Kekalahan SMP Santa Clara Surabaya dari National Star Academy (NSA) dengan skor 22-44 pada Minggu, 23 Agustus 2026 menjadi pengalaman tersendiri bagi para student athlete di Junior DBL 2026 Surabaya. Namun, bagi Coach Halimah Saleh, pertandingan di level SMP bukan hanya tentang siapa yang keluar sebagai pemenang.
Ada hal lain yang sejak awal coba ia tanamkan kepada anak-anaknya yaitu kemampuan menguasai diri sendiri.
“Yang bikin kamu kalah itu bukan karena skill-mu, tapi karena mentalmu. Kalau kamu enggak bisa lawan dirimu sendiri, gimana kamu lawan orang lain?” tutur Halimah.
Bagi pelatih berusia 42 tahun itu, junior student athlete masih berada dalam fase belajar. Emosi mereka belum selalu stabil. Karena itu, Halimah memilih tidak membangun mental pemain dengan tekanan berlebihan.
Ia justru berusaha menjadi contoh bagi anak-anaknya.
“Saya enggak pernah marah. Saya lebih banyak ngasih tahu ke anak-anak. Main itu biasakan jangan pakai emosi,” ujarnya.
Baca juga: Mimpi Sang Ayah yang Kini Tumbuh di Perjalanan Davin
Menurut Halimah, ketenangan menjadi modal penting ketika pemain melakukan kesalahan. Ketika seorang pemain mulai kehilangan kontrol, ia tidak buru-buru memarahinya.
Halimah biasanya meminta pemain tersebut menepi dan menenangkan diri terlebih dahulu.
“Kalau dia sudah tenang, biasanya mereka yang nyamperin. Saya tanya, ‘Kamu sudah siap?’ Kalau sudah siap, baru masuk lagi,” katanya.
Cara tersebut lahir dari pengalaman panjang Halimah di dunia basket. Ia mulai berkecimpung sebagai pelatih sejak 2008. Salah satu perjalanan awalnya adalah bersama klub Sahabat, sebelum kemudian menangani sejumlah tim sekolah.
Pada 2019, Halimah pernah menangani tim putri SMP Petra 3. Setelah itu, ia menghabiskan sekitar satu dekade lebih di lingkungan SMA Little Sun, menangani tim putri sekaligus menjadi asisten untuk tim putra.
Kini, ia kembali ke jenjang SMP. Sejak November 2023, Halimah mulai menangani Santa Clara.
Kembali melatih junior student athlete membuatnya kembali berhadapan dengan karakter pemain yang masih berkembang. Terlebih, Santa Clara tidak mengambil pemain melalui jalur prestasi. Artinya, proses membangun tim harus dimulai dari kemampuan dasar dan pengalaman bertanding.
“Yang paling penting sebenarnya pengalaman tanding. Walaupun kemampuan mereka masih sedang, kalau mereka pernah ikut mini game atau pertandingan, itu lebih enak,” jelasnya.
Baca juga: Mimpi yang Belum Usai, Naila Kini Dampingi Srikandi Smansa di DBL
Namun, bagi Halimah, membangun pemain tidak berhenti di lapangan. Mental justru berawal dari kebiasaan sehari-hari.
Ia memperhatikan bagaimana pemain bersikap di sekolah, bertanggung jawab saat latihan, melakukan stretching, hingga menjalankan peran sebagai kapten.
“Kalau masalah mental, sebenarnya kembali ke attitude dulu,” tegasnya.
Halimah juga tidak ingin pemain terbiasa saling menyalahkan ketika tim melakukan kesalahan. Menurutnya, basket adalah permainan kolektif sehingga tanggung jawab pun harus dibawa bersama.
“Saya enggak pernah membebankan satu anak. Mereka harus tahu kalau ini tanggung jawab bersama,” katanya.
Prinsip tersebut juga pernah diuji dalam pengalaman Halimah menangani pertandingan sebelumnya. Ia mengaku pernah terlambat mengambil keputusan ketika dua pemainnya tersulut emosi dan melakukan tindakan yang seharusnya tidak dilakukan di lapangan.
Dari kejadian itu, Halimah belajar bahwa membentuk mental pemain juga berarti mengajarkan konsekuensi.
Baginya, pemain harus memahami bahwa tindakan mereka tidak hanya berdampak kepada diri sendiri. Ada nama sekolah dan tim yang ikut mereka bawa.
Karena itu, Halimah tidak ingin anak-anaknya tumbuh sebagai student athlete yang hanya bergantung pada arahan pelatih. Ia ingin mereka mampu mengambil kendali atas dirinya sendiri.
“Kalau kamu bisa lebih tenang, kamu jadi bisa mikir,” ujarnya.
Itulah proses yang kini coba dibangun Halimah bersama Santa Clara. Bukan sekadar membuat pemain mampu menghadapi lawan di lapangan, tetapi juga belajar menghadapi rasa kecewa, kesalahan, tekanan, dan dirinya sendiri.
Sebab, bagi Halimah, sebelum belajar mengalahkan lawan, pemain harus lebih dulu belajar menang atas dirinya sendiri.
Baca juga: Dulu Harus Netral, Kini Damas Berpihak untuk Smansa
Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 siap mengguncang 31 kota di 22 provinsi se-Indonesia. Seperti musim sebelumnya, DBL Indonesia akan menjaring para student-athlete terbaik dari setiap kota untuk memperebutkan tiket DBL Indonesia All-Star melalui program DBL Camp.
Tak kalah seru, Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 juga menghadirkan AZA 3X3 Competition serta AQUA DBL Dance 2026-2027 dengan mengusung tema "100% Indonesia". Seluruh keseruan pertandingan bisa disaksikan secara langsung di kanal YouTube DBL Play, serta di YouTube Good Day ID khusus untuk laga final. (*)
Profil pelatih ini bisa dilihat pada halaman di bawah ini (pengguna Android bisa melakukan scroll dengan double tap)