Tulisan Layaknya Sang Baja terbentang di tengah tribun. Di belakangnya, visual pegunungan mengisi sisi koreografi, sementara sosok Leon of Sparta berdiri sebagai karakter utama. Seluruh elemen itu dibawa Spartans untuk mengawal Putra Smansapa saat menghadapi SMAN 1 Gedangan di DBL Arena Surabaya, Jumat, 14 Agustus 2026.
Pada game kedua Honda DBL with Kopi Good Day 2026 East Java-North, Spartans tidak hanya mengandalkan suara untuk menyemangati tim. Mereka membawa sebuah koreografi yang memadukan identitas daerah, karakter Spartan, dan pesan tentang kekuatan.
Bagi Spartans, konsep tersebut ingin menggambarkan karakter yang kuat dan tangguh. Makna itu kemudian dituangkan melalui tulisan Layaknya Sang Baja yang menjadi salah satu bagian utama koreografi.
“Maksudnya kita bawa konsep Spartan, itu melambangkan kita kuat seperti baja,” ujar Muhammad Dwi Prasetyo, capo Spartans.
Baca juga: Nineteen Mania Angkat "Hiragana" Lewat Koreo, Selipkan Pesan Pantang Menyerah
Konsep tersebut tidak berdiri sendiri. Bagian belakang koreografi menampilkan visual pegunungan yang memiliki kaitan dengan tempat asal mereka.
“Background seperti pegunungan melambangkan kita hidup di daerah selatan,” jelas Prasetyo.
SMAN 1 Pacet berada di bagian selatan Kabupaten Mojokerto, kawasan yang dikenal dengan lanskap pegunungan. Karena itu, pegunungan menjadi pilihan yang terasa dekat dengan identitas daerah mereka.
Di bagian depan koreografi, sosok Leon of Sparta menjadi karakter utama. Figur tersebut mempertegas identitas Spartans sekaligus membawa gambaran seorang prajurit yang dikenal dengan keberanian dan ketangguhannya.
Jika baja menjadi simbol kekuatan, pegunungan membawa identitas Pacet, maka Leon of Sparta menjadi representasi karakter Spartan yang ingin mereka tampilkan di tribun.
Ketiga elemen tersebut kemudian bertemu dalam satu pesan untuk Putra Smansapa.
“Bermainlah kuat seperti baja,” pesan Prasetyo.
Pesan tersebut menjadi inti dari koreografi Spartans. Mereka ingin para pemain tidak mudah goyah ketika menghadapi pertandingan dan terus berjuang membawa nama SMAN 1 Pacet.
Baca juga: Escanor Jadi Simbol Kebangkitan Vamos Bananas di Tribun DBL East Java-North
Untuk menghadirkan visual tersebut, Spartans memanfaatkan lapangan basket sekolah sebagai tempat pengerjaan. Persiapannya berlangsung sekitar satu minggu.
Waktu yang singkat itu tidak dikerjakan oleh satu atau dua orang saja. Seluruh anggota tim koreografi ikut mengambil bagian dalam proses pembuatannya.
“Semua anak koreo ikut partisipasi,” ujar Prasetyo.
Selain koreografi utama, Spartans juga membawa sejumlah properti untuk menghidupkan tribun. Perkusi, giant flag, mini flag, hingga tali untuk koreografi menjadi bagian dari perlengkapan yang mereka siapkan.

Spartans memenuhi tribun untuk mendukung Putra Smansapa di DBL Arena Surabaya.
Kekompakan kemudian dibangun melalui latihan. Spartans memiliki chant class yang dilakukan secara rutin agar gerakan dan suara di tribun dapat berjalan bersama.
Latihan khusus chant class dilakukan pada Selasa dan Rabu. Mereka juga menggelar latihan bersama menjelang pertandingan agar seluruh anggota semakin siap ketika berada di tribun.
Kebersamaan Spartans bahkan terlihat dari perjalanan mereka menuju arena. Sekitar delapan bus membawa suporter, termasuk guru, untuk memberikan dukungan langsung kepada Putra Smansapa.
Baca juga: Lewat Koreo 3D, IPIEMS MANIA Usung Misi Kejayaan
Jumlah tersebut menunjukkan bahwa koreografi bukan hanya pekerjaan kelompok kecil. Ada banyak orang yang ikut menjadi bagian dari dukungan di tribun.
Empat kuarter kemudian, perjuangan Putra Smansapa berbuah kemenangan. SMAN 1 Pacet Mojokerto menutup laga dengan skor 28-14 atas SMAN 1 Gedangan.
Dari tribun, Spartans ikut merayakan hasil tersebut. Namun, bagi mereka, satu kemenangan belum menjadi akhir dari perjalanan. Pesan untuk Putra Smansapa tetap sama terus berjuang membawa nama sekolah.
“Terus berjuang untuk lambang kalian di dada, untuk sekolah kalian juga,” tutur Prasetyo.
Rakha Prasetya, capo Spartans lainnya, turut berharap perjalanan Putra Smansapa terus berkembang.
“Semoga basketnya semakin tambah maju, makin bisa membuat bangga nama sekolah,” ujarnya.
Namun, perjalanan Spartans di tribun belum berhenti pada koreografi kali ini. Mereka sudah menyiapkan sesuatu untuk pertandingan berikutnya.
“Pasti ada,” jawab Rakha ketika ditanya mengenai gebrakan selanjutnya.
Bukan sekadar mengulang konsep yang sama, Spartans ingin membawa sesuatu yang lebih besar.
“Lebih bagus lagi,” lanjutnya.
Baca juga: T-One Mania Suarakan Eksistensi Lewat Koreo “Lihatlah Kami Hari Ini”
Layaknya sang baja, mereka ingin terus menjaga kekuatan itu. Pegunungan menjadi gambaran tanah asal mereka, sementara Leon of Sparta menjadi wajah dari karakter yang ingin mereka bawa kuat, berani, dan tidak mudah menyerah.
Pada akhirnya, semua visual tersebut bermuara pada satu dukungan untuk Putra Smansapa. Bermain kuat seperti baja, berjuang untuk lambang di dada, dan terus membawa nama sekolah melangkah lebih jauh.
Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 siap mengguncang 31 kota di 22 provinsi se-Indonesia. Seperti musim sebelumnya, DBL Indonesia akan menjaring para student-athlete terbaik dari setiap kota untuk memperebutkan tiket DBL Indonesia All-Star melalui program DBL Camp.
Tak kalah seru, Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 juga menghadirkan AZA 3X3 Competition serta AQUA DBL Dance 2026-2027 dengan mengusung tema "100% Indonesia". Seluruh keseruan pertandingan bisa disaksikan secara langsung di kanal YouTube DBL Play, serta di YouTube Good Day ID khusus untuk laga final. (*)
Profil sekolah ini bisa dilihat pada halaman di bawah ini (pengguna Android bisa melakukan scroll dengan double tap).