Yogishwara, Murid Legenda Basket Bali yang Merantau ke Depok!

| Penulis : 

Jumat, 11 September 2026 menjadi hari yang sangat berarti untuk I Gede Yogishwara Sathya Radja, salah satu pemain SMA PSKD VII Depok.

Cowok yang akrab disapa Yogi itu menjalani laga debutnya di panggung DBL West Java-West 2026. Sebelum resmi bertanding di lapangan, ada sejumlah pregame routine yang ia lakukan terlebih dahulu. 

Setelah bangun dari istirahat 7 sampai 8 jam pada malam harinya, Yogi melakukan gerakan squad untuk mempersiapkan kakinya. Umumnya 10 repetisi dalam 2 set

Setelah itu, pemain bertinggi badan 186 cm itu akan pergi ke tempat ibadah untuk mengucap syukur dan memohon perlindungan saat menjalani laga. 

Kemudian, karena Yogi dan SMA PSKD VII Depok bermain pada pukul 18.00 WIB, ia memutuskan untuk tidur siang selama 1,5 jam. Dengan demikian, ia dapat berdiri di lapangan dengan energi penuh, baik secara jasmani maupun rohani.

Yogi berkomitmen untuk memberikan semua yang ia miliki di lapangan bagaimana pun caranya. Sebab, debutnya di panggung DBL ini bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi untuk seluruh keluarga dan pelatih di Pulau Dewata yang telah membentuk dan setia mendukungnya.

Baca juga: Karimah dan Hadaya, Si Kembar yang Setia Membela Smavo di DBL!

Ya, Yogi lahir dan dibesarkan di Bali. Kini, ia memilih untuk merantau ke Kota Depok untuk menggapai mimpinya dalam olahraga bola basket. Ia tinggal sendirian di rumah kontrakannya.

Perjalanan Yogi hingga mencapai titik ini pun penuh dengan perjuangan dan tantangan. Jauh sebelum tampil perkasa di lapangan, ia sebenarnya diragukan banyak orang saat menduduki bangku kelas VII SMP.

“Dulu hampir sempat gak ikut basket karena tinggi badan aku yang kurang bagus untuk bermain basket. Dulu banyak omongan kalau basket itu harus tinggi atau segala macam,” cerita Yogi.

Bagaimanapun, keraguan itu berakhir dengan cepat. Saat naik kelas VIII SMP, tinggi badan Yogi mengalami pertumbuhan drastis. Awalnya 169 cm, ia langsung tercatat memiliki tinggi badan 176 cm.

Tanpa berlama-lama, Yogi langsung bertekad untuk fokus basket karena ia merasa memiliki potensi yang berarti di olahraga ini. Ia akhirnya bergabung dengan salah satu klub di sana. Sedikit yang Yogi tahu, ia akan bertemu dengan sosok yang akan mengubah hidupnya selamanya.

Adalah Coach Tri Adyana Adiloka. Ia bukan sekedar pendiri klub basket tersebut, tetapi juga salah satu legenda basket Indonesia. Ia sempat membela Aspac Basketball dan Mitra Kalila di level profesional sebelum akhirnya pensiun pada 2005.

Kehadiran Coach Tri akhirnya membuat Yogi semakin semangat menjalani setiap sesi latihan. Yogi ingin menjadi sepertinya. Membawa bangga basket Bali ke tingkat yang lebih tinggi.

Baca juga: Hasil DBL West Java-West: Putra Smantic dan PSKD VII Menang Meyakinkan!

Coach Tri sendiri sungguh mengenal potensi, kelebihan, dan kekurangan setiap anak didiknya, termasuk Yogi. Setiap pola atau drill dijelaskan secara detail. Ia pun sering memberikan semangat dalam bentuk candaan, sehingga Yogi dapat bermain lebih rileks.

Bukan hanya itu, karena Yogi memiliki postur yang besar, Coach Tri juga sering menyampaikan satu pesan yang selalu ia ingat. “Jangan pernah mau di box out sama lawan atau di depanin lawan. Kalau bisa dihajar, hantam saja!” tegas Coach Tri kepada Yogi.

Seiring berjalannya waktu, kemampuan Yogi di lapangan akhirnya semakin terasah. Dengan begitu, potensinya semakin besar untuk menjadi pemain yang hebat. 

Setelah berbincang dengan orang-orang di sana, Yogi akhirnya tertarik untuk belajar lebih banyak dan menggapai mimpi di Pulau Jawa. 

Bagaimanapun, hal tersebut sempat hanya menjadi angan-angan. Sebab, ada banyak hal yang harus dipertimbangkan oleh Yogi, salah satunya adalah kondisi finansial. 

Baca juga: Dari Bogor hingga Depok, Tiga Tim Bawa Ragam Nusantara di AQUA DBL Dance

Pada saat yang bersamaan, tante dari Yogi pun menyadari bahwa peluang ini tidak boleh disia-siakan. Ia akhirnya berkomitmen untuk memfasilitasi segala hal yang Yogi butuhkan untuk pergi merantau.

“Salah satu yang paling berjasa yaitu tante aku. Dia ingin membantu aku agar aku bisa mengambil kesempatan tersebut, yang mana biaya untuk kesananya lumayan besar,” cerita Yogi.

