“Kangen sih sama atmosfernya DBL Arena waktu tanding di DBL,” kata Iola Esmeralda, pacer Surabaya Green Force Run 2026 kategori 5K.

Siapa yang menyangka perjalanan berlari Iola Esmeralda membawaya kembali ke ekosistem DBL Indonesia. Surabaya Green Force Run 2026 merupakan ajang lari yang diselenggarakan oleh DBL Indonesia dan bekerja sama dengan Persebaya untuk merayakan hari jadi Surabaya dan Persebaya. 

“Ini pertama kalinya dikasih kepercayaan untuk lari bareng sama 6.000 pelari di Surabaya Green Force Run 2026. Pastinya sih happy banget,” ujar Iola.

Meski bukan kali pertama bertugas menjadi pacer, Iola percaya ada pengalaman magis yang ia dapat kala menuntun dan menjaga langkah para pelari.

Pacer itu bisa dibilang sebagai salah satu penjaga mental para pelari. Tugasnya itu mengingatkan pelari buat ngejaga hidrasi sama terus-terusan support kalau bisa menyelesaikan race,” ungkapnya.

“Oh iya, paling terpenting pacer itu membantu banyak teman-teman yang mau kejar pace atau personal best,” sambungnya.

Lalu bagaimana cerita awal mula perjalanan berlari Iola? Semua bermula dari kebiasaan berolahraga yang ia lakukan sejak masih SMP. Kebiasaan berlatih basket untuk terjun di Junior DBL dan main di DBL saat SMA.

Baca juga: Juara Bentang Jawa 2024 dan 2025, Yusuf Kibar Dulunya Anak DBL Yogya!

“Aku sendiri emang punya basic olahraga. Kebetulan papa juga guru olahraga. Jadi secara nggak langsung suka olahraga ini juga nurun ke anaknya,” ceritanya.

Kebetulan lagi, namanya selalu terpilih masuk dalam daftar tim basket sekolah untuk melantai di ajang DBL. Yup, menjadi pelajar-atlet DBL!

“Aku dulu itu sempat ikut Junior DBL bahkan sampai DBL. Waktu itu Papi sempat jadi pelatih lalu jadi manajer tim waktu di DBL,” kenangnya.

Iola Esmeralda merupakan alumnus SMA Petra 4 Sidoarjo yang pernah melantai di DBL Surabaya. Perjalanannya saat menjadi pelajar-atlet dalam kompetisi DBL pun sungguh membekas. Meski sudah lebih dari sepuluh tahun yang lalu, Iola -sapaan karibnya- masih ingat betul bagaimana suasana DBL Arena.

“Semua momen di DBL benar-benar nggak akan pernah terlupakan. Event paling bergengsi dan bikin bangga banget kalau bisa berpartisipasi,” ungkapnya.

Ada satu laga yang sampai sekarang masih diingat betul oleh Iola. Laga tersebut ketika sekolahnya gagal melangkah ke Sweet Sixteen. Bukan, bukan karena tidak menang. Melainkan tentang belum bisa memberikan kado manis untuk sang papa.

“Itu (suasana pertandingan) benar-benar bikin aku makin emosional. Soalnya hari pertandingan itu hari ulang tahun papa aku kan. Eh, malah gagal lolos,” ceritanya.

Iola juga menambahkan, “Selesai pertandingan berakhir menangis di pelukan manajer tim sekolah. Alias menangis di pelukan papa sendiri,” 

Meski masa-masa SMA-nya telah usai, Iola mengaku ingin bisa kembali merasakan melantai di ajang DBL. Mengisi kembali memori-memori masa SMA dengan kegiatan berlatih mempersiapkan DBL dan bertanding di DBL Arena.

Baca juga: 22 Tahun DBL: Elang Dewanto dan Masa Depannya di Liga Basket Pro

“Kalau aku dikasih kesempatan buat balik lagi ke SMA, sudah pasti aku mau main DBL lagi. Jelas seribu persen pengin banget-banget buat main lagi,” ucapnya. Sayang, ketika ditanya soal dokumentasi kala melantai di DBL Arena, Iola tak berhasil menemukan satu foto pun. "Sedih banget, aku sudah cari-cari nggak ketemu. Padahal sempat masuk koran waktu dipeluk papa setelah laga do or die di Sweet Sixteen," kenangnya.

Oh iya, perjalanan lari Iola sendiri bermula dari kebingungannya mengisi waktu luang kala merantau.

“Kebetulan tempat tinggal aku waktu lagi merantau itu dekat banget sama stadion yang punya trek lari. Akhirnya memutuskan buat tiap pagi jalan dan lari. Meski gear waktu itu masih seadanya. Eh, justru keterusan sampai sekarang,” ceritanya.

Tugasnya sebagai di Green Force Run 2026 pun terbilang mulus. Iola berhasil membantu dan menemani ratusan pelari yang ingin finis dengan catatan waktu terbaik.

Baca juga: Nicholas Evan, Alumnus DBL yang Bersinar di Clash of Champions Ruang Guru!

“Lari itu salah satu bentuk mencintai diri sendiri. Happy banget ngelihat orang-orang mulai peduli sama kesehatan. Karena kan lari itu olahraga yang simpel. Nggak perlu lari kencang, nggak perlu gimana-gimana,” terangnya.

Iola senang ketika berhasil menemani para pelari kategori 5K yang berhasil finis dengan catatan waktu 40 menit.

“Selama mereka memutuskan buat gerak dan berolahraga aja sudah keren,” tandas cewek yang kini menjadi manajer di salah satu perusahaan coffee shop yang ada di Indonesia. Sejauh apa Iola melangkah, ia selalu punya pintu untuk kembali pulang ke rumah. Rumah yang menjadi tempatnya menyimpan kenangan-kenangan masa putih abu-abu. Sukses terus, Kak Iola. Main-main ke DBL Arena ya!

Foto: Dokumentasi Surabaya Green Force Run 2026

Populer

22 Tahun DBL: Elang Dewanto dan Masa Depannya di Liga Basket Pro
Viknes Waren, dari Lapangan Basket Hingga Catwalk Milan Fashion Week
TC Dimulai! Skuad DBL All-Star 2026 Asah Fisik dan Taktik di Hari Pertama
Viknes Waren: Alumnus DBL yang Raih Mimpi di Pesisir Laut Mediterania!
Menang Besar di Scrimmage Game, Tim Putri DBL All-Star Enggan Merasa Puas