan hukum gerak di lapangan. Dengan Biologi, mereka memahami sistem organ dan manajemen nutrisi tubuh. Olahraga jadi laboratorium hidup. Kedua, Decision Making Class, ini saya ambil dari pengalaman sebagai wasit FIBA. Siswa dilatih berpikir kritis, jujur, dan mengambil keputusan etis di bawah tekanan keterampilan yang sangat berguna untuk penalaran akademik mereka. Ketiga, penilaian yang menyeluruh, memetakan aspek fisik, emosional, dan kognitif.
Baca Juga: DBL Super Teacher: Ameliasari Kesuma, Guru Ekonomi yang Rawat Budaya Menulis
“Dari pengalaman itu, saya sadar bahwa kedisiplinan dan mentalitas dari nonakademik sangat membantu keberhasilan akademik. Karena itu, saya ingin mengajak rekan-rekan guru melihat keduanya sebagai suatu kesatuan,” ujarnya.
Dengan bergabungnya Solekah menjadi salah satu partisipan DBL Super Teacher, ia punya misi untuk menerapkan growth mindset. Utamanya filosofi ‘mens sana in corpore sano’, di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Oleh karena itu, aktivitas fisik dan akademik ia pandang sebagai satu kesatuan utuh yang membentuk karakter, kedisiplinan, dan ketahanan mental peserta didik.
“Sebagai pembelajar sepanjang hayat, saya ingin keluar dari zona nyaman melalui Super Teacher untuk membuktikan bahwa akademik dan nonakademik dapat tumbuh saling menguatkan, sekaligus menciptakan efek yang positif dengan mendiseminasikan ilmu dan practical knowledge kepada rekan-rekan guru di seluruh Indonesia. Karena bagi saya, Super Teacher bukan gelar, tapi amanah agar pola baik ini menyebar, bukan berhenti di satu sekolah,” pungkasnya.
Solekah adalah salah satu dari Top 24 DBL Super Teacher yang akan menjalankan bootcamp 18-21 November 2026 di Jakarta. Mari terus dukung perjuangan bu Solekah dalam mendampingi bakat dan membentuk karakter masa depan generasi muda Indonesia.
Baca Juga: DBL Super Teacher: Rusneni Husen, Hidupkan Talenta Bahasa Indonesia di Halmahera
DBL Super Teacher adalah program pelatihan, pengembangan kapasitas, dan apresiasi bagi guru pendamping yang digagas oleh DBL Indonesia bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).
Program ini ditujukan bagi tenaga pendidik yang berdedikasi tinggi dan meyakini bahwa proses belajar tidak hanya berhenti di dalam ruang kelas. Guru-guru terpilih juga akan mendapatkan kesempatan mengikuti pelatihan hingga belajar (short course) ke luar negeri.
Program yang didukung Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) ini gratis dan terbuka bagi seluruh guru di Indonesia. (*)