Perjalanan memupuk mimpi tentu berat bagi siapa saja. Termasuk Raditya Ibrahim.
Radit, sapaan akrabnya, merupakan putra asli Kediri. Ia pertama kali mengenal basket ketika duduk di kelas VI SD. Menariknya, saat itu basket bukan olahraga yang sejak awal ia pilih. Radit justru lebih dulu meminta untuk mengikuti sekolah sepak bola (SSB) dan futsal.
Ketertarikannya pada basket baru muncul setelah sekolah dasar tempatnya belajar memilih Radit menjadi tim yang tampil di Wali Kota Cup Kediri. Kesempatan tersebut menjadi pengalaman penting. Radit dan timnya berhasil menyabet podium kedua.
Sejak saat itu, basket perlahan berubah dari sekadar pengalaman menjadi olahraga yang benar-benar ia sukai.
Ketika memasuki SMP, Radit mulai menekuni basket dengan lebih serius melalui klub. Namun, perjalanan tersebut tidak selalu mulus. Ada satu fase yang membuatnya sempat kehilangan kepercayaan diri. Bahkan hampir menyerah terhadap basket.
Sang ibu, Whening Hapsari, sedang bekerja di Kalimantan. Sementara Radit tinggal bersama sang nenek. Jarak membuat Bu Whening tidak bisa selalu berada di samping Radit. Termasuk ketika anaknya berada dalam kondisi terpuruk. Ia hanya bisa memberikan semangat dari jauh.
Baca juga: Tiga Bingkai, Satu Perjuangan Casual Sleekors
Radit kemudian menyampaikan satu keinginan kepada ibunya. Ia ingin kembali bermain basket jika sang ibu pulang ke Jawa.
Namun, Bu Whening tidak ingin menunggu keadaan berubah begitu saja. Ia mulai mencari alternatif agar Radit tetap bisa berlatih dan menemukan kembali semangatnya meski dirinya masih harus bekerja di Kalimantan.
Dari situlah, tepat pada 2024 saat Radit masih SMP, muncul keputusan untuk mengenalkan Radit kepada DBL Academy.
“Saya ingin dia coba dulu. Mungkin memang bukan tempatnya di Kediri. Tapi kamu bisa kalau di Surabaya. Kamu harus bisa bersaing,” pesan Bu Whening kepada Radit.
Keputusan tersebut membuat rutinitas Radit berubah. Setiap Sabtu, ia berangkat seorang diri dari Kediri menuju Surabaya menggunakan kereta api untuk berlatih di DBL Academy. Setelah latihan selesai, ia kembali ke Kediri pada Minggu untuk menjalani aktivitas seperti biasa.
Baca juga: Nyi Roro Kidul ala FAVE, Aphyra Usung Generasi Emas di AQUA DBL Dance
Bagi keluarga Radit, perjalanan tersebut bukan sekadar soal menempuh jarak antarkota. Ada harapan agar basket kembali menjadi ruang bagi Radit untuk berkembang setelah sebelumnya ia sempat merasa tidak memiliki kesempatan.
Bu Whening sendiri tidak dapat mendampingi langsung. Pekerjaannya membuat ia tetap harus berada di Kalimantan. Karena itu, sebagian besar dukungan kepada Radit diberikan dari jauh, melalui telepon dan pesan.
“Saya tidak minta Radit jadi yang paling hebat. Saya cuma minta Radit jadi anak yang saleh, rendah hati, pantang menyerah, terus berproses,” ujar Bu Whening.
Menurut Bu Whening, salah satu alasan ia merasa DBL Academy menjadi tempat yang tepat bagi Radit adalah sistem pembelajarannya. Tidak hanya kemampuan fundamental basket, Radit juga mendapatkan ruang untuk belajar dan mengembangkan berbagai aspek permainan.

Momen kebersamaan Raditya (kiri) dan sang ibu (Whening Hapsari) saat Radit menjuarai kompetisi di SMP (Foto: dokumentasi pribadi Whening Hapsari)
Perlahan, kesempatan mulai datang.
Radit bahkan pernah mendapatkan giveaway dari LPDUK Kemenpora RI untuk mengikuti coaching clinic bersama Phil Handy di Jakarta. Pengalaman tersebut menjadi salah satu kesempatan yang semakin membuka pandangannya terhadap dunia basket.
Namun, kejutan terbesar datang tidak lama setelah Radit bergabung dengan DBL Academy. Ia terpilih dalam seleksi yang membawa tiga pemain untuk mengikuti program ke Shanghai, Tiongkok.
Bagi Radit dan keluarganya, kesempatan tersebut terasa seperti sesuatu yang sebelumnya sulit dibayangkan.
“Bergabung bersama DBL Academy. Berawal dari sini, bagi kami orang biasa seperti mimpi anak kami bisa terpilih ke Shanghai, ke luar negeri lainnya. Satu per satu jalan dibuka sama Tuhan,” kata Bu Whening.
Perjalanan internasional Radit tidak berhenti di Shanghai. Ia kembali mendapat kesempatan untuk berangkat ke Seoul, Korea Selatan. Dua pengalaman tersebut menjadi bagian yang tidak pernah dibayangkan oleh keluarganya ketika Radit masih berjuang mencari kembali kepercayaan dirinya di Kediri.
