ESG

DBL ACADEMY

JR DBL

MAINBASKET

SAC

HAPPY
WEDNESDAY

DISWAY

MAINSEPEDA

Aksi Yad Hapizudin di Athletic West Track and Field State Championship 2023, yang diselenggarakan di Perth, Western Australia

22 tahun bukanlah waktu yang singkat bagi DBL Indonesia untuk konsisten merawat mimpi anak-anak muda di bidang olahraga. 

Membawa tema besar "Home of the Dreamers" pada perayaan ulang tahunnya kali ini, DBL Indonesia menegaskan posisinya bukan sekadar sebagai penyelenggara kompetisi, melainkan sebuah “rumah”, tempat impian-impian dari mimpi terdalam anak Nusantara dirajut dan diterbangkan tinggi.

Jika ada satu nama yang paling tepat untuk menggambarkan filosofi tersebut, ia adalah Yad Hapizudin. 

Seorang anak muda asal Desa Danger, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), yang kini namanya harum di panggung atletik internasional.

Sebelum namanya melesat seperti sekarang, Yad adalah potret seorang pemimpi yang tumbuh dalam keterbatasan akses. 

Alumnus MA Al Ijtihad Danger ini terbiasa menempa fisiknya secara mandiri dengan berlari mendaki kaki Gunung Rinjani, tepatnya di Desa Timbanuh. Jaraknya pun tak main-main, 40 kilometer dari rumahnya, dengan waktu tempuh dua jam perjalanan.

"Kalau kata pelatih, latihan di gunung memang perlu. Nyari oksigen yang tipis, biar kalau bertanding di tempat yang oksigennya tebal bisa langsung beradaptasi dengan mudah, kayak pelari-pelari Kenya gitu," kelakar Yad mengenang masa-masa perjuangannya.

Namun, latihan keras saja tidak cukup tanpa adanya panggung kompetisi. Di kompetisi lokal, Yad selalu berada di bawah bayang-bayang rival bebuyutannya, M. Iqra Syahputra. 

Bahkan saat bertanding di Porprov NTB 2023, ia harus puas berada di posisi runner-up untuk nomor 1.500 meter. 

Bahkan saat debut di SAC Indonesia 2022 Bali Nusra Qualifiers, Yad harus puas finis sebagai runner up di nomor 1.000meter putra.

Yad Hapizudin SAC Indonesia

Sosok Yad Hapizudin saat mengikuti SAC Indonesia National Championship 2022

Titik balik hidupnya terjadi ketika SAC Indonesia membawanya ke Jakarta untuk bertanding di babak National Championship 2022. 

Itu adalah kali pertama Yad merasakan atmosfer kompetisi level nasional. Di lintasan ibu kota inilah, mentalitas anak Rinjani ini berbicara. 

Yad membalikkan semua prediksi, merebut podium pertama dengan catatan waktu fantastis 2 menit 36,53 detik, sebuah rekor yang belum terpatahkan, bahkan hingga dua musim setelahnya.

Sebagai reward atas gelar champion, SAC Indonesia menerbangkan Yad ke Perth, Australia untuk mengikuti training camp dan bertanding di Athletics West Track and Field State Championship. 

Itulah momen pertama kalinya Yad menginjakkan kaki di luar negeri, sebuah mimpi yang awalnya terasa sangat jauh dari kaki Rinjani.

Yad saat berlatih di Western Australian University bersama dengan program SAC Goes to Australia setelah menjuarai SAC Indonesia National Championship yang dikelola DBL Indonesia

Panggung SAC Indonesia terbukti menjadi akselerator karier yang luar biasa bagi Yad. Sejak saat itu, namanya langsung masuk radar Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PB PASI). Jalan menuju mimpi berikutnya terbuka lebar.

Di tahun yang sama, Yad sukses mengawinkan medali di tingkat nasional dan membawa pulang Juara 1 nomor 1.500 meter dan Juara 3 nomor 400 meter di ajang Pospenas 2022. 

Memasuki tahun 2023, dominasinya di level pelajar semakin tak terbendung. Ia menyapu bersih podium satu di Kejurnas Solo U18 untuk nomor 1.500 meter, Popnas 2023 di nomor 1.500 meter.

Tak berhenti di sana, pada Juni 2024, Yad kembali mengibarkan bendera Merah Putih di podium tertinggi 13th ASEAN School Games (ASG) Vietnam, setelah mempertajam catatan waktunya jadi 4 menit 05,85 detik.