I Gede Yogishwara Sathya Radja bersama pelatihnya di Honda DBL with Kopi Good Day 2026 West Java-West

Sesampainya di Depok, perjalanan Yogi tidak selamanya berjalan mulus. Sebagai anak rantau, ia awalnya kesulitan untuk beradaptasi dengan kebudayaan di sana.

“Jujur kaget sih. Soal makanan kayak beda rasa gitu. Berbaur dengan orang-orang di sini juga logatnya kadang-kadang keluar sendiri. Biasanya ada suara khas alat musik Bali kalau sudah jam 12 siang atau 6 sore, sekarang suara masjid,” ujar Yogi.

Yogi pun harus belajar untuk hidup mandiri lebih awal. Aktivitas sehari-hari seperti mencuci baju dan bersih-bersih rumah kontrakan harus ia lakukan sendirian. Tidak jarang juga ia merasa rindu dengan keluarganya di Bali.

“Udah hampir setahun kurang belum balik ke Bali,” katanya.

Baca juga: GPS Bekasi hingga SMAN 2 Cibinong Ramaikan AQUA DBL Dance 2026 West Java-West

Kendati demikian, Yogi tetap bersikeras untuk fokus terhadap tujuannya. Ia selalu berjuang untuk berkembang menjadi pemain yang lebih baik setiap hari. Seiring berjalannya waktu, berbagai prestasi berhasil ia raih baik bersama sekolah, klub barunya, maupun bersama tim Kota Depok.

Yogi sendiri merasa SMA PSKD VII Depok merupakan tempat yang cocok untuknya. “Mereka semua sangat semangat kalau ada latihan dan pertandingan,” ujarnya.

Lingkungan yang berorientasi ke depan berhasil membuat semangat Yogi semakin berapi-api. Sayang, ternyata ia masih harus menunggu lebih lama lagi untuk bermain di panggung bergengsi. Pada saat itu. Ketika menduduki bangku kelas X, ia masih belum bisa membela tim sekolahnya di DBL West Java-West.

“Saat itu aku sempat down. Aku kayak pengin banget berhenti basket dan lain-lain,” ingat Yogi.

Bagaimanapun, momen seperti inilah yang membangun mental dan jiwa pemenang yang ada dalam diri Yogi. Tidak ingin mengecewakan kedua orangtua dan keluarga besar, ia bangkit dan terus berjuang agar performanya bisa mencapai level berikutnya.

Baca juga: Hasil AZA 3X3 Competition West Java-West: Juara Bertahan Tampil Perkasa!

Dalam laga debutnya di DBL West Java-West, Yogi langsung tidak berlama-lama untuk memberikan serangan. Free throw yang berhasil ia masukkan dengan sisa waktu 8 menit 47 detik menjadi pembuka pertandingan. Sorakan para penonton dan suporter di GOR Pajajaran Kota Bogor jadi semakin lantang. 

“Jujur asik banget. DBL kan event terbesar untuk jenjang SMA. Sistemnya juga gugur jadi bikin deg-degan banget,” tutur Yogi.

Momen kebersamaan tim putra, tim dance, beserta seluruh suporter SMA PSKD VII Depok di Honda DBL with Kopi Good Day 2026 West Java-West

Yogi akhirnya menyudahi pertandingan tersebut dengan 7 rebound dan 2 blok. Posturnya yang besar sukses dimanfaatkan secara maksimal di sisi bertahan.

Berkaca dari hasil permainan ini, Yogi ingin fokus untuk meningkatkan permainannya di sisi menyerang, seperti under ring dan free throw

Selain dalam sesi latihan rutin bersama tim, ia juga akan meluangkan lebih banyak waktu untuk memaksimalkan aksinya di lapangan secara mandiri.

“Seperti lari pagi, terus nembak-nembak bola saat pagi sebelum sekolah juga,” tutup Yogi.

Kehidupan merantau memang mewajibkan Yogi untuk melakukan semuanya sendiri. Akan tetapi, di dalam dirinya, ada orangtua, keluarga besar, dan Coach Tri yang selalu menemani.

Bahkan, pesan dari almarhum kakek juga selalu Yogi ingat di mana pun ia berada. 

"Bakat hanya membawamu sampai ke pintu gerbang, tetapi kedisiplinan yang akan membawamu masuk dan menjadi juara."

Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 siap mengguncang 31 kota di 22 provinsi se-Indonesia. Seperti musim sebelumnya, DBL Indonesia akan menjaring para student-athlete terbaik dari setiap kota untuk memperebutkan tiket DBL Indonesia All-Star melalui program DBL Camp. 

Tak kalah seru, Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 juga menghadirkan AZA 3X3 Competition serta AQUA DBL Dance 2026-2027 dengan mengusung tema "100% Indonesia". Seluruh keseruan pertandingan bisa disaksikan secara langsung di kanal YouTube DBL Play, serta di YouTube Good Day ID khusus untuk laga final. (*)

Baca juga: Dulu Kapten Tim Basket, Sekarang Jessica Debut di AQUA DBL Dance!

Populer

Yogishwara, Murid Legenda Basket Bali yang Merantau ke Depok!
Hasil DBL East Java-North: Putri Castle Menang Dramatis di Round 2!
Hasil DBL Central Jakarta: Langkah Debutan Terhenti, Boedoet Lolos dari Tekanan
To The Future: Bryan Aditya Pilih Jurusan Otomotif di Jerman
Keluarga Basket, Orang Tua Caitlyn Graciella Ternyata Mantan Pemain Timnas