Suha Nabiila Praytina sudah mengenal olahraga sejak kecil. Sejak kelas III SD, ia menekuni Tapak Suci dan terbiasa mengikuti pertandingan pencak silat.
Namun, perjalanan itu harus berhenti ketika ia masuk SMA. Latihan Tapak Suci yang bisa berlangsung hingga malam membuat orang tuanya tidak memberikan restu untuk melanjutkan.
“Saya sudah mikir dari kelas IX kalau SMA enggak bisa lanjut Tapak Suci. Saya orangnya aktif gerak. Enggak bisa kalau enggak ikut olahraga. Kalau enggak ikut olahraga rasanya itu sakit,” ujar Suha.
Basket kemudian menjadi pilihan.
Baca juga: Tak Selalu Berawal dari Mimpi Besar, Perjalanan Shazia Dimulai dari Teman
Sebenarnya, Suha pernah mencoba basket saat SMP. Baru sekali latihan, pelatih sudah mengajaknya mengikuti turnamen. Sayangnya, jadwal pertandingan tersebut berbenturan dengan agenda Tapak Suci.
Baru ketika kelas X, Suha benar-benar berpindah ke basket.
Ia harus membiasakan diri dengan sesuatu yang berbeda. Meski sudah bertahun-tahun berlatih olahraga, memegang dan mengontrol bola basket menjadi tantangan baru baginya.
“Awalnya susah karena saya enggak biasa pegang bola. Dari yang enggak memegang bola jadi harus memegang bola. Kontrolnya beda. Harus punya jam terbang,” katanya.
Ball handling menjadi salah satu bagian yang paling ia rasakan. Kemampuan itu bahkan masih terus ia latih sampai sekarang.
“Kalau mau drive, kadang bolanya masih lepas. Jadi memang masih proses belajar. Sampai sekarang pun saya masih belajar handling,” tutur Suha.
Di tengah proses tersebut, Suha melihat teman-temannya sudah lebih dahulu memiliki dasar basket. Ia sempat bertanya-tanya apakah dirinya mampu mengejar ketertinggalan itu.
“Hitungannya saya itu berjuang dari nol. Saya takut karena teman-teman sudah ada di atas. Saya takut enggak ada yang mau bantu,” ungkapnya.
Baca juga: Misi Revans Tuntas, Putri Smansa Gresik Melaju ke Round 2!
Kekhawatiran itu terjawab ketika rekan setim justru ikut membantunya mempelajari fundamental. Suha mendapat masukan untuk lebih fokus melatih ball handling dan mencari referensi latihan yang bisa ia pelajari sendiri.
“Teman-teman mau bantu fundamental. Kadang saya dikasih saran buat fokus di ball handling dulu. Bisa lihat latihan di Instagram atau di mana. Jadi saya coba pelajari,” jelasnya.
Tetapi, semakin lama bermain basket, Suha menyadari ada hal lain yang harus ia ubah selain kemampuan mengontrol bola.
Tapak Suci membiasakannya menghadapi pertandingan sebagai individu. Sementara basket mempertemukannya dengan empat pemain lain yang memiliki posisi dan tanggung jawab masing-masing.
Perubahan itu paling terasa ketika ia pertama kali bermain lima lawan lima.
“Waktu pertama kali main lima lawan lima, rasanya pengin semua saya ambil. Bola di mana, saya di sana. Dulu saya pikir kalau bola harus ada di tim kita, ya saya harus ambil,” kenangnya.
Baca juga: Impian dari SD, Nadhif Akhiri Musim Debut dengan Kemenangan Manis
Kini, cara berpikir itu mulai berubah. Suha tidak lagi merasa harus berada di setiap tempat yang didatangi bola.
“Kalau sekarang sudah ngerti jaga, ngerti bantu, dan enggak harus ke bola semua,” katanya.
Bagi Suha, memahami peran menjadi bagian penting dari prosesnya beradaptasi.
“Kalau sendiri, berarti tergantung saya sama coach. Tapi kalau tim, setiap anak punya perannya beda-beda. Jadi harus kerja sama. Itu yang sulit, karena awalnya cuma fokus sendiri, sekarang harus bisa bagi peran,” ujar Suha.
Bekal dari Tapak Suci tetap ia bawa ke lapangan. Fisik yang terbentuk dari latihan pencak silat membuatnya merasa lebih kuat ketika bertahan.

Suha Nabiila Praytina menjadi juara pertama O2SN cabang olahraga pencak silat tanding putri tingkat Kabupaten Gresik, 27 Juni 2023.
“Kalau menurut saya, saya memang unggul di defense karena dari Tapak Suci. Mungkin fisiknya sudah kebangun. Tapi kalau offense itu masih kurang,” tuturnya.
Dua tahun menjalani basket membuat Suha mulai menemukan alasan untuk tetap bertahan di olahraga tersebut. Bukan hanya karena ia masih ingin berkembang, tetapi karena sekarang ia menikmati proses yang dijalani bersama orang lain.
“Seru karena awalnya kan sendiri, latihan itu individu. Sekarang harus seperti bareng-bareng. Jadi ada yang kasih masukan. Kita bisa belajar sama-sama,” katanya.
Baca juga: Bunga Lawan Cedera Ankle demi Membela Putri Sekawan!
Ia masih ingin memperbaiki ball handling dan offense. Namun, basket kini tidak lagi terasa seperti sekadar pilihan setelah Tapak Suci berhenti.
Suha ingin terus bermain jika mendapat kesempatan.
Dari Tapak Suci, ia membawa keberanian untuk mengandalkan kemampuan sendiri. Dari basket, ia belajar bahwa kemampuan itu tidak selalu harus digunakan untuk mengambil semuanya.
Ada saatnya menjaga. Ada waktunya membantu. Ada pula momen untuk memberi ruang kepada rekan setim.
Bagi Suha, di situlah arti peran mulai terasa bukan tentang seberapa sering bola berada di tangannya, tetapi tentang bagaimana ia bisa tetap berarti ketika bermain bersama.
Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 siap mengguncang 31 kota di 22 provinsi se-Indonesia. Seperti musim sebelumnya, DBL Indonesia akan menjaring para student-athlete terbaik dari setiap kota untuk memperebutkan tiket DBL Indonesia All-Star melalui program DBL Camp.
Tak kalah seru, Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 juga menghadirkan AZA 3X3 Competition serta AQUA DBL Dance 2026-2027 dengan mengusung tema "100% Indonesia". Seluruh keseruan pertandingan bisa disaksikan secara langsung di kanal YouTube DBL Play, serta di YouTube Good Day ID khusus untuk laga final. (*)
Profil Suha Nabiila Praytina bisa kalian cek di bawah ini (pengguna Android bisa melakukan scroll dengan double tap).
Profil SMAN 1 Manyar Gresik bisa kalian cek di bawah ini (pengguna Android bisa melakukan scroll dengan double tap).