Rentetan prestasi impresif mengantarkannya masuk ke Pusat Pelatihan Atletik PB PASI di Pangalengan, Jawa Barat pada Desember 2024. 

Puncaknya, pada April 2025, dalam debutnya di level senior pada ajang Singapore Open Track and Field Championships, Yad meraih medali emas nomor 1.500 meter putra dengan catatan waktu 3 menit 53,99 detik, sekaligus memecahkan rekor nasional U20!

"Sesudah dari Australia, saya fokus mengejar limit untuk bisa bersaing di internasional. Dari ASG, saya mendapatkan medali emas, dan dari situ saya terlihat lalu dimasukkan ke Pelatnas. Pas di Pelatnas, saya fokus ke Singapore Open dan alhamdulillah bisa pecah rekor U20. Jujur, saya sangat bersyukur banget," ungkap Yad emosional.

Hebatnya, taji Yad di nomor spesialisnya ini terus berlanjut tanpa celah. Setelah Singapore Open 2025, ia kembali mengamankan medali emas nomor 1.500 meter U20 di Kejurnas Solo 2025. 

Menginjak level mahasiswa, Yad lagi-lagi menggila di ajang Pomnas Semarang 2025 dan memborong dua medali emas sekaligus untuk nomor 1.500 meter dan 5.000 meter. 

Prestasinya di tingkat regional ASEAN pun semakin kokoh setelah ia naik podium pertama di nomor 1.500 meter U20 dalam ajang The 17th SEA U18 & U20 Athletics Championships, disusul medali emas nomor 1.500 meter di ajang bergengsi Singapore Open 2026.

Bagi Yad, SAC Indonesia dan DBL bukan sekadar kompetisi, melainkan jembatan yang mengubah total garis hidupnya. 

Lewat SAC pula, ia mulai mendapatkan perhatian hingga sponsor dari brand olahraga untuk mendukung fasilitas latihannya.

"Tentunya saya sangat bersyukur karena dari lomba-lomba saya, terutama di event SAC yang bergengsi buat pelajar ini, sangat membantu menaikkan nama saya waktu itu. Semoga event SAC ada lagi, supaya anak-anak dari daerah seperti saya punya kesempatan ke luar negeri dan cari pengalaman," tambahnya.

Namun, program pelatihan nasional yang diikuti Yad sempat berhenti sementara. Menariknya, hal itu tidak memadamkan api semangat Yad. 

Bukti nyata ketahanannya terlihat saat Yad sukses keluar sebagai Juara 1 kategori 10K di Borobudur Marathon 2024, serta aktif melakoni race-race jarak jauh 5K dan 10K lainnya demi menjaga kondisi fisik.

"Betul, aslinya saya di 1.500 meter. Tapi dengan kondisi saat ini, saya fokus race ‘tarkam’ 5K dan 10K. Walaupun Pelatnas dibubarkan, saya tetap semangat latihan," tegas Yad.

Melihat kembali 22 tahun perjalanan DBL Indonesia yang merayakan statusnya sebagai "Home of the Dreamers", Yad tahu betul betapa berartinya sebuah wadah bagi anak daerah. 

Ketika ditanya apa jadinya seorang Yad Hapizudin jika kompetisi SAC Indonesia tidak pernah ada di tahun 2022, ia terdiam sejenak.

"Mungkin saya tidak tahu gimana nasib saya sekarang, karena SAC sangat membantu menaikkan nama saya," ucapnya.

Dari seorang anak sekolah di Lombok Timur yang hanya bisa memandang puncak Rinjani, kini Yad telah berubah jadi atlet andalan Indonesia yang menaklukkan Australia, Thailand, Vietnam, hingga Singapura.

Menutup perbincangan, Yad menitipkan sebuah pesan bagi para atlet muda yang sedang berjuang untuk mengukir mimpinya..

"Buat adik-adik, tetap semangat latihan dan jangan pernah mengeluh. Karena keluhan itu akan menjadi tantangan terberat kalian. Kalau kamu bisa melawan rasa malas dan keluhan itu, insya Allah kamu akan berhasil."

Yad Hapizudin adalah bukti nyata. Bahwa di dalam "Rumah Para Pemimpi", tidak ada impian yang terlalu besar untuk diwujudkan, bahkan bagi mereka yang memulainya dari daerah terpencil sekalipun. 

Selamat ulang tahun ke-22, DBL Indonesia! Tetaplah menjadi rumah yang menerbangkan jutaan mimpi anak muda Indonesia. (*)

Comments (0)
PRESENTED BY
OFFICIAL SUPPLIERS
SUPPORTING PARTNERS