ESG

DBL ACADEMY

JR DBL

MAINBASKET

SAC

HAPPY
WEDNESDAY

DISWAY

MAINSEPEDA

Santeria menghadirkan koreografi sebagai bentuk dukungan untuk tim basket SMA ITP Surabaya saat menghadapi SMA Progresif Bumi Sholawat di DBL Arena Surabaya, Kamis (20/8/2026).

Enam hari bukan waktu yang panjang untuk menyiapkan sebuah koreografi besar. Namun, bagi Santeria, waktu tersebut cukup untuk menerjemahkan satu lagu Oasis menjadi pesan dukungan untuk SMA ITP Surabaya saat menghadapi SMA Progresif Bumi Sholawat pada laga kedua Honda DBL with Kopi Good Day 2026 East Java-North di DBL Arena Surabaya, Kamis, 20 Agustus 2026.

Pada laga tersebut, ITP harus mengakui keunggulan SMA Progresif Bumi Sholawat dengan skor 13-30. Meski hasil pertandingan belum berpihak, warna dan gambar koreografi Santeria tetap menjadi bagian dari cara mereka mengawal perjuangan tim dari tribun.

Lagu Wonderwall milik Oasis dipilih sebagai dasar cerita yang mereka bawa. Potongan lirik tentang seseorang yang menjadi penyelamat sekaligus tempat bersandar diterjemahkan Santeria sebagai gambaran hubungan mereka dengan tim basket ITP.

Baca juga: 7 Tahun Menanti, Ultras Smada Lamongan Kembali ke DBL dengan “Satu Hati”

Bagi Santeria, sosok tersebut adalah tim basket ITP.

“Kalau kaulah mungkin yang menjadi penyelamatku atau tempat sandaranku. DBL itu kan mungkin menurut kita adalah event tertinggi dan itu bisa membuat besar dan bisa membuat nama kita naik,” jelas Novaliansyah Olbie Rezky Pradana atau Naufal, capo Santeria.

Karena itu, basket ITP ditempatkan sebagai bagian penting dari cerita mereka. Bukan hanya soal hasil pertandingan, tetapi juga kesempatan untuk memperkenalkan nama sekolah di panggung yang mereka anggap memiliki pamor besar.

“Jadi mungkin basket ITP inilah yang bisa menjadi penyelamat kita untuk menunjukkan nama sekolah kita. Menunjukkan eksistensi kita di event besar ini mungkin satu-satunya cara untuk menunjukkan eksistensi kita,” lanjut Naufal.

Cerita tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam sebuah koreografi. Nabil, bagian kreatif Santeria, bersama anggota lainnya mulai menyusun visual yang sesuai dengan pesan dari Wonderwall.

Prosesnya dimulai dari sketsa. Mereka membuat gambar menggunakan sistem grid sebelum visual tersebut dipindahkan ke bidang koreografi yang lebih besar.

“Pertama kita bikin sketsa dulu pakai grid. Itu mungkin sekitar dua hari untuk sketsa kasarnya,” tutur Yusril Muhammad Nabil atau Nabil, bagian kreatif Santeria.

Setelah sketsa selesai, tiga hari berikutnya digunakan untuk mengecat bagian utama. Berbagai elemen tambahan kemudian dilengkapi, termasuk potongan lirik Wonderwall yang ditempatkan di sisi visual utama.

Baca juga: Sawunggaling Hidup di Tribun, Semangat Thirteen Rangers Tak Terhentikan

Seluruh proses tersebut berlangsung hanya dalam waktu enam hari. Mereka pun mengerjakannya secara berpindah-pindah, dari sekolah hingga tempat lain yang memungkinkan digunakan untuk menyelesaikan koreografi.

“Semua ikut, dari awal sampai power scene. Prosesnya itu mungkin estimasinya cuma enam hari,” ujar Nabil.

Enam hari itu juga berarti waktu yang panjang bagi anggota Santeria untuk berkutat dengan cat, sketsa, hingga berbagai persiapan lain. Mereka bahkan harus membagi waktu antara aktivitas sebagai pelajar dan tanggung jawab menyiapkan tribun.

Ada pula cerita yang sempat membuat suasana pengerjaan berubah menjadi panik. Sekitar pukul 00.30, tiga kaleng cat tiba-tiba tidak ditemukan.

Malam itu, rasa lelah membuat mereka sempat berpikir macam-macam. Tiga kaleng cat yang dibutuhkan untuk pengerjaan koreografi mendadak seperti menghilang begitu saja.

“Kita pernah kehilangan tiga kaleng cat. Itu sekitar jam setengah satu malam,” kata Nabil.

Naufal pun ikut menceritakan bagaimana kepanikan kecil itu akhirnya berubah menjadi bahan tertawaan.

“Sudah dicari ke mana-mana. Kita kira ada yang nyembunyiin atau gimana,” ujar Naufal.

