Sosok Sawunggaling berdiri di antara riuh tribun DBL Arena Surabaya. Figur yang dikenal pula dengan nama Joko Berek itu tidak hadir melalui patung atau cerita di buku sejarah, melainkan lewat koreografi yang dibawa Thirteen Rangers, suporter SMAN 13 Surabaya.
Wayang menjadi pemanis di sekelilingnya. Ada pula visual Sawunggaling yang membawa ayam. Di bagian lain, sebuah kalimat turut melengkapi koreografi tersebut: “Tak Terhentikan oleh Batas.”
Bukan sekadar hiasan, setiap elemen itu punya cerita.
Baca juga: Seminggu Siapkan Koreo, LASKAR SWIPER Bawa Pesan Mencekam ke DBL Arena
Thirteen Rangers memilih Sawunggaling karena ingin membawa budaya lokal ke tengah atmosfer pertandingan. Kisah yang dekat dengan Surabaya tersebut mereka jadikan inspirasi untuk membangun identitas koreografi.
“Dengan tema Sawunggaling, kami mengambil itu karena banyak ceritanya. Meskipun dia dihina, tapi dia terus mencoba. Pokoknya enggak gampang menyerah,” ujar Tegar Maulana Akbar, bagian kreatif Thirteen Rangers.
Dari situlah mereka mengambil semangat yang ingin disampaikan melalui koreografi. Perjuangan Sawunggaling mereka maknai sebagai gambaran untuk terus melangkah meski menghadapi rintangan.
Achmad Habib Syaifudin atau Habib, kemudian memperjelas makna tersebut. Ia menyebut perjalanan Sawunggaling yang penuh rintangan menjadi alasan mereka menghubungkannya dengan perjuangan yang sedang dijalani Thirteen Rangers dan tim basket SMAN 13 Surabaya.
“Kalau ceritanya masih kurang tahu, kurang mendalami juga. Tapi untuk diuji dalam perjalanan perjuangan tokoh itu berarti karena dia dari kecil sering melewati rintangan-rintangan hidupnya untuk tokoh kota Surabaya juga,” tutur Habib.
Baca juga: Sasori Jadi Jalan Smamda Holic Menitipkan Harapan di DBL Arena
Semangat itu kemudian dirangkum dalam satu kalimat yang mereka tampilkan di tribun “Tak Terhentikan oleh Batas.”
Bagi Thirteen Rangers, kalimat tersebut menggambarkan sikap untuk tidak mudah menyerah. Semangat itu bukan hanya ditujukan kepada mereka yang berdiri di tribun, tetapi juga kepada tim basket SMAN 13 Surabaya yang sedang berjuang di lapangan.
Untuk menghadirkan seluruh konsep tersebut, Thirteen Rangers menghabiskan waktu sekitar sepuluh hari hingga dua pekan. Prosesnya tidak langsung dimulai dari membuat properti. Mereka terlebih dahulu menyusun ide dan mendiskusikannya bersama.
“Ide-ide bareng lah, Kak. Didiskusi bareng dengan tema bareng,” kata Tegar.
Setelah konsep disepakati, pekerjaan berlanjut ke sketsa. Bagian inilah yang justru menjadi salah satu proses paling panjang.
“Prosesnya yang paling lama itu menggambar, nge-sketch. Detail-detailnya kan agak dibilang oke lah,” lanjutnya.
Pengerjaan dilakukan bersama. Thirteen Rangers memiliki basecamp sendiri, sementara beberapa proses juga dikerjakan di sekitar sekolah. Dukungan dari pihak sekolah turut menjadi bagian dari perjalanan mereka menyiapkan koreografi.
Waktu sekitar dua pekan itu akhirnya menghasilkan satu kesatuan. Wayang, Sawunggaling, ayam, dan tulisan “Tak Terhentikan oleh Batas” tidak lagi berdiri sebagai properti terpisah.
Baca juga: Sixers Mania Bawa Reinkarnasi Sung Jin-Woo ke DBL Arena
Semuanya bertemu di tribun.
Bagi Thirteen Rangers, membawa budaya lokal ke pertandingan menjadi cara tersendiri untuk memperkenalkan cerita Surabaya. Mereka tidak hanya ingin membuat tribun terlihat ramai, tetapi juga menyisipkan identitas dalam setiap koreografi yang dibuat.

Thirteen Rangers, suporter SMAN 13 Surabaya, menunjukkan dukungan untuk tim basket dari tribun DBL Arena Surabaya.
Namun, ada satu hal lain yang membuat kalimat “Tak Terhentikan oleh Batas” terasa semakin berarti.
Sebagian anggota yang terlibat dalam koreografi ini kini berada di kelas XII. Waktu mereka di SMAN 13 Surabaya tidak lagi panjang. Setelah mereka lulus, giliran adik-adik kelas yang akan melanjutkan kehidupan Thirteen Rangers di tribun.
Habib percaya kreativitas itu tidak akan berhenti.
“Ya tetap lanjut. Masih ada adik-adik kita yang kreasinya berkreasi, tak terhentikan lah,” ujarnya.
Baca juga: Mussan1968 Kembali Ajak Spider-Man ke DBL Arena Surabaya!
Bagi mereka, regenerasi adalah bagian dari perjuangan. Koreografi boleh berganti. Suara capo bisa berpindah. Wajah-wajah di tribun pun akan berubah.
Tetapi semangat untuk terus mendukung SMAN 13 Surabaya diharapkan tetap sama.
Di sisi lain, dukungan Thirteen Rangers juga diarahkan kepada mereka yang berada di lapangan. Salah satunya Dafa Mahesa, pemain basket SMAN 13 Surabaya yang juga menjadi bagian dari perjuangan tim musim ini.
Avis Ibra Syakib, salah satu capo Thirteen Rangers, menitipkan pesan untuk Mahesa dan seluruh pemain.
“Untuk anak basket SMA 13, semangat untuk mencapai juara dan saya doakan untuk mencapai round 2 atau playoff. Dan untuk Daffa Mahesa saya apresiasi,” ujar Avis.
Pesan itu sederhana, tetapi menjadi alasan mengapa tribun dan lapangan terus berjalan beriringan.
Tim basket berjuang dengan permainan mereka. Thirteen Rangers berjuang lewat suara, koreografi, dan kreativitas.
Sementara di tengah tribun, Sawunggaling menjadi cerita yang mengikat semuanya.
Cerita tentang budaya lokal. Cerita tentang perjuangan. Dan cerita tentang generasi yang mungkin berganti, tetapi tidak ingin berhenti berkreasi.
Tak Terhentikan oleh Batas.
Baca juga: Ultras Stemda Spill Rumus di DBL Arena!
Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 siap mengguncang 31 kota di 22 provinsi se-Indonesia. Seperti musim sebelumnya, DBL Indonesia akan menjaring para student-athlete terbaik dari setiap kota untuk memperebutkan tiket DBL Indonesia All-Star melalui program DBL Camp.
Tak kalah seru, Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 juga menghadirkan AZA 3X3 Competition serta AQUA DBL Dance 2026-2027 dengan mengusung tema "100% Indonesia". Seluruh keseruan pertandingan bisa disaksikan secara langsung di kanal YouTube DBL Play, serta di YouTube Good Day ID khusus untuk laga final. (*)
Profil SMAN 13 Surabaya bisa dilihat pada halaman di bawah ini (pengguna Android bisa melakukan scroll dengan double tap).