Bagi Bu Whening, pencapaian tersebut terasa semakin berarti karena ia mengetahui betul bagaimana perjalanan anaknya dimulai.
Ia mengaku hanya seorang sales yang bekerja di Kalimantan. Tidak memiliki banyak koneksi atau fasilitas khusus untuk membuka jalan bagi Radit. Yang bisa dilakukan hanyalah berusaha memenuhi kebutuhan anaknya dan memberikan dukungan dari jauh.
“Saya mungkin tidak punya banyak hal. Tapi apa pun untuk mendukung Radit akan saya usahakan bagaimanapun caranya,” tuturnya.
Bu Whening juga menyadari bahwa Radit bukanlah pemain yang sejak awal dianggap paling menonjol. Ia pernah diremehkan karena kemampuan basketnya belum sebaik pemain lain.
Namun, kondisi tersebut justru menjadi alasan bagi sang ibu untuk terus mengingatkan Radit agar tidak menjadikan orang lain sebagai ukuran utama.
Menurutnya, setiap anak memiliki perjalanan masing-masing. Ada yang memiliki dukungan finansial lebih besar, ada yang memiliki koneksi lebih luas. Sementara Radit dan keluarganya memilih mengandalkan doa serta usaha.
“Kami hanya punya doa dan usaha. Kita tidak berlomba dengan orang lain, tapi jadilah lebih baik dari dirimu kemarin,” tegas Bu Whening.
Kalimat tersebut menjadi pegangan dalam perjalanan Radit. Ia belajar bahwa perkembangan tidak selalu datang dalam bentuk lompatan besar. Ada kalanya kemajuan dibangun dari perjalanan kecil yang dilakukan berulang kali.
Termasuk perjalanan dengan kereta api dari Kediri menuju Surabaya setiap akhir pekan.
Baca juga: Dari Tribun ke Lapangan, Mimpi Aviel Main di DBL East Java-North Terwujud
Dari rutinitas itulah Radit mulai menemukan kembali rasa percaya dirinya. Ia juga semakin menikmati proses latihan di DBL Academy. Dari sana, Radit berminat bersekolah di Surabaya. Bergabung dengan SMA VITA Surabaya. Saat ini ia duduk di kelas X.
Karena bersekolah di Surabaya, Radit harus LDR dengan keluarganya di Kediri. Ia nge-kost di daerah Sukolilo Keputih. Dekat dnegan SMA VITA Surabaya. Sehingga bisa ditempuh jalan kaki.
Radit bahkan mulai memiliki mimpi yang lebih besar. Setelah pernah merasakan latihan dan pengalaman basket di luar negeri, Radit ingin menjadi Bagian DBL Indonesia All-Star.
Tidak berhenti di sana, ia juga menyimpan harapan untuk mendapatkan beasiswa kuliah ke luar negeri melalui basket.
Kesempatan tampil di DBL East Java-North pun menjadi pencapaian lain dalam perjalanan panjang tersebut.
Pada laga terbarunya, VITA berhasil mengalahkan SMA Kemala Bhayangkari 1 Surabaya dengan skor 30-20. Radit turut memberikan kontribusi dengan mencatatkan 6 poin dan 4 rebound.
Bagi Radit, bermain di DBL bukan sekadar tentang pertandingan. Ada perjalanan panjang yang membuatnya akhirnya bisa berada di DBL Arena.
“Dulu nggak kebayang. Nggak nyangka akhirnya bisa main di DBL. Waktu pindah dari Kediri, aku sempat takut dikucilkan dan nggak bisa main. Tapi ternyata sampai di sini masih bisa improve dan akhirnya bisa main di DBL,” ungkapnya.
Bagi Bu Whening, rangkaian perjalanan tersebut menjadi bukti bahwa kegagalan mendapatkan kesempatan di satu tempat bukan berarti perjalanan harus berhenti.
“Dari yang sebelumnya belum rezekinya di Kediri, sekarang Allah kasih kesempatan lebih besar lagi. Proses nggak pernah bohong,” ujarnya.
Kini, Radit masih berada di tengah perjalanan. Ia belum mencapai semua target yang diimpikannya. Masih ada keinginan untuk terus berkembang, menjadi bagian dari DBL Indonesia All-Star, hingga mendapatkan kesempatan melanjutkan pendidikan ke luar negeri melalui basket.
Namun, satu hal sudah berubah. Anak yang sempat down dan hampir putus asa itu kini telah menemukan jalannya kembali.
“Saya bangga dia ke mana-mana sendiri, doa mama menyertai,” tutur Bu Whening.
Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 siap mengguncang 31 kota di 22 provinsi se-Indonesia. Seperti musim sebelumnya, DBL Indonesia akan menjaring para student-athlete terbaik dari setiap kota untuk memperebutkan tiket DBL Indonesia All-Star melalui program DBL Camp.
Tak kalah seru, Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 juga menghadirkan AZA 3X3 Competition serta AQUA DBL Dance 2026-2027 dengan mengusung tema “100% Indonesia”. Seluruh keseruan pertandingan bisa disaksikan secara langsung di kanal YouTube DBL Play, serta di YouTube Good Day ID khusus untuk laga final. (*)
Profil pemain ini bisa dilihat pada halaman di bawah ini (pengguna Android bisa melakukan scroll dengan double tap)