Setelah dicari lebih teliti, jawabannya ternyata jauh lebih sederhana. Anak-anak yang sudah mengantuk rupanya lupa meletakkan cat tersebut.

Bukan hilang. Bukan dicuri. Tiga kaleng cat itu ternyata terselip di atas rak, luput dari pandangan mereka yang sudah kelelahan setelah seharian mengerjakan koreografi.

Baca juga: Seminggu Siapkan Koreo, LASKAR SWIPER Bawa Pesan Mencekam ke DBL Arena

Cerita kecil tersebut menjadi bagian dari proses yang tidak terlihat ketika koreografi akhirnya berdiri di tribun. Di balik gambar besar yang tersusun rapi, ada waktu, tenaga, dan anggota Santeria yang sama-sama menyelesaikannya.

Keseriusan itu juga terlihat dari rutinitas mereka. Santeria tetap menggelar latihan suporter, termasuk latihan perkusi, sekitar dua kali dalam sepekan ketika pertandingan sudah semakin dekat.

Bagi mereka, atmosfer DBL memang berbeda dibandingkan event lain. Naufal menilai DBL bukan sekadar pertandingan basket, tetapi panggung besar bagi siswa untuk memperkenalkan sekolah sekaligus menunjukkan kreativitas suporternya.

Suporter Santeria memberikan dukungan dengan bernyanyi dan bersorak dari tribun saat mendukung tim basket SMA ITP Surabaya di DBL Arena Surabaya.

“Kalau di event luar kan cuma biasa. Kalau di DBL ini sudah lama, dari dulu. DBL juga lama sebelum kita masuk SMA sudah ada dari dulu. Jadi pamornya lebih tinggi,” jelas Naufal.

Menurutnya, keberadaan DBL membuat persaingan tidak hanya terjadi di lapangan. Tribun juga memiliki ruangnya sendiri untuk menunjukkan kreativitas dan identitas sekolah.

“Menurutku di DBL ini panggung terbesar anak SMA,” tambah Naufal.

Dari tribun, Santeria kemudian menjalankan bagian mereka. Koreografi dibentangkan, perkusi dimainkan, dan suara dukungan terus diarahkan kepada para pemain ITP.

Baca juga: Sasori Jadi Jalan Smamda Holic Menitipkan Harapan di DBL Arena

Bagi Santeria, waktu dan tenaga yang mereka keluarkan untuk menyiapkan koreografi merupakan bentuk perjuangan yang berjalan beriringan dengan perjuangan para pemain di lapangan.

“Saya rela lembur satu harian penuh buat ngerjain koreo, buat mendukung penuh lah untuk tim basket kita,” kata Nabil.

Kini, satu pertandingan terakhir masih menunggu ITP. Santeria berharap para pemain dapat memberikan penampilan terbaik dan menunjukkan perjuangan yang sama hingga pertandingan berakhir.

“Setidaknya match terakhir kalian harus bisa. Kita sudah mati-matian berjuang demi kalian. Enggak kalian aja yang berjuang, kita juga berjuang. Kita pasti habis waktu, materi, dan yang lain-lainnya,” ujar Nabil.

Bagi Santeria, pesan tersebut bukan sekadar tuntutan untuk menang. Mereka ingin perjuangan dari lapangan dan tribun tetap berjalan bersama sampai kesempatan terakhir ITP di DBL tahun ini.

Santeria pun masih akan berada di tribun untuk mengawal pertandingan terakhir tersebut. Koreografi, suara perkusi, dan dukungan mereka akan kembali menjadi cara untuk menunjukkan bahwa tim tidak berjuang sendirian.

Baca juga: Sixers Mania Bawa Reinkarnasi Sung Jin-Woo ke DBL Arena

Bagi Santeria, Wonderwall bukan sekadar lagu yang menghiasi koreografi. Lagu itu menjadi cara mereka menggambarkan harapan kepada tim basket ITP sebagai penyelamat nama sekolah sekaligus tempat bersandar ketika perjuangan di panggung DBL terus berlanjut.

Dan ketika satu pertandingan terakhir masih menunggu, Santeria pun belum selesai bernyanyi.

Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 siap mengguncang 31 kota di 22 provinsi se-Indonesia. Seperti musim sebelumnya, DBL Indonesia akan menjaring para student-athlete terbaik dari setiap kota untuk memperebutkan tiket DBL Indonesia All-Star melalui program DBL Camp.

Tak kalah seru, Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 juga menghadirkan AZA 3X3 Competition serta AQUA DBL Dance 2026-2027 dengan mengusung tema "100% Indonesia". Seluruh keseruan pertandingan bisa disaksikan secara langsung di kanal YouTube DBL Play, serta di YouTube Good Day ID khusus untuk laga final. (*)

Profil SMA ITP Surabaya bisa dilihat pada halaman di bawah ini (pengguna Android bisa melakukan scroll dengan double tap).

Comments (0)
PRESENTED BY
OFFICIAL SUPPLIERS
SUPPORTING PARTNERS