“Sampai akhirnya tahun lalu, saya ngomong ke sekolah mau sampai kapan kayak gini. Kalau mau ikut DBL lagi, saya akan handle basket dan build lagi timnya.”
Tekad tersebut datang langsung dari coach Azman. Sebagai alumnus yang juga sudah lama aktif di dunia basket, ia merasa punya tanggung jawab untuk kembali menghidupkan nama SMA Cendana di persaingan DBL Riau.
Setelah memperoleh lampu hijau dari pihak sekolah, coach Azman mulai menjalin komunikasi dengan para pemain kelas XII. Tak bisa dipungkiri, keinginan untuk bisa melantai di DBL Riau sebenarnya masih tersimpan dalam diri mereka. Meski, sejatinya belum tahu pasti apakah kesempatan itu benar-benar akan datang di tahun terakhir sebagai siswa SMA.
“Anak kelas XII pada risau. Akhirnya, saya ketemu sama mereka dan pihak sekolah. Anak kelas XII yang main basket itu cuma tiga orang. Kalau cuma segitu, gimana mau main DBL? Akhirnya, kita tarik anak-anak kelas X. Enggak perlu bisa main basket, yang penting komitmen aja,” tutur coach Azman.
Baca Juga: Jejak Emas SMA Cendana Sebelum Tertidur Lebih dari Satu Dekade
Pelatih kelahiran 1984 tersebut semakin gerilya mengumpulkan pemain demi bisa merasakan euforia Honda DBL with Kopi Good Day 2025 Riau.
Sedari awal, coach Azman sudah memahami bahwa mencari pemain dengan kemampuan basket yang matang bukan perkara mudah. Karena itu, ia lebih memprioritaskan untuk merekrut siswa kelas X agar proses regenerasi tim basket SMA Cendana bisa terus berjalan dengan konsisten.
Selain itu, coach Azman juga menggaet pemain dengan postur tubuh tinggi supaya lebih cepat beradaptasi dengan pola permainan basket. Dari perjuangan tersebut, ia mengaku hanya bisa mengumpulkan enam pemain. Jumlah ini jelas belum memadai. Mereka masih membutuhkan empat pemain untuk melengkapi roster.
“Awalnya, cuma kekumpul enam orang. Itu pun mereka hanya bisa basket, bukan jago. Setelah kita cari-cari lagi, akhirnya ketemu empat orang lainnya. Satu dari mereka itu awalnya anak band yang kita ajak karena badannya tinggi,” cerita coach Azman.
Ia kemudian menambahkan. “Saya selalu iming-imingi kalau kita mau main di DBL. Memang harus gitu ngomongnya biar mereka tertarik buat ikut.”
Potret tim SMA Cendana saat menjalani latih tanding pertama sebagai persiapan menuju DBL Riau 2025
Faktanya, membangun tim dari nol memang begitu menantang. Hal ini turut diakui oleh coach Azman. Sebagai pelatih yang sudah memiliki pengalaman panjang dan reputasi di dunia basket, ia bahkan harus menurunkan ekspektasi serendah mungkin.
“Pelatih pasti takut kalah, apalagi kalau nge-build tim kan pasti akan kalah dulu. Beberapa anak yang sebelumnya ikut basket juga ada yang cabut karena mereka mikirnya ngapain ikut DBL, pasti bakal kalah juga kok. Tapi, saya melihatnya bukan sebagai hal yang memalukan. Kita ngegas terus sampai akhirnya kemarin turun di DBL,” ungkapnya.
Baca Juga: Performer Sejati! Nathania Triana Callista Jago Main Musik dan Dance!
Mengumpulkan pemain hanyalah secuil dari panjangnya persiapan yang harus ditempuh pasukan SMA Cendana menjelang DBL Riau 2025. Berikutnya, coach Azman memiliki PR besar untuk menanamkan pentingnya konsistensi dalam diri setiap penggawa.
Selama enam bulan, mereka harus menjalani rangkaian latihan intens dengan tempo yang melelahkan. Selain melatih fundamental, para pemain SMA Cendana turut mengasah ketahanan fisik melalui sejumlah sesi latih tanding. Bahkan, mereka juga memperhatikan kelengkapan berkas administrasi, aspek yang selama ini kerap dianggap sepele oleh sebagian tim.
“Jadi, begitu DBL Riau buka pendaftaran, kitanya sudah siap,” tegas coach Azman.
Tibalah hari saat SMA Cendana menginjakkan kaki di DBL Riau 2025. Memasang target hanya untuk partisipasi, siapa sangka kalau tim asuhan coach Azman itu sukses menutup laga perdana dengan skor dramatis, 19-17, atas SMA Al Azhar Syifa Budhi Pekanbaru II.
“Allah baik juga. Kita bisa menang di pertandingan pertama. Dari situ, semuanya happy dan anak-anak semangat. Tight game itu selalu tentang siapa paling fokus defense sampai akhir. Saya pengin mereka belajar dari tight game kayak gitu,” kenang coach Azman.
Sayangnya, SMA Cendana harus angkat kaki setelah menghadapi SMKN 2 Pekanbaru dengan skor akhir 37-22. Di balik kekalahan itu, tak ada penyesalan sedikit pun dalam diri coach Azman bersama anak-anak didiknya. Justru, pengalaman ini menjadi pemantik semangat yang lebih besar untuk menyambut musim mendatang.
“Dua tahun pertama ini, saya lebih fokus bangun culture basket lagi. Saya sampai hire asisten pelatih dari akademi yang saya punya. Begitu culture-nya hidup, kita harusnya sudah mulai bisa masuk Big Eight,” terang coach Azman.
Kini, coach Azman sudah memiliki target panjang yang terpampang di depan mata. Lantas, bagaimana dirinya bisa merealisasikan mimpi besar tersebut? Obrolan dengan coach Azman masih akan berlanjut di bagian ketiga…
Profil sekolah ini bisa dilihat pada halaman di bawah ini (pengguna Android bisa lakukan scroll dengan double tap)