“Saya diberikan bakat dance sama Tuhan Yesus dari kecil. Dan sampai sekarang, saya masih bisa melakukannya.”
Bagi Aldy Frilenzo, dance bukanlah sekadar “alat” untuk berekspresi di atas panggung. Lebih dari itu, ia percaya kemampuan menari yang dimilikinya merupakan anugerah yang sudah Tuhan titipkan sejak kecil.
“Saya merasa dance adalah seni yang enggak akan pernah habis buat menghasilkan karya” sambungnya.
Lebih dari satu dekade, dance menjadi bagian yang tak bisa dipisahkan dari perjalanan hidup Aldy (sapaan karibnya). Dari seorang dancer yang pernah merasakan persaingan DBL Dance Competition, kini ia kembali datang dengan peran baru sebagai pelatih.
Jika melihat ke belakang, Aldy memang pernah berdiri di antara barisan dancer SMA Santa Agnes Surabaya saat DBL Dance Competition 2015 dan 2016.
Baca Juga: 22 Tahun DBL: Elang Dewanto dan Masa Depannya di Liga Basket Pro
Di musim pertama, ia berhasil membawa pulang gelar Third Place. Sayang, pencapaian ini belum bisa terulang di musim berikutnya sebab mereka harus puas di posisi Top 10.

Penampilan Aldy Frilenzo bersama tim dance SMA Santa Agnes Surabaya di DBL Dance Competition 2015 (Dok. Pribadi)
Kendati demikian, hal tersebut sama sekali tidak menahan Aldy untuk terus bergerak maju. Rasa penasarannya terhadap dunia dance kian membesar. Setelah melepas status sebagai siswa SMA, ia pun memperoleh kesempatan untuk mencicipi peran sebagai pelatih.
“Sebenarnya, saya sempat menjadi asisten pelatih terlebih dulu waktu masih SMA, tepatnya 2014 karena diajak pelatih klub dance saya. Baru di 2017, saya mulai mengajar untuk DBL Dance Competition di SMAN 9 Surabaya dan SMAN 3 Surabaya,” ceritanya.
Bisa dibilang, “panggilan” untuk meniti karier sebagai pelatih bukan hanya tumbuh semata-mata dari dirinya sendiri. Di balik itu, ia pun menyadari semakin banyak generasi muda yang mulai melirik dan menaruh antusiasme pada bidang tari.
Namun, jelas bukan hal mudah bagi seseorang yang baru saja menapakkan kaki di dunia kepelatihan. Jarak usia yang tidak terpaut jauh dengan para anak didiknya justru menghadirkan tantangan tersendiri bagi Aldy.
Situasi tersebut menuntutnya untuk tidak hanya piawai melatih, tetapi juga mampu menjadi sosok yang disegani agar setiap arahan yang diberikan bisa diterima dan dijalankan dengan baik oleh para anggota tim.
Belum lagi, Aldy juga harus terus beradaptasi dengan formasi tim yang silih berganti di tiap musim.
“Sayangnya, kadang anak-anak sudah stop ikutan DBL di tahun berikutnya. Jadi, saya harus kembali dari nol untuk nge-push murid-murid baru dengan waktu yang singkat. Kalau mengajar pun, tidak semuanya bisa dance atau punya basic yang bagus. Jadi, saya memang harus nge-push mereka untuk ajang DBL ini karena harus kasih yang terbaik,” terangnya.
Bagi Aldy, di situlah letak seni menjadi seorang pelatih. Membangun kepercayaan, memahami karakter, hingga menyatukan visi dengan para anak asuhnya.
Dari situlah, namanya perlahan semakin diperhitungkan di kalangan dancer pelajar. Puncaknya, ia pernah memimpin enam tim dance secara bersamaan pada 2023, tepatnya terdiri dari SMAN 1 Surabaya, SMAN 3 Surabaya, SMAN 5 Surabaya, SMAN 16 Surabaya, SMA St Louis 1 Surabaya, serta SMPN 6 Surabaya.
“Awalnya, masih empat sekolah di tahun 2019 sampai 2022. Tapi di tahun 2023, mulai mengajar enam sekolah dengan tujuh tim buat DBL Dance Competition. Kaget juga dengan jadwalnya, dari jam tujuh pagi sampai delapan malam harus mengajar, lalu ke tukang properti, lanjut jam 12 malam mengedit lagu. Begitu setiap harinya, bahkan sempat bikin sakit asam lambung karena makan dan tidur tidak teratur,” ungkapnya.

Potret Aldy Frilenzo bersama tim dance SMAN 16 Surabaya (kiri) dan SMA St Louis 1 Surabaya (kanan) (Dok. Pribadi)
Selain berhadapan dengan jadwal yang begitu padat, Aldy juga harus memastikan setiap tim memiliki konsep dan karakter yang berbeda, sekaligus mengikuti perkembangan regulasi DBL Dance Competition di setiap tahunnya.
“Dulu yang saya lihat adalah penggunaan properti yang sedikit. Tapi, akhir-akhir ini tiap tim lebih menunjukkan propertinya. Namun di tahun 2025, sudah mulai balik menonjolkan dance lagi, apalagi di tahun ini juga crew tidak boleh ada di lapangan. Serasa balik di tahun saya dulu ikut DBL,” tuturnya.
Benar sekali, AQUA DBL Dance 2026-2027 telah menetapkan peraturan baru bahwa supporting crew tidak lagi diperbolehkan berada di lapangan selama penampilan berlangsung.
Selain itu, ada pula perubahan dalam komposisi penilaian yang lebih menekankan pada koreografi, sinkronisasi, dan aksi panggung.
Baca Juga: Ibunda Viknes Waren: DBL dan Basket Membentuk Mentalnya Sejak Remaja
Hingga saat ini, Aldy tak mengelak kalau tawaran menjadi pelatih masih terus berdatangan. Namun, dirinya secara terpaksa harus menolak tawaran tersebut setelah mempertimbangkan kapasitas yang dimilikinya.
“Saya sendiri yang harus mengerjakan semuanya, jadi saya harus stop buat menerima sekolah. Saat ini, saya sudah fokus untuk melatih SMA St. Louis 1 Surabaya, SMAN 5 Surabaya, SMAN 16 Surabaya, dan SMPN 6 Surabaya,” jelas Aldy.
“Apalagi, pressure-nya juga pasti ada setiap tahun. Saya selalu bertanya pada diri sendiri apakah bisa membawa mereka stay, lebih maju dari Top 10, atau malah gagal membuat mereka dapat gelar tersebut,” sambungnya.
Menyambut musim baru yang sudah dekat, Aldy percaya kalau persaingan di antara partisipan pun bakal semakin ketat. Namun, ia menilai situasi ini juga menjadi sinyal baik bahwa dunia dance semakin digemari oleh kalangan pelajar.
“Sejauh ini, mungkin banyak kompetisi serupa seperti DBL Dance Competition. Tapi, tetap vibes-nya tidak semeriah dan sekeren DBL,” ujarnya.
AQUA DBL Dance 2026-2027 pun bertepatan dengan perayaan 22 tahun kompetisi DBL digelar. Aldy menaruh harapan agar DBL Indonesia bisa terus menjadi inspirasi sekaligus konsisten dalam memberi wadah bagi generasi muda untuk menyalurkan bakat, baik di bidang dance maupun basket.