Setahun lalu, Nashwandika Adam berdiri di tengah lapangan DBL Arena dengan jersei SMPN 39 Surabaya (Spentig). Tahun ini, ia kembali ke tempat yang sama. Namun, bukan lagi sebagai pemain.
Adam kini datang sebagai alumni sekaligus siswa kelas X SMAN 5 Surabaya. Usai mengikuti kegiatan pramuka di sekolahnya, ia menyempatkan diri datang ke DBL Arena untuk menyaksikan adik-adiknya berjuang di Junior DBL 2026 Surabaya.
Pertemuan itu membawa kembali satu kenangan yang terasa familiar. Sebab, musim sebelumnya, Adam dan rekan-rekannya juga menghadapi lawan yang sama.
Kala itu, Spentig harus mengakui keunggulan IPH East dengan skor 16-33. Tahun ini, Adam kembali melihat Spentig berhadapan dengan IPH East. Hasilnya kembali belum berpihak kepada Spentig setelah mereka kalah 20-32.
Namun, kali ini Adam tidak lagi merasakan tegangnya pertandingan dari dalam lapangan. Ia hanya menyaksikan adik-adiknya berjuang dari bangku penonton.
“Jadi kayak, dulu aku juga pernah berada di posisi ini. Sekarang nonton adik-adik yang main,” ujar Adam.
Kembali merasakan atmosfer JRBL setelah setahun berlalu menjadi alasan Adam menyempatkan diri datang. Ia ingin melihat bagaimana generasi setelahnya melanjutkan perjalanan yang dulu pernah ia jalani.
“Kebetulan dulu aku juga main di JRBL musim lalu. Aku mau merasakan lagi atmosfernya di tahun ini dan mau lihat adik-adik,” tuturnya.
Meski menyaksikan hasil yang serupa dengan pengalamannya setahun lalu, Adam justru menemukan sesuatu yang berbeda dari permainan Spentig.
Menurutnya, permainan adik-adik kelasnya kini lebih baik dibandingkan ketika dirinya masih berada di dalam tim. Hal yang paling mencuri perhatiannya adalah chemistry. Adam melihat para pemain mulai menemukan koneksi satu sama lain ketika berada di lapangan.
“Chemistry mungkin. Karena chemistry tahun ini lebih dapat, lebih erat,” katanya.
Penilaiannya bukan tanpa alasan. Ia melihat permainan Spentig mulai menyatu, termasuk ketika membangun serangan dan memberikan umpan.
“Dari lihat permainannya yang mulai menyatu. Umpan dan permainannya juga bagus,” lanjut Adam.
Dari seluruh pemain yang ia saksikan, ada dua nama yang paling menarik perhatiannya yakni Razqa dan Ravendra.
Razqa memiliki cerita tersendiri bagi Adam. Keduanya pernah berada dalam lingkungan tim yang sama. Ketika Adam masih menjadi pemain Spentig, Raska yang saat itu duduk di kelas VIII sudah ikut merasakan atmosfer tim.
Adam bahkan sudah melihat karakter Razqa sejak saat itu.
“Dia mainnya ngotot, kerja keras banget,” ucapnya.
Kini, satu tahun telah mengubah posisi keduanya. Razqa masih melanjutkan perjalanannya bersama Spentig, sementara Adam telah membuka lembaran baru bersama SMAN 5 Surabaya.
Meski begitu, hubungan dengan sekolah lamanya belum benar-benar terputus. Adam masih menyempatkan diri datang ketika Spentig kembali tampil di panggung yang pernah menjadi bagian dari ceritanya.
Ada rasa bangga ketika melihat adik-adiknya meneruskan langkah yang pernah ia mulai.
“Bangga bisa melihat adik-adik meneruskan sampai ke JRBL musim ini juga,” katanya.
Setahun lalu, Adam meninggalkan DBL Arena sebagai pemain Spentig setelah perjalanan mereka terhenti di babak pertama. Tahun ini, ia kembali ke tempat yang sama dengan peran berbeda.
Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 siap mengguncang 31 kota di 22 provinsi se-Indonesia. Seperti musim sebelumnya, DBL Indonesia akan menjaring para student-athlete terbaik dari setiap kota untuk memperebutkan tiket DBL Indonesia All-Star melalui program DBL Camp.
Tak kalah seru, Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 juga menghadirkan AZA 3X3 Competition serta AQUA DBL Dance 2026-2027 dengan mengusung tema "100% Indonesia". Seluruh keseruan pertandingan bisa disaksikan secara langsung di kanal YouTube DBL Play, serta di YouTube Good Day ID khusus untuk laga final. (*)